FITNESS & HEALTH

Pengidap Miom dan Kista Bisa Promil hingga Tak Angkat Rahim, Ini Caranya

Aulia Putriningtias
Selasa 18 Agustus 2026 / 20:50
Ringkasnya gini..
  • Bagi para wanita, salah satu ketakutan besar adalah memiliki miom dan kista.
  • Kecanggihan teknologi zaman kini membuat orang-orang pengidap miom dan kista memiliki harapan besar dalam program kehamilan. 
  • Pada saat ini, telah hadir bedah robotik yang bisa membantu wanita tak lagi kehilangan harapan untuk rencana kehamilan.
Jakarta: Bagi para wanita, salah satu ketakutan besar adalah memiliki miom dan kista. Kedua masalah ini disebut bisa berujung angkat rahim dan tidak memiliki anak. Padahal, salah banget!

Kecanggihan teknologi zaman kini membuat orang-orang pengidap miom dan kista memiliki harapan besar dalam program kehamilan. Mereka tak akan lagi dihadapkan ketakutan angkat rahim.

Miom (atau mioma uteri/fibroid) sendiri adalah tumor atau benjolan jinak yang tumbuh di dalam atau pada dinding rahim. Benjolan ini terbentuk dari jaringan otot rahim dan bukan merupakan penyakit kanker

Sementara itu, kista adalah benjolan berbentuk kantong yang dikelilingi oleh jaringan membran. Jaringan ini berisi cairan, udara, nanah, atau bahan setengah padat lainnya.

Menurut dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, MSc (HumRepro), MIGS selaku Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital MT Haryono, miom atau kista membesar memang akan memperhambat rencana kehamilan seorang wanita.

Pada saat ini, telah hadir bedah robotik yang bisa membantu wanita tak lagi kehilangan harapan untuk rencana kehamilan. Teknologi ini menggunakan robotik Da Vinci Xi.

Teknik bedah ini adalah bentuk operasi minimal invasif yang inovatif di bidang ginekologi. Prosedur ini menggunakan instrumen robotik yang sepenuhnya dikendalikan oleh dokter bedah melalui konsol khusus.



"Pilihan prosedur tetap harus ditentukan berdasarkan ukuran, jumlah, dan lokasi miom atau kista, kondisi kesehatan pasien, serta rencana kehamilan," papar dr. Sita dalam diskusi media di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.

Beberapa keunggulan utama bedah robotik meliputi presisi tingkat tinggi, fleksibilitas lengan robot sayatan lebih kecil dan bekas luka minimal, potensi nyeri dan perdarahan lebih rendah, serta pemulihan relatif cepat.

Sayatan yang dibuat juga relatif kecil yang mana bekas luka dapat diminimalkan. Meski lebih presisi, biaya bedah robotik umumnya lebih tinggi dibandingkan operasi terbuka maupun laparoskopi konvensional.

Sistem kamera 3D membantu dokter melihat area operasi dengan pembesaran dan gambaran yang lebih jelas. Ini dapat membantu dokter melihat struktur anatomi secara lebih detail. Dengan hanya memerlukan beberapa sayatan kecil, bekas luka menjadi minimal.

"Jika pasien didiagnosis memiliki miom, kista berukuran besar atau disarankan menjalani operasi angkat rahim dan ingin mendapatkan pendapat medis kedua atausecond opinion maka teknologi bedah robotik bisa jadi pilihan," jelas dr. Sita.

Lantas apakah program kehamilannya akan berbeda ketika sudah dilakukan operasi dengan bedah robotik ini? Menurut dr. Sita, tidak ada perbedaan dalam program kehamilan.

"Biasanya kita sarankan untuk menunggu pemulihan. Paling tidak tiga bulan pasca operasi, atau bisa enam bulan. Tergantung kondisinya saat itu," ungkapnya.

"Namun, selama ini tidak ada perbedaan untuk memulai program hamil," lanjutnya.

Sebelum dilakukannya operasi ini, pasien dipastikan melakukan beberapa pemeriksaan diagnostik, skrining kesehatan pra-operasi, prosedur pembedahan dan rawat inap sesuai dengan kondisi setiap pasien.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH