Kucing. DOK Pexels
Kucing. DOK Pexels

Waspada Toxoplasma Gondii, Parasit Kucing yang Menginfeksi Sepertiga Populasi Manusia di Dunia

Renatha Swasty • 02 Februari 2026 09:37
Ringkasnya gini..
  • Parasit bernama Toxoplasma gondii ternyata tidak sepenuhnya tak aktif seperti yang selama ini dipercaya oleh para ilmuwan.
  • Toxoplasma gondii menciptakan kista dalam jaringan otak, jantung, dan otot manusia, di mana ia dapat tinggal seumur hidup.
  • Temuan ini membuka peluang baru untuk pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran.
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom mendengar tentang parasit yang hidup permanen di otak jutaan manusia? Parasit bernama Toxoplasma gondii ini ternyata tidak sepenuhnya tak aktif seperti yang selama ini dipercaya oleh para ilmuwan.
 
Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh jurnal Nature Communications menunjukkan parasit otak ini memiliki aktivitas tingkat rendah bahkan selama infeksi jangka panjang. Melansir laman Science Alert, peneliti dari University of California, Riverside (UCR) baru-baru ini menemukan bukti reaktivasi T. gondii tingkat rendah di otak tikus, bahkan selama infeksi jangka panjang.
 
Hal yang perlu diketahui lainnya yaitu parasit ini menciptakan kista dalam jaringan otak, jantung, dan otot manusia, di mana ia dapat tinggal seumur hidup. Lantas, bagaimana parasit ini bekerja di dalam otak dan apa dampaknya bagi kesehatan? Simak selengkapnya di bawah ini:

Fakta tentang Toxoplasma gondii

Saat ini, lebih dari sepertiga populasi manusia di dunia terinfeksi oleh Toxoplasma gondii, parasit yang menyerang otak dan berkembang biak pada kucing dengan tikus dan hewan lain bertindak sebagai inang perantara. Meski patogen ini sering berakhir pada manusia yang sehat, setelah kontak dengan kotoran kucing atau daging mentah, infeksi biasanya tidak menimbulkan gejala.

Tanpa disadari inangnya, parasit dapat membentuk kista di jaringan otak, jantung, dan otot manusia. Di dalam kista tersebut, parasit dapat bertahan seumur hidup dan tampak tidak aktif hingga pertahanan sistem kekebalan tubuh melemah. Namun, tampaknya ada sesuatu yang terjadi di dalam kista ini.
 
Hingga saat ini, diasumsikan setiap kista kecil hanya mengandung satu jenis T. gondii yang tidak aktif. Namun, peneliti di UCR telah menggunakan sekuensing RNA sel tunggal untuk mengungkapkan beberapa subtipe yang semuanya bersembunyi bersama di otak hewan uji mereka.
   

Temuan penelitian tentang parasit otak

Pada tikus setidaknya, parasit tampaknya berkumpul dalam lima bentuk berbeda. Berbagai bentuk T. gondii ini berkembang dan tumbuh dengan cara berbeda dan pada tingkat berbeda.
 
Peneliti Biomedis dari UCR, Emma Wilson, menjelaskan setelah beberapa hari pertumbuhan di laboratorium, beberapa subtipe bahkan dapat mendekati tahap yang terkait dengan aktivitas yang diperbarui
 
"Kami menemukan bahwa kista bukan hanya tempat persembunyian yang tenang, tetapi juga pusat aktif dengan berbagai jenis parasit yang diarahkan untuk bertahan hidup, menyebar, atau aktif kembali," kata Wilson dikutip Senin, 2 Februari 2026. 
 
Dia mengatakan pekerjaanya dapat mengubah cara kita berpikir tentang kista Toxoplasma. Wilson menjelaskan penelitian ini membingkai ulang kista sebagai titik kontrol pusat dari siklus hidup parasit.
 
"Ini menunjukkan kepada kita ke mana harus mengarahkan perawatan baru. Jika kita benar-benar ingin mengobati toksoplasmosis, kista adalah tempat yang harus difokuskan," ujar dia. 

Dampak parasit terhadap kesehatan

Selain itu, ada beberapa dampak terhadap kesehatan ketika seseorang terinfeksi parasit ini. Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh T. gondii pada manusia yang dapat menyebabkan penyakit mirip flu dengan gejala psikiatris. Dampak tersebut meliputi beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, antara lain:
  1. Toksoplasmosis biasanya terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
  2. Infeksi ini kadang-kadang memicu kejang atau masalah penglihatan
  3. Pengobatan antiparasit dapat membantu, tetapi menangani penyakit aktif dan bentuk tidak aktif memerlukan obat yang berbeda
  4. Dengan mengidentifikasi subtipe parasit yang berbeda di dalam kista, penelitian ini menunjukkan mana yang paling mungkin untuk reaktivasi dan menyebabkan kerusakan
Apabila sistem kekebalan tubuh melemah, parasit yang tampaknya tidak aktif ini dapat kembali aktif dan menyebabkan masalah kesehatan. "Ini membantu menjelaskan mengapa upaya pengembangan obat di masa lalu mengalami kesulitan dan menyarankan target baru yang lebih tepat untuk terapi masa depan," kata Wilson.
 
Lalu, apa yang ditemukan dalam penelitian terbaru ini? Yuk simak berikut ini.

Temuan baru tentang siklus hidup parasit

Di otak tikus yang terinfeksi secara kronis (selama 28 hari) dengan T. gondii, Wilson dan rekan-rekannya menemukan kista mengandung keragaman subtipe parasit lebih besar ketimbang pada tahap akut. Berikut temuan yang bisa dijelaskan:
  1. Pada minggu pertama infeksi, parasit tampaknya beralih ke tahap pertumbuhan yang lebih cepat
  2. Setelah itu mereka beralih ke fase pertumbuhan yang lebih lambat dan bentuk yang mempertahankan kista
  3. Bentuk pematangan linier dan bertahap, kata para peneliti, tidak mungkin terjadi.
  4. Ini berarti pemahaman kita tentang infeksi parasit ini perlu diperbarui.
Dengan mengikuti perkembangan penelitian ini, para ilmuwan berharap dapat menemukan cara yang lebih efektif untuk mengobati toksoplasmosis.

Pemahaman baru terhadap Toxoplasma

Penelitian ini memberikan pemahaman baru yang penting tentang siklus hidup parasit. "Selama beberapa dekade, siklus hidup Toxoplasma dipahami dalam istilah yang terlalu sederhana," kata Wilson. "Penelitian kami menantang model itu."
 
Temuan ini membuka peluang baru untuk pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran. Parasit yang sebelumnya dianggap sepenuhnya tidak aktif ternyata memiliki berbagai subtipe dengan tingkat aktivitas berbeda-beda. Hal ini menjawab kenapa pengobatan masa lalu sering mengalami kesulitan.
 
Berikutnya, dengan memahami kista bukan hanya tempat persembunyian pasif tetapi merupakan pusat kontrol aktif, peneliti dapat mengembangkan strategi pengobatan yang lebih efektif untuk mengatasi toksoplasmosis di masa depan.
 
"Dengan mengidentifikasi berbagai subtipe parasit di dalam kista, studi kami menunjukkan dengan tepat mana yang paling mungkin untuk reaktivasi dan menyebabkan kerusakan. Ini menunjukkan kepada kita ke mana harus mengarahkan perawatan baru," jelas Wilson. (Bramcov Stivens Situmeang)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan