FITNESS & HEALTH
Tak Cuma Latihan, Strategi Nutrisi Jadi Kunci Pelari Tetap Prima hingga Garis Finis
A. Firdaus
Jumat 19 Juni 2026 / 15:13
- Ada satu faktor yang tak kalah penting untuk menjaga performa sekaligus kesehatan tubuh, yakni strategi nutrisi selama berlari.
- Pada olahraga endurance atau ketahanan, tubuh akan menguras cadangan energi dalam jumlah besar.
- Saat berlari dalam durasi panjang, tubuh menggunakan glikogen sebagai sumber bahan bakar utama.
Jakarta: Popularitas olahraga lari yang terus meningkat membuat semakin banyak masyarakat mengikuti ajang 10K, half marathon, hingga marathon. Namun, di balik persiapan fisik dan latihan rutin, ada satu faktor yang tak kalah penting untuk menjaga performa sekaligus kesehatan tubuh, yakni strategi nutrisi selama berlari.
Pada olahraga endurance atau ketahanan, tubuh akan menguras cadangan energi dalam jumlah besar. Ketika simpanan glikogen mulai menurun, pelari berisiko mengalami penurunan stamina, mudah lelah, hingga gagal mempertahankan performa hingga garis finis.
Group Head of Marketing & Media Activation KALBE Consumer Health, Arwin Nugraha Hutasoit, mengatakan pemenuhan nutrisi selama race menjadi bagian penting untuk membantu pelari tetap dapat menyelesaikan lomba dalam kondisi optimal.
"Pada aktivitas seperti marathon, half marathon, maupun 10K, tubuh mengalami pengurasan energi yang cukup besar. Asupan karbohidrat tambahan selama berlari dapat membantu menjaga stamina, memperlambat kelelahan, dan membantu pelari mempertahankan performa hingga garis finis," ujar Arwin.
Ajang BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang diikuti 45.500 pelari menjadi gambaran meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari. Namun, semakin panjang jarak yang ditempuh, semakin besar pula kebutuhan energi yang harus dipenuhi.
Saat berlari dalam durasi panjang, tubuh menggunakan glikogen sebagai sumber bahan bakar utama. Jika cadangan ini habis, pelari dapat mengalami kondisi yang dikenal sebagai "hitting the wall", yaitu saat tubuh kehilangan tenaga secara drastis dan performa menurun.
Karena itu, konsumsi karbohidrat tambahan selama berlari kini menjadi bagian penting dalam strategi olahraga endurance.
Salah satu produk yang banyak digunakan pelari adalah energy gel. Produk ini dirancang untuk memberikan tambahan karbohidrat yang cepat diserap tubuh sehingga membantu mempertahankan pasokan energi selama aktivitas berlangsung.
Dalam setiap sachet 50 ml, energy gel EJ Sport mengandung sekitar 120 hingga 140 kilokalori yang berasal dari 30 gram karbohidrat fungsional. Formulanya menggunakan kombinasi maltodekstrin dan dekstrosa yang membantu menyediakan energi secara cepat sekaligus lebih stabil.
Selain karbohidrat, produk tersebut juga dilengkapi L-Carnitine serta vitamin B3, B5, dan B6 yang berperan mendukung metabolisme energi saat tubuh melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi.
Menurut Arwin, konsumsi nutrisi olahraga sebaiknya disesuaikan dengan durasi dan intensitas aktivitas fisik.
Energy gel umumnya dianjurkan dikonsumsi sekitar 15 menit sebelum perlombaan dimulai. Setelah itu, asupan dapat diulang setiap 45 hingga 60 menit selama aktivitas berlangsung, tergantung kebutuhan masing-masing individu.
Meski demikian, strategi nutrisi tidak hanya ditentukan oleh produk yang dikonsumsi. Pelari juga tetap perlu menjaga asupan makanan sehari-hari, kecukupan cairan, serta melakukan latihan yang teratur agar tubuh siap menghadapi aktivitas endurance.
Seiring berkembangnya budaya lari di Indonesia, kebutuhan nutrisi olahraga kini tidak lagi identik dengan atlet elite. Masyarakat yang aktif berolahraga, termasuk pelari rekreasional dan komunitas lari urban, juga mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan energi agar tubuh tetap sehat dan performa tetap optimal.
Dengan strategi nutrisi yang tepat, olahraga lari tidak hanya membantu meningkatkan kebugaran, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Pada olahraga endurance atau ketahanan, tubuh akan menguras cadangan energi dalam jumlah besar. Ketika simpanan glikogen mulai menurun, pelari berisiko mengalami penurunan stamina, mudah lelah, hingga gagal mempertahankan performa hingga garis finis.
Group Head of Marketing & Media Activation KALBE Consumer Health, Arwin Nugraha Hutasoit, mengatakan pemenuhan nutrisi selama race menjadi bagian penting untuk membantu pelari tetap dapat menyelesaikan lomba dalam kondisi optimal.
"Pada aktivitas seperti marathon, half marathon, maupun 10K, tubuh mengalami pengurasan energi yang cukup besar. Asupan karbohidrat tambahan selama berlari dapat membantu menjaga stamina, memperlambat kelelahan, dan membantu pelari mempertahankan performa hingga garis finis," ujar Arwin.
Cadangan energi tubuh bisa habis saat berlari jarak jauh
Ajang BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang diikuti 45.500 pelari menjadi gambaran meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari. Namun, semakin panjang jarak yang ditempuh, semakin besar pula kebutuhan energi yang harus dipenuhi.
Saat berlari dalam durasi panjang, tubuh menggunakan glikogen sebagai sumber bahan bakar utama. Jika cadangan ini habis, pelari dapat mengalami kondisi yang dikenal sebagai "hitting the wall", yaitu saat tubuh kehilangan tenaga secara drastis dan performa menurun.
Karena itu, konsumsi karbohidrat tambahan selama berlari kini menjadi bagian penting dalam strategi olahraga endurance.
Energy Gel jadi sumber energi praktis
Salah satu produk yang banyak digunakan pelari adalah energy gel. Produk ini dirancang untuk memberikan tambahan karbohidrat yang cepat diserap tubuh sehingga membantu mempertahankan pasokan energi selama aktivitas berlangsung.
Dalam setiap sachet 50 ml, energy gel EJ Sport mengandung sekitar 120 hingga 140 kilokalori yang berasal dari 30 gram karbohidrat fungsional. Formulanya menggunakan kombinasi maltodekstrin dan dekstrosa yang membantu menyediakan energi secara cepat sekaligus lebih stabil.
Selain karbohidrat, produk tersebut juga dilengkapi L-Carnitine serta vitamin B3, B5, dan B6 yang berperan mendukung metabolisme energi saat tubuh melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi.
Kapan Energy Gel sebaiknya dikonsumsi?
Menurut Arwin, konsumsi nutrisi olahraga sebaiknya disesuaikan dengan durasi dan intensitas aktivitas fisik.
Energy gel umumnya dianjurkan dikonsumsi sekitar 15 menit sebelum perlombaan dimulai. Setelah itu, asupan dapat diulang setiap 45 hingga 60 menit selama aktivitas berlangsung, tergantung kebutuhan masing-masing individu.
Meski demikian, strategi nutrisi tidak hanya ditentukan oleh produk yang dikonsumsi. Pelari juga tetap perlu menjaga asupan makanan sehari-hari, kecukupan cairan, serta melakukan latihan yang teratur agar tubuh siap menghadapi aktivitas endurance.
Nutrisi olahraga kini tak Hanya untuk atlet profesional
Seiring berkembangnya budaya lari di Indonesia, kebutuhan nutrisi olahraga kini tidak lagi identik dengan atlet elite. Masyarakat yang aktif berolahraga, termasuk pelari rekreasional dan komunitas lari urban, juga mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan energi agar tubuh tetap sehat dan performa tetap optimal.
Dengan strategi nutrisi yang tepat, olahraga lari tidak hanya membantu meningkatkan kebugaran, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)