FITNESS & HEALTH

Hipertensi dapat Memicu Stroke, Ini Cara Mencegahnya

Yuni Yuli Yanti
Jumat 02 September 2022 / 07:00
Jakarta: Menurut World Health Organization (WHO) pada 2021 terdapat 1,4 miliar penduduk dunia hidup dengan hipertensi dan hanya 14 persen yang memiliki tekanan darah terkontrol. 

Hipertensi sendiri merupakan penyakit kronik yang tidak bisa disembuhkan. Jika tekanan darah seseorang sudah mencapai target bukan berarti dia sembuh, tapi terkontrol. Kalau sudah terkontrol maka diharapkan bisa menghindari komplikasinya, salah satunya kerusakan otak seperti stroke. 

Sayangnya, banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita tekanan darah tinggi karena seringkali tidak adanya gejala. Padahal tak sedikit stroke tiba-tiba muncul dipicu karena hipertensi, namun si penderita tidak pernah tahu bahwa dirinya memiliki hipertensi. Oleh karenanya, hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap atau 'silent killer'.

"Hipertensi merupakan faktor risiko utama kejadian stroke. Setiap kenaikan tekanan darah sistolik 2 mmHg akan meningkatkan risiko stroke 10 persen pada orang dewasa. Hipertensi sendiri ditemukan pada 64-70 persen kasus stroke, ujar dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, Dokter Spesialis Saraf RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dalam acara virtual media briefing, Rabu (31/8). 

Menurut dr. Eka, secara mekanisme tekanan darah tinggi pada dasarnya menyebabkan kerusakan sel dinding pembuluh darah (sel endotel) dan mengganggu fungsi dari otot di dinding pembuluh darah nadi (arteri).


(Menurut dr. Eka, seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Foto: Dok. Istimewa)

Kondisi ini dapat membuat arteri menjadi kaku dan tersumbat. Bila arteri yang tersumbat ada di bagian otak, hal ini akan membuat otak tidak mendapatkan aliran darah dan oksigen yang cukup, sehingga semakin lama semakin banyak jaringan otak yang mulai mati. Hal ini membuat seseorang berada pada risiko stroke yang jauh lebih tinggi. 

"Kerusakan endotel dan lapisan otot pembuluh darah arteri karena hipertensi juga dapat menyebabkan penipisan dinding pembuluh darah arteri di otak yang dapat mengakibatkan arteri bisa mudah pecah dan menyebabkan perdarahan di otak," jelasnya. 

Dr. Eka menyarankan langkah paling awal untuk mencegah stroke adalah mengendalikan tekanan darah. Selain untuk pencegahan primer stroke, penurunan tekanan darah juga penting untuk mencegah berulangnya Stroke. Penurunan tekanan sistolik 10 mmHg akan menurunkan risiko stroke hingga 27 persen dan besarnya penurunan tekanan darah secara linear akan mengurangi risiko stroke berulang.

"Salah satu bentuk kontrol tekanan darah yaitu dengan rajin mengukur tekanan darah sendiri dengan home blood pressure monitoring (HBPM). Selain itu, pasien hipertensi juga harus terus patuh dalam menjalani pengobatan dan pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala. Begitu pun, dengan pasien stroke harus mengelola hipertensinya dengan baik agar tidak semakin parah dan berakibat kecacatan menetap atau kematian," tutup dr. Eka. 
(yyy)

MOST SEARCH