- Meisya merasa rumah adalah tempat yang harus ia jaga.
- Bagi keluarganya, sanggar menjadi ruang aman yang menjaga Meisya tetap berada di jalur yang benar.
- Bagi Meisya, perubahan hidup ternyata tidak selalu datang melalui peristiwa besar.
Jakarta: Sore itu, tiga tahun lalu, Meisya Wulandari datang ke sebuah sanggar bukan untuk memulai sesuatu. Justru sebaliknya, ia berniat mengakhiri semuanya bahkan sebelum sempat dimulai.
Remaja yang saat itu masih duduk di bangku SMP tersebut merasa hidupnya sedang dipenuhi persoalan keluarga. Di rumah, ibunya lebih sering sendiri karena sang ayah bekerja sebagai perajin mebel dengan penghasilan yang pas-pasan. Kakaknya memiliki persoalan sendiri, sementara lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi cerita anak-anak seusianya yang terjerumus dalam pergaulan bebas.
Ia merasa rumah adalah tempat yang harus ia jaga.
Ketika seorang teman mengajaknya bergabung dengan AFTAC (Accor Foundation Technical Academy Center), sebuah program tanggung jawab sosial (CSR) Accor Group yang dijalankan melalui Sanggar Atpak, Meisya mengira tempat itu hanya sekadar bimbingan belajar.
Namun sebelum benar-benar memulai, ia memilih mengundurkan diri.
Saat itulah ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Tonton, pekerja sosial sekaligus mentor di sanggar. Alih-alih membujuk, Tonton hanya mengajaknya berbincang.
Meisya menceritakan kegelisahan yang selama ini ia pendam. Setelah mendengarkan dengan saksama, Tonton hanya mengatakan satu kalimat sederhana.
"Kamu bisa melakukan banyak hal di sini yang mungkin belum pernah kamu dapatkan di rumah."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Meisya, itulah awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Hari demi hari di sanggar membuka pengalaman baru yang belum pernah Meisya rasakan sebelumnya. Ia memang belajar matematika, bahasa Inggris, hingga komputer. Namun pelajaran paling berharga justru datang dari ruang-ruang diskusi setelah kelas selesai.
Di sana, Meisya belajar mengenal dirinya sendiri. Ia mulai memainkan gitar dengan lebih serius, mencoba taekwondo, bernyanyi, hingga menulis puisi. Bahkan kemampuan bermain gitar yang semula hanya menjadi hobi membuatnya dipercaya mengajari teman-teman lain.

Di sanggar ini, Meisya mulai berani speak up dan mengeluarkan potensinya. Dok. A. Firdaus/Medcom
Perlahan, rasa percaya diri yang selama ini tersembunyi mulai tumbuh.
"Di sini saya sadar ternyata saya punya banyak kemampuan yang sebelumnya tidak pernah saya tunjukkan kepada siapa pun," ujar Meisya.
Untuk pertama kalinya, Meisya juga berani membuka percakapan dengan orang tuanya mengenai apa yang ia rasakan. Menurutnya, sanggar mengajarkannya bahwa belajar bukan hanya soal pelajaran sekolah, tetapi juga tentang memahami hidup.
Semakin lama, sanggar tak lagi terasa seperti tempat belajar. Ia berubah menjadi rumah kedua. Tempat di mana Meisya merasa diterima tanpa harus menjelaskan latar belakang keluarganya.
Di sana selalu ada teman untuk berbagi cerita dan mentor yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.
Tak jarang ia baru pulang ketika malam mulai turun. Ibunya sempat khawatir melihat putrinya sering berada di luar rumah hingga larut. Namun kekhawatiran itu berubah menjadi rasa percaya setelah beberapa kali mengikuti pertemuan orang tua di sanggar.
.jpeg)
Berlokasi di Jl Lontar III, Cipinang, sanggar ini menjadi rumah kedua Meisya. Dok. A. Firdaus/Medcom
Kini, sang ibu justru merasa lebih tenang ketika mengetahui Meisya berada di sana.
Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Di lingkungan tempat tinggalnya, Meisya melihat sendiri bagaimana banyak remaja seusianya kehilangan masa depan akibat pergaulan bebas. Beberapa teman bahkan harus menikah di usia muda karena hamil di luar nikah.
Bagi keluarganya, sanggar menjadi ruang aman yang menjaga Meisya tetap berada di jalur yang benar.
Perubahan yang dialami Meisya mulai terlihat dari berbagai pencapaiannya. Ia dua kali terpilih sebagai Best Student AFTAC dan berkesempatan mengikuti program pembelajaran di Yogyakarta serta Bali.
Di sekolah, ia aktif mengikuti berbagai organisasi dan kompetisi. Prestasi dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) melalui lomba cipta puisi yang diraih selama dua tahun berturut-turut menjadi salah satu bukti bahwa kesempatan mampu mengubah seseorang.

Tonton, pekerja sosial sekaligus mentor di sanggar ini yakin, banyak bakat yang bisa dikeluarkan Meisya. Dok. A. Firdaus/Medcom
"Dia selalu berani bertanya. Banyak anak sebenarnya punya potensi, tetapi tidak semua berani menunjukkannya," ujar Tonton.
Baginya, tugas seorang pendamping bukan menciptakan anak-anak hebat, melainkan membantu mereka menemukan potensi yang selama ini tertutup oleh keadaan.
"Saya hanya membantu membuka apa yang sebenarnya sudah ada di dalam diri mereka," katanya.
Kini, di usia 18 tahun, Meisya telah memiliki cita-cita yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Bukan berasal dari bakat yang digali, tapi ia ingin melanjutkan pendidikan di bidang kesejahteraan sosial.
Bukan semata-mata karena profesi itu menarik, tetapi karena ia pernah merasakan bagaimana satu orang yang mau mendengarkan dapat mengubah hidup seseorang. Meisya ingin melakukan hal yang sama untuk orang lain.

Bagi Meisya, AFTAC bukan hanya membuka akses belajar, tetapi juga membuka keyakinan bahwa setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk menemukan versi terbaik dirinya. Dok. A, Firdaus/Medcom
"Saya ingin membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami. Jangan sampai mereka merasa sendirian," tuturnya.
Bagi Meisya, perubahan hidup ternyata tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Kadang, semuanya berawal dari keputusan sederhana untuk bertahan satu hari lebih lama.
Dan dari sebuah sanggar sederhana, seorang remaja menemukan lebih dari sekadar tempat belajar. Ia menemukan rumah kedua, orang-orang yang percaya pada dirinya, dan keyakinan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, melainkan oleh siapa yang bersedia memberinya kesempatan untuk bertumbuh.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Remaja yang saat itu masih duduk di bangku SMP tersebut merasa hidupnya sedang dipenuhi persoalan keluarga. Di rumah, ibunya lebih sering sendiri karena sang ayah bekerja sebagai perajin mebel dengan penghasilan yang pas-pasan. Kakaknya memiliki persoalan sendiri, sementara lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi cerita anak-anak seusianya yang terjerumus dalam pergaulan bebas.
Ia merasa rumah adalah tempat yang harus ia jaga.
Baca Juga :
Saat Roda Taksi Bluebird Jadi Saksi Bisu Cinta Pak Yudi, Antarkan Anak Menuju Gelar Sarjana
Ketika seorang teman mengajaknya bergabung dengan AFTAC (Accor Foundation Technical Academy Center), sebuah program tanggung jawab sosial (CSR) Accor Group yang dijalankan melalui Sanggar Atpak, Meisya mengira tempat itu hanya sekadar bimbingan belajar.
Namun sebelum benar-benar memulai, ia memilih mengundurkan diri.
Saat itulah ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Tonton, pekerja sosial sekaligus mentor di sanggar. Alih-alih membujuk, Tonton hanya mengajaknya berbincang.
Meisya menceritakan kegelisahan yang selama ini ia pendam. Setelah mendengarkan dengan saksama, Tonton hanya mengatakan satu kalimat sederhana.
"Kamu bisa melakukan banyak hal di sini yang mungkin belum pernah kamu dapatkan di rumah."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Meisya, itulah awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Menemukan Potensi yang Selama Ini Tersembunyi
Hari demi hari di sanggar membuka pengalaman baru yang belum pernah Meisya rasakan sebelumnya. Ia memang belajar matematika, bahasa Inggris, hingga komputer. Namun pelajaran paling berharga justru datang dari ruang-ruang diskusi setelah kelas selesai.
Di sana, Meisya belajar mengenal dirinya sendiri. Ia mulai memainkan gitar dengan lebih serius, mencoba taekwondo, bernyanyi, hingga menulis puisi. Bahkan kemampuan bermain gitar yang semula hanya menjadi hobi membuatnya dipercaya mengajari teman-teman lain.

Di sanggar ini, Meisya mulai berani speak up dan mengeluarkan potensinya. Dok. A. Firdaus/Medcom
Perlahan, rasa percaya diri yang selama ini tersembunyi mulai tumbuh.
"Di sini saya sadar ternyata saya punya banyak kemampuan yang sebelumnya tidak pernah saya tunjukkan kepada siapa pun," ujar Meisya.
Bukan hanya bakat yang berkembang.
Untuk pertama kalinya, Meisya juga berani membuka percakapan dengan orang tuanya mengenai apa yang ia rasakan. Menurutnya, sanggar mengajarkannya bahwa belajar bukan hanya soal pelajaran sekolah, tetapi juga tentang memahami hidup.
Rumah Kedua yang Membuatnya Bertahan
Semakin lama, sanggar tak lagi terasa seperti tempat belajar. Ia berubah menjadi rumah kedua. Tempat di mana Meisya merasa diterima tanpa harus menjelaskan latar belakang keluarganya.
Di sana selalu ada teman untuk berbagi cerita dan mentor yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.
Tak jarang ia baru pulang ketika malam mulai turun. Ibunya sempat khawatir melihat putrinya sering berada di luar rumah hingga larut. Namun kekhawatiran itu berubah menjadi rasa percaya setelah beberapa kali mengikuti pertemuan orang tua di sanggar.
.jpeg)
Berlokasi di Jl Lontar III, Cipinang, sanggar ini menjadi rumah kedua Meisya. Dok. A. Firdaus/Medcom
Kini, sang ibu justru merasa lebih tenang ketika mengetahui Meisya berada di sana.
Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Di lingkungan tempat tinggalnya, Meisya melihat sendiri bagaimana banyak remaja seusianya kehilangan masa depan akibat pergaulan bebas. Beberapa teman bahkan harus menikah di usia muda karena hamil di luar nikah.
Bagi keluarganya, sanggar menjadi ruang aman yang menjaga Meisya tetap berada di jalur yang benar.
Kesempatan Mengubah Masa Depan
Perubahan yang dialami Meisya mulai terlihat dari berbagai pencapaiannya. Ia dua kali terpilih sebagai Best Student AFTAC dan berkesempatan mengikuti program pembelajaran di Yogyakarta serta Bali.
Di sekolah, ia aktif mengikuti berbagai organisasi dan kompetisi. Prestasi dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) melalui lomba cipta puisi yang diraih selama dua tahun berturut-turut menjadi salah satu bukti bahwa kesempatan mampu mengubah seseorang.

Tonton, pekerja sosial sekaligus mentor di sanggar ini yakin, banyak bakat yang bisa dikeluarkan Meisya. Dok. A. Firdaus/Medcom
Di mata Pak Tonton, sejak awal Meisya memang memiliki sesuatu yang berbeda.
Hasil psikotes menunjukkan kemampuan akademiknya termasuk yang terbaik. Namun yang paling menonjol adalah rasa ingin tahunya.
Rasa ingin tahu."Dia selalu berani bertanya. Banyak anak sebenarnya punya potensi, tetapi tidak semua berani menunjukkannya," ujar Tonton.
Baginya, tugas seorang pendamping bukan menciptakan anak-anak hebat, melainkan membantu mereka menemukan potensi yang selama ini tertutup oleh keadaan.
"Saya hanya membantu membuka apa yang sebenarnya sudah ada di dalam diri mereka," katanya.
Ingin Menjadi Orang yang Menguatkan
Kini, di usia 18 tahun, Meisya telah memiliki cita-cita yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Bukan berasal dari bakat yang digali, tapi ia ingin melanjutkan pendidikan di bidang kesejahteraan sosial.
Bukan semata-mata karena profesi itu menarik, tetapi karena ia pernah merasakan bagaimana satu orang yang mau mendengarkan dapat mengubah hidup seseorang. Meisya ingin melakukan hal yang sama untuk orang lain.

Bagi Meisya, AFTAC bukan hanya membuka akses belajar, tetapi juga membuka keyakinan bahwa setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk menemukan versi terbaik dirinya. Dok. A, Firdaus/Medcom
"Saya ingin membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami. Jangan sampai mereka merasa sendirian," tuturnya.
Bagi Meisya, perubahan hidup ternyata tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Kadang, semuanya berawal dari keputusan sederhana untuk bertahan satu hari lebih lama.
Dan dari sebuah sanggar sederhana, seorang remaja menemukan lebih dari sekadar tempat belajar. Ia menemukan rumah kedua, orang-orang yang percaya pada dirinya, dan keyakinan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, melainkan oleh siapa yang bersedia memberinya kesempatan untuk bertumbuh.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)