FEATURE

Kenapa Pertemanan Bisa Makin Jauh saat Dewasa? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

A. Firdaus
Rabu 23 September 2026 / 16:55
Ringkasnya gini..
  • Pengalaman emosional saat kecil bisa memengaruhi cara seseorang membangun hubungan ketika dewasa.
  • Kebiasaan memendam perasaan dapat membuat hubungan pertemanan terasa kurang dekat atau nggak seimbang.
  • Mengenali emosi dan belajar mengungkapkan kebutuhan bisa membantu membangun hubungan yang lebih terbuka.

Jakarta: Makin dewasa, kok rasanya teman makin sedikit? Padahal dulu gampang banget punya circle baru. Sekarang, kenalan mungkin banyak, tapi yang benar-benar bisa diajak cerita dari hati ke hati justru bisa dihitung jari.

Ternyata, kedekatan dalam pertemanan nggak cuma dipengaruhi seberapa sering kita ketemu. Pengalaman emosional sejak kecil juga bisa ikut membentuk cara seseorang berhubungan dengan orang lain ketika dewasa.

Psikolog Jonice Webb, Ph.D. dalam Psychology Today membahas kaitan childhood emotional neglect atau pengabaian emosional saat masa kanak-kanak dengan hubungan pertemanan ketika dewasa.


 

dengerin

Kamu lebih gampang memahami perasaan teman daripada menyadari apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan sendiri. (Foto: AI Generated)
 

Saat terbiasa memendam perasaan

Childhood emotional neglect terjadi ketika kebutuhan emosional anak kurang mendapatkan perhatian atau respons yang dibutuhkan. Akibatnya, seseorang bisa tumbuh dengan kebiasaan menganggap perasaan sendiri nggak terlalu penting.

Kebiasaan ini bisa terbawa sampai dewasa. Misalnya, kamu lebih gampang memahami perasaan teman daripada menyadari apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan sendiri.

Alhasil, dalam pertemanan kamu mungkin lebih sering jadi pendengar, tempat curhat, atau orang yang selalu menyesuaikan diri. Sementara itu, kebutuhanmu sendiri malah sering ditaruh belakangan.

 


 

Teman ada, tapi kok nggak merasa dikenal?

Menurut Webb, emosi membantu seseorang memahami dirinya sendiri sekaligus membangun hubungan dengan orang lain. Ketika terbiasa menekan emosi, seseorang bisa kesulitan menunjukkan sisi dirinya yang lebih personal.

Nah, ini yang bisa bikin pertemanan terasa dekat di permukaan, tapi nggak benar-benar intim. Kamu mungkin sering ngobrol, ketemu, bahkan tahu banyak cerita tentang temanmu. Namun, teman tersebut belum tentu tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan.

Bukan berarti kamu nggak bisa punya hubungan yang dekat. Bisa jadi, kamu cuma belum terbiasa memberi ruang buat diri sendiri dalam sebuah hubungan.

 

Pelan-pelan belajar lebih terbuka

Salah satu langkahnya adalah mulai mengenali emosi sendiri. Nggak perlu langsung paham semuanya. Coba sesekali berhenti dan tanya ke diri sendiri, “Gue sebenarnya lagi ngerasa apa?”

Setelah itu, pelan-pelan belajar mengomunikasikannya. Misalnya dengan bilang ketika kamu butuh waktu sendiri, nggak nyaman dengan sesuatu, atau sebenarnya ingin didengarkan.

Pada akhirnya, punya sedikit teman dekat bukan berarti kehidupan sosialmu bermasalah. Yang penting, hubungan tersebut nggak cuma memberi ruang buat kamu memahami orang lain, tetapi juga membuat kamu merasa aman untuk menjadi diri sendiri.


Desi Indasari



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH