FAMILY
Kenali Penyebab Keguguran dan Faktor yang Dapat Meningkatkan Risikonya
A. Firdaus
Jumat 31 Juli 2026 / 12:11
- Meski sering menimbulkan rasa sedih dan kehilangan, penting dipahami bahwa banyak kasus keguguran terjadi, karena penyebab yang berada di luar kendali.
- Memahami penyebab dan faktor risiko keguguran, dapat membantu meningkatkan kewaspadaan.
- Sekitar 50% dari seluruh keguguran pada awal kehamilan diyakini berkaitan dengan kelainan genetik.
Jakarta: Keguguran adalah kondisi ketika kehamilan berakhir secara spontan, sebelum janin mampu bertahan hidup di luar rahim.
Kondisi ini, umumnya terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perkembangan janin hingga kondisi kesehatan ibu.
Meski sering menimbulkan rasa sedih dan kehilangan, penting dipahami bahwa banyak kasus keguguran terjadi, karena penyebab yang berada di luar kendali.
Bahkan, sebagian besar keguguran bukan disebabkan oleh aktivitas sehari-hari seperti berjalan, bekerja, atau berolahraga ringan.
Memahami penyebab dan faktor risiko keguguran, dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, sekaligus memberikan gambaran mengenai kondisi yang perlu dipantau selama kehamilan.
Sekitar 50% dari seluruh keguguran pada awal kehamilan diyakini berkaitan dengan kelainan genetik, yang terjadi secara acak pada embrio atau janin.
Kelainan tersebut menyebabkan perkembangan janin tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga kehamilan tidak dapat dipertahankan.
Selain faktor genetik, terdapat berbagai kondisi medis dan faktor lain, yang juga diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran.
Dilansir dari Parents, berikut adalah beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko keguguran:
• Bentuk rahim yang tidak normal, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin.
• Amniosentesis, meskipun risikonya relatif kecil, tetap dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran pada sebagian kasus.
• Penyakit jantung bawaan.
• Paparan bahaya lingkungan atau tempat kerja, seperti tingkat radiasi yang tinggi maupun zat-zat beracun.
• Ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi proses kehamilan.
• Gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang dapat mengganggu perkembangan kehamilan.
• Implantasi sel telur yang telah dibuahi tidak terjadi pada lapisan rahim secara optimal.
• Serviks yang tidak kompeten, yaitu kondisi ketika leher rahim membuka terlalu dini, sebelum usia kehamilan cukup.
• Faktor gaya hidup, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan menggunakan narkoba.
• Usia orang tua yang dapat memengaruhi kualitas sel telur maupun sperma.
• Riwayat keguguran sebelumnya.
• Penyakit tiroid.
• Diabetes yang tidak terkontrol.
Meskipun memiliki satu atau beberapa faktor risiko di atas, bukan berarti keguguran pasti akan terjadi. Banyak kehamilan tetap dapat berlangsung dengan baik, melalui pemantauan rutin dan penanganan medis yang sesuai.
Karena itu, pemeriksaan kehamilan secara berkala menjadi langkah penting, untuk memantau kondisi ibu dan janin serta mendeteksi kemungkinan masalah sejak dini.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Kondisi ini, umumnya terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perkembangan janin hingga kondisi kesehatan ibu.
Meski sering menimbulkan rasa sedih dan kehilangan, penting dipahami bahwa banyak kasus keguguran terjadi, karena penyebab yang berada di luar kendali.
Bahkan, sebagian besar keguguran bukan disebabkan oleh aktivitas sehari-hari seperti berjalan, bekerja, atau berolahraga ringan.
Memahami penyebab dan faktor risiko keguguran, dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, sekaligus memberikan gambaran mengenai kondisi yang perlu dipantau selama kehamilan.
Sekitar 50% dari seluruh keguguran pada awal kehamilan diyakini berkaitan dengan kelainan genetik, yang terjadi secara acak pada embrio atau janin.
Kelainan tersebut menyebabkan perkembangan janin tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga kehamilan tidak dapat dipertahankan.
Selain faktor genetik, terdapat berbagai kondisi medis dan faktor lain, yang juga diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran.
Penyebab dan faktor risiko keguguran
Dilansir dari Parents, berikut adalah beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko keguguran:
• Bentuk rahim yang tidak normal, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin.
• Amniosentesis, meskipun risikonya relatif kecil, tetap dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran pada sebagian kasus.
• Penyakit jantung bawaan.
• Paparan bahaya lingkungan atau tempat kerja, seperti tingkat radiasi yang tinggi maupun zat-zat beracun.
• Ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi proses kehamilan.
• Gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang dapat mengganggu perkembangan kehamilan.
• Implantasi sel telur yang telah dibuahi tidak terjadi pada lapisan rahim secara optimal.
• Serviks yang tidak kompeten, yaitu kondisi ketika leher rahim membuka terlalu dini, sebelum usia kehamilan cukup.
• Faktor gaya hidup, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan menggunakan narkoba.
• Usia orang tua yang dapat memengaruhi kualitas sel telur maupun sperma.
• Riwayat keguguran sebelumnya.
• Penyakit tiroid.
• Diabetes yang tidak terkontrol.
Meskipun memiliki satu atau beberapa faktor risiko di atas, bukan berarti keguguran pasti akan terjadi. Banyak kehamilan tetap dapat berlangsung dengan baik, melalui pemantauan rutin dan penanganan medis yang sesuai.
Karena itu, pemeriksaan kehamilan secara berkala menjadi langkah penting, untuk memantau kondisi ibu dan janin serta mendeteksi kemungkinan masalah sejak dini.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)