FAMILY

Stop Bentak Anak! Ini 5 Cara Positive Parenting agar Si Kecil Tumbuh Percaya Diri

A. Firdaus
Kamis 06 Agustus 2026 / 09:35
Ringkasnya gini..
  • Kini, semakin banyak ahli merekomendasikan positive parenting atau pola asuh positif.
  • Dalam pola asuh positif, orang tua bukan sekadar memberi aturan, tetapi juga menjadi pendamping.
  • Anak cenderung tumbuh lebih optimal ketika merasa dicintai, aman, dan dipahami.
Jakarta: Masih banyak orang tua yang menganggap membentak atau menghukum adalah cara paling ampuh agar anak patuh. Padahal, pendekatan seperti ini belum tentu membuat anak memahami kesalahannya. Sebaliknya, anak justru bisa tumbuh dengan rasa takut, minder, atau kesulitan mengelola emosi.

Kini, semakin banyak ahli merekomendasikan positive parenting atau pola asuh positif. Pendekatan ini menekankan hubungan yang hangat antara orang tua dan anak, komunikasi yang sehat, serta disiplin tanpa kekerasan.

Dalam pola asuh positif, orang tua bukan sekadar memberi aturan, tetapi juga menjadi pendamping yang membantu anak memahami perasaan, belajar dari kesalahan, dan membangun rasa percaya diri.



Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut program pengasuhan berbasis bukti mampu memperkuat hubungan orang tua dan anak, mengurangi pola asuh yang keras, sekaligus mendukung kesehatan mental anak.

Lalu, bagaimana cara mulai menerapkannya? Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba di rumah.
 

1. Kurangi Bentakan, Perbanyak Obrolan


Saat anak melakukan kesalahan, reaksi pertama sering kali adalah meninggikan suara. Padahal, membentak hanya membuat anak berhenti sesaat, bukan memahami alasan di balik aturan.

Cobalah berbicara dengan nada tenang sambil menjelaskan konsekuensi dari tindakannya. Anak yang merasa didengarkan biasanya lebih mudah menerima arahan dibandingkan anak yang merasa dihakimi.
 

2. Dengarkan Perasaan Anak, Jangan Langsung Menghakimi


Anak juga punya emosi yang perlu dihargai. Saat mereka marah, kecewa, atau sedih, hindari langsung memotong pembicaraan atau menyuruh mereka diam.

Sebaliknya, bantu anak mengenali emosinya dengan mengatakan, misalnya, "Kakak lagi kecewa ya?" atau "Adik sedang marah, ya?".

Langkah sederhana ini membantu anak belajar memahami sekaligus mengelola emosinya dengan lebih sehat.
 

3. Apresiasi Proses, Bukan Cuma Hasil


Nilai bagus atau kemenangan memang menyenangkan. Namun, usaha yang dilakukan anak juga layak mendapat apresiasi.

Daripada berkata, "Kamu harus juara," coba katakan, "Mama bangga karena kamu sudah berusaha maksimal."

Kalimat seperti ini membantu anak membangun rasa percaya diri tanpa merasa terbebani harus selalu menjadi yang terbaik.
 

4. Beri Anak Kesempatan Memilih


Memberikan pilihan sederhana bisa menjadi latihan bagi anak untuk belajar mandiri.

Misalnya, biarkan mereka memilih baju yang akan dipakai, menentukan buku yang ingin dibaca sebelum tidur, atau membantu memilih menu makan siang.

Meski terlihat sepele, kebiasaan ini membuat anak merasa dipercaya sekaligus belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
 

5. Orang Tua Juga Harus Jadi Contoh


Anak adalah peniru ulung. Cara orang tua menghadapi stres, marah, atau menyelesaikan konflik akan menjadi contoh yang mereka bawa hingga dewasa.

Karena itu, tunjukkan bahwa marah bisa disampaikan dengan tenang, meminta maaf bukan tanda kalah, dan setiap masalah bisa diselesaikan lewat komunikasi yang baik.
 

Positive Parenting Bukan Berarti Serba Boleh


Masih ada anggapan bahwa pola asuh positif identik dengan memanjakan anak. Faktanya, positive parenting tetap memiliki aturan dan batasan yang jelas.

Bedanya, aturan tersebut diterapkan dengan cara yang penuh empati, konsisten, dan menghargai anak sebagai individu yang sedang belajar.

Menurut UNICEF, anak cenderung tumbuh lebih optimal ketika merasa dicintai, aman, dan dipahami. Lingkungan seperti ini membantu mereka lebih percaya diri, mampu mengambil keputusan, serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Jadi, jika ingin membangun hubungan yang lebih sehat dengan si kecil, mungkin sekarang saatnya mulai mengurangi bentakan dan memperbanyak komunikasi. Karena anak bukan hanya membutuhkan aturan, tetapi juga orang tua yang hadir, mendengar, dan mendampingi mereka tumbuh.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH