- Orang tua menikah lagi bisa menjadi tantangan bagi anak.
- Psikolog menjelaskan reaksi emosional dan pentingnya menjaga hubungan orang tua-anak.
- Persoalan utama bagi anak bukan hanya mengenai apakah ayah atau ibunya menikah lagi.
Jakarta: Ketika orang tua memutuskan menikah lagi, perubahan besar bukan hanya dirasakan oleh pasangan yang menjalani pernikahan. Bagi anak, keputusan tersebut juga bisa menghadirkan babak baru yang membutuhkan waktu untuk dipahami dan diterima.
Karena itu, kurang tepat jika pernikahan kembali orang tua langsung dianggap sebagai bentuk keegoisan. Menikah lagi bukan otomatis berarti orang tua mengabaikan kepentingan anak. Yang lebih penting adalah bagaimana keputusan tersebut diambil dan bagaimana anak ditempatkan dalam proses perubahan keluarga.
Psikolog Efnie Indrianie menjelaskan, bagi anak, orang tua yang menikah lagi dapat menghadirkan apa yang disebut sebagai “transisi kedua”. Sebelumnya, anak mungkin sudah mengalami kehilangan struktur keluarga akibat perceraian atau perpisahan orang tua. Ketika salah satu orang tua kemudian memiliki pasangan baru, anak kembali harus menata kehidupan emosionalnya.
"Dalam keluarga dengan orang tua yang menikah kembali atau stepfamily, anak pada dasarnya harus beradaptasi dengan struktur keluarga yang baru," kata Efnie kepada Medcom.
Literatur psikologi menunjukkan, anak dalam keluarga hasil pernikahan kembali rata-rata dapat menghadapi tantangan penyesuaian yang lebih besar dibandingkan anak dalam keluarga yang strukturnya lebih stabil. Namun, bukan berarti semua anak akan mengalami masalah.
Setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda. Kemampuan beradaptasi dapat dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari tingkat konflik dalam keluarga, kualitas hubungan anak dengan orang tua, kondisi ekonomi dan sosial, hingga seberapa sering anak menghadapi perubahan dalam struktur keluarganya.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata karena ayah atau ibu menikah lagi, melainkan bagaimana perubahan tersebut dialami oleh anak.
Salah satu kekhawatiran yang dapat muncul adalah rasa takut kehilangan posisi di mata orang tua.
Anak mungkin bertanya-tanya, “Apakah Ayah sekarang lebih mencintai pasangan barunya?” atau “Apakah Ibu masih punya waktu untuk saya setelah menikah lagi?”
Perasaan tersebut bisa muncul karena sebelumnya anak memiliki hubungan yang relatif eksklusif dengan orang tua. Kehadiran pasangan baru kemudian membuat anak harus berbagi perhatian, waktu, bahkan ruang emosional dengan orang lain.
Pada kondisi tertentu, anak juga bisa mengalami konflik loyalitas. Misalnya, anak merasa bersalah ketika mulai dekat dengan ayah atau ibu sambung karena khawatir kedekatan tersebut berarti mengkhianati ayah atau ibu kandungnya.
Ada pula anak yang masih menyimpan harapan bahwa kedua orang tuanya suatu hari akan kembali bersama. Ketika salah satu orang tua menikah lagi, pernikahan tersebut bisa terasa seperti tanda bahwa harapan tersebut benar-benar berakhir.
Reaksinya pun beragam. Anak dapat menunjukkan kesedihan, kemarahan, kecemburuan, kecemasan, menarik diri, hingga menjadi lebih mudah menentang aturan.
Dari perspektif psikologi dan perkembangan otak, perubahan besar dalam keluarga dapat dipersepsikan anak sebagai perubahan terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap dapat diprediksi.
Anak membutuhkan rasa aman dan kepastian mengenai siapa yang akan berada di sekitarnya, bagaimana hubungan dalam keluarga berjalan, serta apa yang akan terjadi setelah perubahan tersebut.
Jika pernikahan kembali disertai konflik, berkurangnya kedekatan dengan orang tua kandung, atau ketidakpastian yang berlangsung lama, sistem stres anak dapat lebih mudah aktif.
Dampaknya tidak selalu terlihat sebagai kesedihan. Pada sebagian anak, tekanan tersebut bisa muncul melalui perubahan perilaku, seperti lebih mudah marah, menarik diri, menentang aturan, sulit berkonsentrasi, atau mengalami penurunan prestasi akademik.
Namun, perubahan perilaku tidak bisa otomatis disimpulkan sebagai dampak dari orang tua menikah lagi. Kondisi anak perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk hubungan dalam keluarga dan perubahan lain yang mungkin sedang dialaminya.
Pada akhirnya, persoalan utama bagi anak bukan hanya mengenai apakah ayah atau ibunya menikah lagi.
Pertanyaan yang jauh lebih penting bagi anak adalah:
“Setelah Ayah atau Ibu memiliki kehidupan baru, apakah saya masih mempunyai tempat yang sama pentingnya dalam hidupnya?”
Karena itu, konsistensi hubungan antara anak dan orang tua kandung menjadi bagian penting dalam proses adaptasi.
Anak tetap membutuhkan waktu bersama, perhatian, komunikasi, dan kepastian bahwa hubungan dengan orang tua tidak hilang hanya karena hadirnya pasangan baru.
Dalam konteks setelah perceraian, American Psychological Association (APA) juga mencatat bahwa anak cenderung lebih mampu menyesuaikan diri ketika orang tua yang tidak tinggal bersama anak tetap hadir secara konsisten dan mempertahankan hubungan yang baik dengan anak.
Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua bukan sekadar soal tinggal serumah. Anak juga membutuhkan kepastian secara emosional bahwa dirinya tetap diperhatikan dan memiliki tempat dalam kehidupan orang tuanya.
Jadi, ketika orang tua memutuskan menikah lagi, anak tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Anak lebih membutuhkan ruang untuk memahami perubahan, mengungkapkan perasaannya, dan tetap merasakan bahwa dirinya tidak kehilangan orang tua.
Sebab, keluarga memang bisa berubah bentuk. Tetapi bagi anak, yang paling penting adalah memastikan bahwa perubahan tersebut tidak membuatnya merasa kehilangan tempat di dalam keluarga.
(FIR)
Karena itu, kurang tepat jika pernikahan kembali orang tua langsung dianggap sebagai bentuk keegoisan. Menikah lagi bukan otomatis berarti orang tua mengabaikan kepentingan anak. Yang lebih penting adalah bagaimana keputusan tersebut diambil dan bagaimana anak ditempatkan dalam proses perubahan keluarga.
Psikolog Efnie Indrianie menjelaskan, bagi anak, orang tua yang menikah lagi dapat menghadirkan apa yang disebut sebagai “transisi kedua”. Sebelumnya, anak mungkin sudah mengalami kehilangan struktur keluarga akibat perceraian atau perpisahan orang tua. Ketika salah satu orang tua kemudian memiliki pasangan baru, anak kembali harus menata kehidupan emosionalnya.
Anak Bisa Merasa Harus Beradaptasi Lagi
"Dalam keluarga dengan orang tua yang menikah kembali atau stepfamily, anak pada dasarnya harus beradaptasi dengan struktur keluarga yang baru," kata Efnie kepada Medcom.
Literatur psikologi menunjukkan, anak dalam keluarga hasil pernikahan kembali rata-rata dapat menghadapi tantangan penyesuaian yang lebih besar dibandingkan anak dalam keluarga yang strukturnya lebih stabil. Namun, bukan berarti semua anak akan mengalami masalah.
Setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda. Kemampuan beradaptasi dapat dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari tingkat konflik dalam keluarga, kualitas hubungan anak dengan orang tua, kondisi ekonomi dan sosial, hingga seberapa sering anak menghadapi perubahan dalam struktur keluarganya.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata karena ayah atau ibu menikah lagi, melainkan bagaimana perubahan tersebut dialami oleh anak.
Takut Tergantikan Bisa Muncul
Salah satu kekhawatiran yang dapat muncul adalah rasa takut kehilangan posisi di mata orang tua.
Anak mungkin bertanya-tanya, “Apakah Ayah sekarang lebih mencintai pasangan barunya?” atau “Apakah Ibu masih punya waktu untuk saya setelah menikah lagi?”
Perasaan tersebut bisa muncul karena sebelumnya anak memiliki hubungan yang relatif eksklusif dengan orang tua. Kehadiran pasangan baru kemudian membuat anak harus berbagi perhatian, waktu, bahkan ruang emosional dengan orang lain.
Setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda. Kemampuan beradaptasi dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Ilustrasi Magnific
Pada kondisi tertentu, anak juga bisa mengalami konflik loyalitas. Misalnya, anak merasa bersalah ketika mulai dekat dengan ayah atau ibu sambung karena khawatir kedekatan tersebut berarti mengkhianati ayah atau ibu kandungnya.
Ada pula anak yang masih menyimpan harapan bahwa kedua orang tuanya suatu hari akan kembali bersama. Ketika salah satu orang tua menikah lagi, pernikahan tersebut bisa terasa seperti tanda bahwa harapan tersebut benar-benar berakhir.
Reaksinya pun beragam. Anak dapat menunjukkan kesedihan, kemarahan, kecemburuan, kecemasan, menarik diri, hingga menjadi lebih mudah menentang aturan.
Perubahan Keluarga Bisa Memengaruhi Rasa Aman Anak
Dari perspektif psikologi dan perkembangan otak, perubahan besar dalam keluarga dapat dipersepsikan anak sebagai perubahan terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap dapat diprediksi.
Anak membutuhkan rasa aman dan kepastian mengenai siapa yang akan berada di sekitarnya, bagaimana hubungan dalam keluarga berjalan, serta apa yang akan terjadi setelah perubahan tersebut.
Jika pernikahan kembali disertai konflik, berkurangnya kedekatan dengan orang tua kandung, atau ketidakpastian yang berlangsung lama, sistem stres anak dapat lebih mudah aktif.
Dampaknya tidak selalu terlihat sebagai kesedihan. Pada sebagian anak, tekanan tersebut bisa muncul melalui perubahan perilaku, seperti lebih mudah marah, menarik diri, menentang aturan, sulit berkonsentrasi, atau mengalami penurunan prestasi akademik.
Namun, perubahan perilaku tidak bisa otomatis disimpulkan sebagai dampak dari orang tua menikah lagi. Kondisi anak perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk hubungan dalam keluarga dan perubahan lain yang mungkin sedang dialaminya.
Yang Paling Penting: Anak Tetap Punya Tempat
Pada akhirnya, persoalan utama bagi anak bukan hanya mengenai apakah ayah atau ibunya menikah lagi.
Pertanyaan yang jauh lebih penting bagi anak adalah:
“Setelah Ayah atau Ibu memiliki kehidupan baru, apakah saya masih mempunyai tempat yang sama pentingnya dalam hidupnya?”
Karena itu, konsistensi hubungan antara anak dan orang tua kandung menjadi bagian penting dalam proses adaptasi.
Psikolog Efnie Indrianie. Dok. Ist
Anak tetap membutuhkan waktu bersama, perhatian, komunikasi, dan kepastian bahwa hubungan dengan orang tua tidak hilang hanya karena hadirnya pasangan baru.
Dalam konteks setelah perceraian, American Psychological Association (APA) juga mencatat bahwa anak cenderung lebih mampu menyesuaikan diri ketika orang tua yang tidak tinggal bersama anak tetap hadir secara konsisten dan mempertahankan hubungan yang baik dengan anak.
Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua bukan sekadar soal tinggal serumah. Anak juga membutuhkan kepastian secara emosional bahwa dirinya tetap diperhatikan dan memiliki tempat dalam kehidupan orang tuanya.
Jadi, ketika orang tua memutuskan menikah lagi, anak tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Anak lebih membutuhkan ruang untuk memahami perubahan, mengungkapkan perasaannya, dan tetap merasakan bahwa dirinya tidak kehilangan orang tua.
Sebab, keluarga memang bisa berubah bentuk. Tetapi bagi anak, yang paling penting adalah memastikan bahwa perubahan tersebut tidak membuatnya merasa kehilangan tempat di dalam keluarga.
(FIR)