FAMILY

Waspada, Riset Menunjukkan Usia Remaja Paling Sering Alami Gangguan Depresi Mayor

Yuni Yuli Yanti
Kamis 16 Desember 2021 / 10:00
Jakarta: Berdasarkan data riset kesehatan dasar dari Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 6,1 persen penduduk berumur setidaknya 15 tahun di Indonesia menderita depresi. Meskipun, tidak ada data persis mengenai berapa banyak dari populasi ini yang menderita gangguan depresi mayor, namun diasumsikan bahwa proporsinya cukup besar. 

Selanjutnya, berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2019, terdapat 1800 jiwa/tahun yang meninggal akibat bunuh diri, di mana 23,2 persen dari kalangan ini menyandang penyakit jiwa.

Dr. Nalini Muhdi Agung, Sp.KJ(K), FISCM selaku Ketua Seksi Kesehatan Jiwa Perempuan di PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) mengatakan istilah depresi tidak asing bagi kita. Depresi adalah perasaan sangat sedih atau suasana hati yang buruk.

Sebagian besar dari kita pernah merasakannya. Pada sebagian orang depresi dapat reda dan tidak berdampak. Namun, bagi yang lain depresi dapat menjadi gangguan berat hingga berdampak pada kesehatan mentalnya dan perlu diwaspadai kemungkinan menderita Gangguan Depresi Mayor.

"Dalam ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri, untuk mendiagnosis seseorang mengalami
gangguan depresi mayor perlu diketahui apa saja gejala-gejala yang dialami. Gangguan
depresi mayor tidak hanya merupakan gangguan emosional atau suasana hati, namun
umumnya juga menunjukkan gejala, fisik, psikis dan sosial yang khas," jelas dr. Nalini dalam acara sesi edukasi virtual bertajuk ‘Kupas Tuntas Mengenai Depresi’, pada Selasa, 14 Desember 2021 yang diadakan oleh PT Johnson & Johnson Indonesia. 


(Sebagai keberlanjutan komitmen Johnson & Johnson di Indonesia terhadap peningkatan kepedulian atas kesehatan jiwa, maka pada tanggal 4 Desember 2021 dan 14 Desember telah melaksanakan Depression Awareness Campaign “Kupas Tuntas Mengenai Depresi” secara virtual. Foto: Dok. Istimewa)


Lebih lanjut, dr. Nalini menyebutkan beberapa gejala gangguan depresi mayor adalah rasa sedih yang terus menerus, pesimis, rasa tidak berdaya, gampang tersinggung, insomnia, sulit makan, menarik diri hingga melakukan usaha untuk bunuh diri.

"Sebagai suatu peyakit, gangguan depresi mayor dapat ditangani dengan benar oleh tenaga
medis atau tenaga kesehatan jiwa profesional. Selain itu, keluarga dan pendamping juga berperan penting dalam kesembuhan pasien," tambahnya. 


(Segeralah berkonsultasi pada tenaga kesehatan jiwa professional bila mengalami gejala-gejala depresi. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)


Penanganan gangguan depresi mayor mungkin membutuhkan kombinasi dari psikoedukasi,
psikoterapi, pengobatan atau farmakoterapi (menggunakan antidepresan yang tersedia dalam bentuk tablet, semprotan hidung (nasal spray), dan sebagainya). Serta, neurostimulasi di mana contoh neurostimulasi adalah repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) dan Electroconvulsive Therapy (ECT).

Dr. Nalini menyarankan jika kamu, keluarga atau teman mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas dan mencurigai adanya gangguan depresi mayor, terutama bila ada niat untuk melukai diri sendiri hingga bunuh diri, segeralah berkonsultasi pada tenaga kesehatan jiwa professional, seperti psikiater, dokter umum, atau psikolog.

(yyy)

MOST SEARCH