FAMILY

Mau Naik Pelaminan, Kok Cobaan Datang Bertubi-tubi? Ini Cara Menghadapinya

A. Firdaus
Rabu 09 September 2026 / 12:09
Ringkasnya gini..
  • Cobaan sebelum pernikahan bisa datang dari masalah keuangan, konflik pasangan hingga campur tangan keluarga.
  • Persiapan pernikahan memang bisa menjadi periode yang penuh tekanan.
  • Cobaan sebelum pernikahan sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kamu dan pasangan bekerja sebagai tim.
Jakarta: Masa-masa menjelang pernikahan sering dibayangkan sebagai periode paling romantis dalam hubungan. Ada lamaran, memilih venue, mencicipi makanan katering, mencari pakaian pengantin, sampai membayangkan kehidupan setelah resmi menjadi pasangan suami istri.

Tapi di balik semua momen manis itu, ada satu hal yang sering luput dibicarakan: cobaan sebelum pernikahan.

Tiba-tiba kamu dan pasangan jadi lebih sering berdebat. Urusan biaya pernikahan bikin kepala panas. Keluarga ikut memberikan banyak masukan. Belum lagi vendor yang tiba-tiba sulit dihubungi atau konsep pernikahan yang tidak kunjung menemukan titik temu.
 

Kalau sudah begini, wajar kalau muncul pertanyaan, "Kenapa setelah mau nikah malah jadi banyak masalah?"

Tenang, kamu tidak selalu berarti sedang memilih pasangan yang salah.

Menurut American Psychological Association, persiapan pernikahan memang bisa menjadi periode yang penuh tekanan. Penelitian pada pasangan menunjukkan bahwa stres dan tekanan finansial dapat berkaitan dengan munculnya komunikasi yang lebih negatif dalam hubungan.

Artinya, masalah yang muncul menjelang pernikahan bisa saja bukan semata-mata karena hubungan kamu buruk. Tekanan dari berbagai urusan yang datang bersamaan juga bisa membuat emosi lebih mudah terpancing.

Lalu, apa saja cobaan yang mungkin muncul sebelum pernikahan dan bagaimana cara menghadapinya?
 

1. Masalah uang mulai bikin hubungan panas


Ini salah satu topik yang cukup sensitif dalam hubungan.

Biaya gedung, katering, pakaian, dekorasi, dokumentasi, undangan, hingga kebutuhan setelah menikah bisa membuat anggaran membengkak tanpa terasa.

Menurut American Psychological Association (APA), masalah keuangan termasuk sumber konflik yang umum dalam hubungan. Perbedaan pandangan mengenai cara menggunakan, menabung, dan mengelola uang juga dapat memicu pertengkaran.

Cara mengatasinya:

Jangan menunggu sampai tagihan datang baru membicarakan uang.

Duduk bersama dan bicarakan kondisi keuangan secara terbuka. Berapa dana yang tersedia? Siapa yang membayar? Apakah ada bantuan dari keluarga? Apakah perlu berutang? Berapa dana yang harus disisakan setelah pesta pernikahan?

Buat kesepakatan berdasarkan kemampuan, bukan berdasarkan gengsi.

Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan pasangan sebagai lawan ketika membicarakan uang. Kalian sedang menghadapi masalah yang sama, jadi posisikan diri sebagai satu tim.
 

2. Kamu dan pasangan mulai sering bertengkar


Sebelum menikah, mungkin kamu dan pasangan jarang bertengkar. Tapi begitu persiapan dimulai, rasanya ada saja yang diperdebatkan.

Mulai dari warna dekorasi, jumlah tamu, lokasi pernikahan, sampai siapa yang harus diundang.

Masalah kecil pun bisa berubah menjadi pertengkaran besar karena masing-masing sedang lelah.

APA menyebutkan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari hubungan. Namun, cara pasangan menghadapi konflik menjadi hal penting. Pola komunikasi yang destruktif seperti berteriak, saling menyerang secara pribadi, atau memilih menarik diri dari pembicaraan dapat berdampak buruk pada hubungan.

Cara mengatasinya:

Bedakan antara masalah dan pasanganmu.

Kalau kamu tidak setuju dengan keputusan pasangan, kritik keputusannya, bukan pribadinya.

Daripada berkata, "Kamu memang selalu egois," lebih baik katakan, "Aku merasa keputusan ini belum mempertimbangkan kondisi keuangan kita."

Kedengarannya sederhana, tetapi pilihan kata bisa membuat percakapan berubah total.

Kalau emosi sudah terlalu tinggi, tidak ada salahnya berhenti sejenak dan melanjutkan pembicaraan setelah kalian sama-sama tenang.
 

3. Keluarga mulai ikut campur


Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang. Dalam banyak keluarga, persiapan pernikahan juga melibatkan dua keluarga besar.

Di sinilah potensi drama baru muncul.

Keluarga kamu punya keinginan sendiri. Keluarga pasangan juga punya pendapat. Kamu dan pasangan mungkin ingin konsep sederhana, sementara orang tua menginginkan pesta besar.

Bukan berarti salah satu pihak jahat. Bisa jadi semua orang merasa sedang memberikan yang terbaik.

Cara mengatasinya:

Sebelum menghadapi keluarga, kamu dan pasangan harus punya kesepakatan terlebih dahulu.

Tentukan hal-hal apa yang bisa dikompromikan dan mana yang menjadi keputusan kalian berdua.

Setelah itu, komunikasikan keputusan tersebut bersama-sama. Jangan sampai pasangan menghadapi keluarganya sendiri sendirian sementara kamu hanya menjadi penonton.

4. Ekspektasi pernikahan mulai tidak realistis


Media sosial bisa membuat pernikahan terlihat seperti dongeng.

Dekorasi cantik, foto romantis, venue mewah, gaun sempurna, dan pasangan yang selalu terlihat bahagia.

Masalahnya, kehidupan nyata tidak selalu seperti unggahan Instagram.

Kamu mungkin mulai membandingkan persiapan pernikahan sendiri dengan pasangan lain. Akhirnya, sesuatu yang sebenarnya sudah bagus malah terasa kurang.

Cara mengatasinya:

Kembali ke alasan utama kamu menikah.

Pernikahan bukan kompetisi tentang siapa yang punya dekorasi paling mahal atau pesta paling ramai.

Buat daftar prioritas bersama pasangan. Tentukan hal yang benar-benar penting bagi kalian dan jangan memaksakan semua tren masuk ke dalam acara.
 

5. Pembagian tugas terasa tidak adil


"Kenapa aku yang ngurus semuanya?"

Kalimat seperti ini bisa muncul ketika satu orang merasa terlalu banyak mengurus persiapan pernikahan.

Mulai dari menghubungi vendor, mencatat tamu, mengurus undangan, memilih dekorasi, sampai memastikan pembayaran. Kalau semuanya dilakukan satu orang, rasa lelah dan kesal tentu bisa menumpuk.

Cara mengatasinya:

Bagi tugas secara jelas.

Jangan hanya berkata, "Tolong bantu aku." Buat pembagian yang spesifik.

Misalnya, kamu mengurus undangan dan komunikasi dengan keluarga, sementara pasangan menangani vendor katering dan pembayaran.

Dengan pembagian yang jelas, masing-masing tahu tanggung jawabnya.

Dan jangan lupa, apresiasi pasangan ketika dia sudah membantu. Sesederhana mengucapkan "Terima kasih" pun bisa membuat kerja sama terasa lebih ringan.
 

6. Muncul keraguan: "Benarkah dia orangnya?"


Ini bagian yang mungkin paling bikin panik.

Di tengah stres persiapan pernikahan, tiba-tiba kamu mulai mempertanyakan hubungan sendiri.

"Benarkah aku siap menikah?"

"Apakah aku sudah mengenalnya dengan baik?"

"Bagaimana kalau setelah menikah semuanya berubah?"

Keraguan tidak selalu berarti hubungan harus berakhir. Menikah memang merupakan keputusan besar sehingga wajar jika muncul berbagai pertanyaan.

Namun, jangan mengabaikan keraguan yang berkaitan dengan masalah serius.

Cara mengatasinya:

Bicarakan hal-hal mendasar sebelum menikah, termasuk keuangan, tempat tinggal, pekerjaan, anak, hubungan dengan keluarga besar, pembagian pekerjaan rumah, hingga cara menyelesaikan konflik.

Menurut APA, konseling pranikah dapat membantu pasangan membicarakan ekspektasi dan kebutuhan sebelum menikah. Program pendidikan pernikahan yang mengajarkan komunikasi, mendengarkan pasangan, dan penyelesaian konflik juga dapat membantu memperkuat hubungan.
 

7. Stres membuat kalian lupa menikmati hubungan


Ini yang sering terjadi tanpa disadari.

Setiap kali bertemu, pembicaraannya cuma soal pernikahan.

"Vendor sudah dibayar?"

"Undangannya sudah?"

"Besok ketemu WO jam berapa?"

"Daftar tamu sudah selesai?"

Lama-lama kamu dan pasangan seperti berubah menjadi rekan kerja proyek pernikahan.

Padahal, kalian sedang mempersiapkan kehidupan bersama.

Cara mengatasinya:

Sisihkan waktu khusus yang bebas dari pembicaraan soal pernikahan.

Pergi makan berdua, jalan-jalan, menonton film, olahraga bersama, atau sekadar ngobrol tanpa membuka spreadsheet persiapan pernikahan.

Hubungan tetap perlu dirawat di tengah kesibukan. APA juga menyarankan pasangan meluangkan waktu untuk tetap terhubung dan membicarakan hal-hal personal, bukan hanya urusan rumah tangga.

Kapan harus mencari bantuan?

Tidak semua masalah harus diselesaikan berdua.

Kalau kamu dan pasangan terus mengalami konflik yang sama, sulit berkomunikasi, atau setiap pembicaraan selalu berakhir dengan pertengkaran, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.

Konseling pranikah bisa menjadi salah satu pilihan. Kamu tidak perlu menunggu sampai hubungan berada di ujung tanduk untuk meminta bantuan.

Penelitian dan panduan psikologi menunjukkan bahwa membicarakan ekspektasi, kebutuhan, keuangan, konflik, dan berbagai persoalan penting sebelum menikah dapat membantu pasangan mempersiapkan kehidupan pernikahan dengan lebih baik.

Namun, ada satu hal penting: jangan menganggap semua cobaan sebelum menikah sebagai "ujian yang pasti harus dilewati."

Jika yang terjadi adalah kekerasan fisik atau seksual, ancaman, kontrol berlebihan, penghinaan terus-menerus, manipulasi, atau perilaku lain yang membuat kamu merasa tidak aman, persoalannya bukan sekadar stres menjelang pernikahan. Keselamatan dan kesehatan mental kamu harus menjadi prioritas.
 

Pernikahan bukan tentang pesta satu hari


Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang bagaimana membuat hari H berjalan sempurna.

Pesta mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Setelah itu, kamu dan pasangan akan menjalani kehidupan yang sebenarnya.

Karena itu, cobaan sebelum pernikahan sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kamu dan pasangan bekerja sebagai tim.

Apakah kalian bisa membicarakan uang tanpa saling menyalahkan? Bisa menghadapi campur tangan keluarga? Bisa menyelesaikan perbedaan pendapat? Bisa meminta bantuan ketika sudah kewalahan?

Kalau iya, mungkin yang sedang kalian persiapkan bukan sekadar pesta pernikahan, tetapi juga latihan kecil untuk menghadapi kehidupan setelahnya.

Jadi, kalau menjelang hari H tiba-tiba banyak masalah datang, jangan buru-buru menganggap semuanya sebagai pertanda buruk.

Tarik napas. Duduk bersama. Bicara baik-baik.

Karena yang paling penting bukan seberapa sempurna pesta pernikahan kalian, tetapi seberapa siap kalian menghadapi kehidupan setelah pesta selesai.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH