FAMILY

Transformasi Perpustakaan Membentuk Ekosistem Digital Nasional

K. Yudha Wirakusuma
Rabu 14 September 2022 / 20:17
Jakarta: Sejak dini buah hati sebaiknya diperkenalkan dengan literasi digital. Buah hati menguasai untuk menghadapi masa depan yang sarat akan teknologi. Literasi digital penting untuk meningkatkan kapasitas diri. Sebab, Hal perkembangan penggunaan teknologi dan internet saat ini begitu masif.Literasi digital tidak hanya soal mampu mengirim surat elektronik, mengoperasikan akun media sosial, dan memanfaatkan aplikasi e-commerce.

Menyambut era metavers, Perpustakaan Nasional dalam beberapa tahun terakhir sudah bertransformasi menyediakan bahan-bahan bacaan untuk mendukung ekosistem digital nasional. Sejumlah aplikasi pun dilahirkan, seperti Indonesia One Search (IOS) hingga Ipusnas.

“Tahun ini tagline Perpustakaan Nasional adalah transformasi perpustakaan menuju ekosistem digital nasional. Target kami tiga juta konten kreator di link-an yang kami himpun dari semua konten-konten kreator yang ada dari semua subjek pengetahuan,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, dalam diskusi Inspirato Sharing Session bertajuk “Transformasi Perpustakaan Membentuk Ekosistem Digital Nasional” yang disiarkan Vidio.com, Rabu, 14 September 2022. 

Bertepatan hari ini, 14 September 2022, Indonesia memperingati Hari Kunjung Perpustakaan dan Hari Literasi Internasional pada 8 September lalu, kami sudah berhasil melahirkan 3 juta konten creator. “Kami akan launching Januari 2023,” kata Syarif.

Syarif Bando mengatakan pihaknya juga telah membahas konektivitas antara Perpusnas dengan teknologi penyimpanan data digital (block chain) sehingga bisa terhubung dengan perpustakaan-perpustakaan besar di dunia. 

Untuk mendukung hal itu, maka Perpusnas perlu melakukan perubahan paradigma perpustakaan. Dari yang hanya penyedia koleksi buku menjadi transfer knowledge. “Tugas yang paling mendesak saat ini adalah melakukan transfer knowledge,” kata Syarif.

Ukuran keberhasilan pemerintah pada semua level perpustakaan yang dibangun adalah ketika terjadi kemajuan peningkatan kualitas hidup masyarakat yang paling rendah. Maka yang harus dilakukan, kata Syarif, adalah mengubah cara bepikir, yaitu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital. 

Manusia Indonesia kini dipaksa hidup dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat. “Dengan luas wilayah yang dimiliki, termasuk potensi alam dan sumber daya masyarakat, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah teknologi untuk percepatan. Kita bisa menjadi pengendali teknologi. Teknologi tentu akan membawa kebaikan, terlepas dari segi bisnisnya. Dari segi bisnis ini menjadi peluang untuk menguasai kita,” katanya. 

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan memberikan apreasiasinya terhadap apa yang dilakukan Perpusnas dalam melakukan percepatan proses transformasi perpustakaan.

Perpusnas punya visi yang jauh ke depan yang perlu dikolaborasikan dengan banyak pihak, mulai dari pegiat literasi dan komunitas literasi, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya. Terkait penciptaan 3 juta konten kreator, pihaknya sangat mengapresiasi sebagai gerakan sosial membentuk komunitas digital. 

“Ada keuntungan buat masyarakat digital, viewer pasti bertambah, lebih research full. Pembuat konten juga akan mencantumkan sumber dari Perpusnas, sehingga konten-konten yang dibuat sangat membantu dalam perkembangan pendidikan digital  literasi di Indonesia,” katanya. 

Di akhir diskusi, Syarif kembali mengingatkan seluruh anak bangsa, terutama generasi milenial untuk mengirimkan konten-konten ke Perpusnas. Konten yang bisa memandu masyarakat marjinal dan terdampak pandemik dalam menciptakan produk barang dan jasa di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Kami tidak ingin terlalu muluk-muluk. Kita bisa bangun jejaring yang kontributif membangun anak bangsa,” katanya.
(YDH)

MOST SEARCH