FAMILY

Keluarga Punya Peran Penting dalam Langkah Preventif Merokok bagi Usia Dini

A. Firdaus
Sabtu 14 Mei 2022 / 14:45
Jakarta: Pemerintah tengah berupaya menurunkan angka prevalensi perokok anak melalui berbagai upaya. Hal ini ditempuh demi tercapainya generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.

Target capaian turunnya prevalensi perokok anak membutuhkan peran dan dukungan semua pihak agar dapat terealisasi. Tak terkecuali pabrikan atau pengusaha rokok.

“Industri Hasil Tembakau (IHT) secara  konsisten mengkampanyekan tentang bahaya merokok pada anak usia 18 tahun kebawah. Tetapi, hal tersebut kurang mendapat dukungan dari masyarakat," kata Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (GAPRINDO) Benny Wachjudi.

Edukasi bahaya merokok kepada anak bahkan sudah dilakukan sejak 1999. Namun, penjualan rokok kepada anak-anak masih terjadi. Hal ini memperlihatkan bahwa upaya satu atau dua elemen saja tidak cukup untuk mencegah anak tidak merokok.

"Masih sulit dilakukan secara efektif. Inisiatif ini perlu mendapat dukungan Pemerintah sehingga lebih banyak pihak yang terinspirasi dan termotivasi untuk mendukung gerakan cegah perokok anak," terang Benny.

Untuk menekan angka perokok usia dini, menurut Benny, diperlukan intensifikasi langkah preventif dari keluarga. Khususnya para orang tua.

Orang tua memiliki peran penting dalam langkah pencegahan anak untuk tidak merokok. Di antaranya aktif menjalin komunikasi dengan anak, memberikan contoh yang baik, memperhatikan pergaulannya, serta memberikan edukasi tentang bahaya merokok.

Seperti yang diketahui, pada usia remaja anak-anak cenderung ingin mencoba segala sesuatu yang baru dikenalnya dari lingkungan pergaulannya. Hubungan orang tua dan anak juga menjadi lebih intensif selama 2 tahun terakhir, karena pandemi yang membatasi mobilisasi dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat. Hubungan dan komunikasi dengan keluarga di rumah menjadi kegiatan inti keseharian orang tua dan anak.

Seiring berjalannya perkembangan usia, anak akan banyak sekali bersinggungan dengan faktor-faktor eksternal yang berisiko membuat mereka berada di dalam pergaulan kurang positif, salah mengambil keputusan, mencoba hal baru yang secara norma tidak dibenarkan, misalnya seperti membolos sekolah, berbohong, sampai mengkonsumsi produk khusus konsumen dewasa, dan tentunya kecenderungan untuk mencoba rokok.

"Orang tua tidak hanya sekadar menegur sebagai tindakan awal dalam mencegah anak merokok, tetapi juga harus memiliki waktu bersama, berdiskusi, memberikan edukasi, dorongan dan motivasi untuk membangun kepercayaan diri agar anak tidak merokok," pungkas Benny.
(FIR)

MOST SEARCH