FAMILY

ASI Eksklusif hingga 6 Bulan Dikaitkan dengan Gejala ADHD Lebih Rendah pada Anak

A. Firdaus
Sabtu 29 Agustus 2026 / 10:19
Ringkasnya gini..
  • ASI Eksklusif hingga 6 Bulan Dikaitkan dengan Gejala ADHD Lebih Rendah pada Anak
  • Hubungan antara durasi ASI eksklusif dan gejala ADHD masih terlihat.
  • Penelitian tersebut menggunakan data observasional.
Jakarta: Pemberian ASI bukan cuma soal memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Bergen, Norwegia, menemukan adanya hubungan antara durasi pemberian ASI dan tingkat gejala attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak.

Penelitian yang melibatkan sekitar 37.600 keluarga dari Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa) tersebut menemukan, anak yang mendapat ASI eksklusif lebih lama hingga usia enam bulan cenderung memiliki tingkat gejala ADHD lebih rendah pada usia tiga, lima, dan delapan tahun.

Hubungan tersebut terlihat paling kuat ketika anak berusia tiga dan lima tahun, seperti dilaporkan SciTechDaily melansir Antara.
 

Namun, perlu digarisbawahi, penelitian ini belum membuktikan bahwa ASI secara langsung mencegah atau menurunkan ADHD. Para peneliti menemukan hubungan atau asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat.
 

Semakin Lama ASI Eksklusif, Gejala ADHD Makin Rendah


Penelitian ini berangkat dari kandungan ASI yang memiliki berbagai komponen penting bagi tumbuh kembang bayi, mulai dari asam lemak rantai panjang, asam amino, antibodi, bakteri bermanfaat, hingga zat lain yang berperan dalam perkembangan otak dan sistem kekebalan tubuh.

Sekitar enam bulan setelah melahirkan, para ibu yang menjadi peserta penelitian diminta melaporkan pola pemberian makan kepada anak. Informasi yang dikumpulkan mencakup durasi pemberian ASI eksklusif, ASI sebagian, serta kapan anak mulai mendapatkan cairan atau makanan pendamping.

Data tersebut kemudian digunakan peneliti untuk memperkirakan durasi ASI eksklusif setiap anak.

"Kami menemukan bahwa semakin lama seorang anak disusui secara eksklusif (hingga enam bulan), semakin rendah tingkat gejala ADHD pada usia tiga, lima, dan delapan tahun," kata Berit Skretting Solberg, psikiater sekaligus peneliti di Departemen Biomedis Universitas Bergen dan konsultan senior di Betanien Hospital.

Menariknya, hubungan serupa juga terlihat pada anak yang mendapatkan ASI dalam bentuk apa pun, bukan hanya ASI eksklusif.

Tingkat gejala ADHD cenderung lebih rendah seiring dengan semakin lama dan intensifnya pemberian ASI. Meski begitu, hubungan paling jelas terlihat pada anak yang mendapatkan ASI eksklusif hingga enam bulan.
 

Bukan Berarti ASI Pasti Mencegah ADHD


Para peneliti juga melakukan penyesuaian terhadap sejumlah faktor yang mungkin memengaruhi hasil penelitian.

Setelah penyesuaian tersebut, hubungan antara durasi ASI eksklusif dan gejala ADHD masih terlihat. Namun, efek yang ditemukan disebut jelas tetapi moderat.

"Bahkan setelah penyesuaian ini, tetap terdapat efek perlindungan yang jelas namun moderat dari durasi pemberian ASI eksklusif terhadap gejala ADHD di kemudian hari," jelas Solberg.

Meski terdengar menjanjikan, hasil ini tetap perlu dibaca dengan hati-hati.

Pasalnya, penelitian tersebut menggunakan data observasional. Artinya, peneliti mengamati hubungan antara pola pemberian ASI dan gejala ADHD tanpa memberikan perlakuan tertentu kepada peserta.

Karena itu, belum bisa disimpulkan bahwa semakin lama anak mendapat ASI secara langsung menyebabkan gejala ADHD menjadi lebih rendah.

Masih ada kemungkinan faktor lain ikut berperan.
 

Ada Keterbatasan Penelitian


Penelitian ini juga memiliki keterbatasan dari sisi karakteristik peserta.

Peserta dalam studi MoBa cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan lebih banyak memberikan ASI, termasuk dalam durasi yang lebih panjang, dibandingkan populasi Norwegia secara keseluruhan.

Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum tentu sepenuhnya dapat menggambarkan populasi umum.

Solberg pun menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memahami hubungan antara pemberian ASI dan perkembangan gejala ADHD pada anak.

Jadi, untuk saat ini, temuan tersebut bisa menjadi tambahan informasi mengenai berbagai manfaat yang mungkin berkaitan dengan pemberian ASI. Namun, ASI tidak bisa dianggap sebagai cara untuk mencegah ADHD, dan orang tua tidak perlu merasa bersalah jika kondisi tertentu membuat pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan tidak memungkinkan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH