FAMILY

Saat Remaja Bilang Ingin Menyerah, Ini yang Bisa Dilakukan Orang Terdekat

A. Firdaus
Kamis 27 Agustus 2026 / 09:13
Ringkasnya gini..
  • Pikiran bunuh diri pada remaja perlu ditanggapi serius. Kenali cara mendampingi, membuka komunikasi, dan kapan harus mencari bantuan profesional.
  • Alih-alih langsung memarahi atau menghakimi, pendekatan yang tenang dan penuh empati justru lebih dibutuhkan.
  • Membicarakan bunuh diri tidak membuat seseorang otomatis melakukan tindakan tersebut.
Jakarta: Masa remaja memang penuh perubahan. Tekanan sekolah, masalah pertemanan, konflik keluarga, hingga persoalan dalam diri sendiri bisa membuat remaja merasa kewalahan. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut bahkan dapat memunculkan pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup.

Situasi ini tentu tidak boleh dianggap sepele. Ketika seorang remaja mulai menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri atau membicarakan keinginan untuk bunuh diri, orang-orang terdekat perlu hadir dan memberikan dukungan.

Alih-alih langsung memarahi atau menghakimi, pendekatan yang tenang dan penuh empati justru lebih dibutuhkan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mendampingi remaja.
   

1. Ajak Bicara Tanpa Menghakimi


Hal pertama yang bisa dilakukan adalah membuka ruang komunikasi yang aman. Dengarkan cerita remaja tanpa langsung menyalahkan, memarahi, atau mengatakan bahwa masalah yang dihadapinya sepele.

Remaja yang sedang mengalami tekanan mungkin kesulitan menjelaskan apa yang dirasakan. Karena itu, orang tua atau orang terdekat bisa mulai dengan pertanyaan sederhana seperti, "Belakangan ini kamu kelihatan capek, ada yang mau kamu ceritakan?"

Jika menemukan tanda-tanda perilaku menyakiti diri, jangan langsung memberikan hukuman. Justru, cobalah memahami alasan di balik perilaku tersebut dan pastikan mereka tahu bahwa ada orang yang siap mendengarkan.
 

2. Pastikan Ada Orang yang Bisa Dipercaya


Remaja sebaiknya memiliki setidaknya satu orang dewasa atau orang tepercaya yang bisa dihubungi ketika sedang berada dalam kondisi sulit.

Orang tersebut bisa orang tua, guru, konselor sekolah, anggota keluarga, atau orang lain yang membuat mereka merasa aman.

Dukungan sederhana seperti bersedia mendengarkan tanpa menghakimi bisa membuat remaja merasa tidak sendirian. Namun, jika ada risiko bunuh diri yang segera, jangan membebankan keselamatan hanya kepada satu orang. Libatkan orang dewasa lain dan bantuan profesional.
 

3. Bantu Mengisi Hari dengan Aktivitas Positif


Ketika pikiran negatif terus muncul, mengajak remaja melakukan aktivitas yang ringan dan menyenangkan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan.

Misalnya, membuat jurnal, berjalan-jalan, berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan kegiatan yang memang mereka sukai.

Menulis beberapa hal yang disyukuri setiap hari juga dapat menjadi latihan untuk mengenali pengalaman positif. Namun, aktivitas seperti ini bukan pengganti bantuan profesional, terutama ketika remaja sudah memiliki pikiran atau rencana untuk bunuh diri.
 

4. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional


Jika pikiran untuk bunuh diri muncul, bantuan psikolog atau psikiater sangat penting. Tenaga profesional dapat membantu remaja memahami emosi, menghadapi tekanan, serta mencari strategi yang lebih aman untuk mengatasi masalah.

Orang tua dapat membantu dengan mencari profesional yang membuat anak merasa nyaman untuk bercerita. Jangan berkecil hati jika remaja belum langsung cocok dengan tenaga profesional pertama yang ditemui.

Yang terpenting, jangan membiarkan remaja menghadapi situasi tersebut sendirian.
 

Kalau Ada Risiko Bunuh Diri, Bertindak Sekarang


Jika remaja mengatakan ingin bunuh diri, memiliki rencana, sedang mencoba menyakiti diri, atau berada dalam bahaya saat ini, jangan tinggalkan mereka sendirian. Jauhkan akses terhadap benda, obat, atau sarana lain yang dapat digunakan untuk menyakiti diri dan segera cari bantuan darurat.

Di Indonesia, bantuan medis darurat dapat diakses melalui 119. Untuk kondisi yang mengancam nyawa, bawa remaja ke IGD rumah sakit terdekat.

Membicarakan bunuh diri tidak membuat seseorang otomatis melakukan tindakan tersebut. Justru, percakapan yang terbuka, empati, dan respons yang cepat dapat menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan remaja.

Yang paling penting, dengarkan tanpa menghakimi dan jangan menghadapi situasi ini sendirian.

Alih-alih langsung memarahi atau menghakimi, pendekatan yang tenang dan penuh empati justru lebih dibutuhkan. 

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH