FAMILY

Cara Mencegah Penularan Infeksi HIV dari Ibu ke Bayi yang Baru Dilahirkan

Raka Lestari
Selasa 15 Desember 2020 / 14:10
Jakarta: HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh. HIV memanfaatkan sistem tubuh pejamu untuk bertahan hidup dan terus bereplikasi menjadi lebih banyak. 

Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Sebanyak 90 persen penularan HIV pada anak terjadi akibat tertular dari ibunya pada masa kehamilan, saat persalinan, atau melalui ASI. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat memahami langkah pencegahan penularan HIV dalam keluarga.

Menurut dr. Nia Kurniati, Sp.A (K), dokter spesialis penyakit anak dan konsultan alergi dan imunologi anak RSUI menyampaikan bahwa Virus HIV dapat menular melalui beberapa cara diantaranya hubungan kelamin yang tidak aman, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, dan penularan dari ibu ke bayinya. 

Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi pada tahap kehamilan, persalinan, maupun saat menyusui.

“Setelah menjalani proses persalinan ibu harus tetap meneruskan konsumsi obat antiretroviral (ARV) seumur hidup dan menggunakan alat kontrasepsi," papar dr. Nia.

"Pada bayi setelah lahir diberikan ARV pencegahan selama maksimal enam minggu, bayi sebaiknya tidak diberikan ASI (Air Susu Ibu) untuk menghilangkan kemungkinan penularan hingga nol, dan melengkapi imunisasi dasar," ujar dr. Nia.


bayi
(Sebanyak 90 persen penularan HIV pada anak terjadi akibat tertular dari ibunya pada masa kehamilan, saat persalinan, atau melalui ASI. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Pemberian ASI pada situasi ibu mengidap infeksi HIV memerlukan pertimbangan atas keuntungan dan kerugiannya. Menilik dari panduan ASI dari IDAI, secara umum, pemberian makanan pada bayi yang berasal dari ibu penderita HIV positif dapat diuraikan sebagai   berikut:

1. Bila ibu memilih tetap memberikan ASI, maka ASI diberikan hanya selama enam bulan dan kemudian dihentikan. ASI diperah dan dihangatkan 56 cc selama 30  menit.

2. Bila ibu memilih untuk memberikan susu formula, maka susu formula harus diberikan dengan memenuhi lima kriteria AFASS(Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, Safe), sesuai dengan saran dari Dokter Spesialis Anak.

3. Tidak boleh memberikan ASI secara bersamaan dengan susu formula.

"Waktu yang tepat untuk pemeriksaan status HIV bagi bayi ketika pemeriksaan dilakukan setelah pemberian ARV profilaksis selesai (umur enam minggu). Pemeriksaan ini dilakukan sebanyak dua kali yaitu saat bayi berumur lima minggu dan antara umur empat sampai enam bulan. Pemeriksaan dilakukan menggunakan materi genetik virus dan tidak menggunakan pemeriksaan antibodi," tutup dr. Nia.

(TIN)

MOST SEARCH