FAMILY

Ciptakan School Well-Being, Langkah Strategis Cegah Bullying di Indonesia

A. Firdaus
Rabu 19 November 2025 / 19:01
Jakarta: Bullying di sekolah bukan lagi masalah kecil yang bisa diabaikan. Tanggung jawab tidak boleh dibebankan hanya pada guru dan orang tua saja. Semua elemen masyarakat, termasuk siswa, orang tua, guru, dan pemerintah, harus bersinergi sebagai satu kesatuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan positif. 

Indonesia sedang dalam kondisi darurat, sehingga kita perlu memperkuat berbagai elemen, termasuk di dalam keluarga. Orang tua harus menyiapkan anak-anak untuk bersikap sesuai harapan, seperti menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang plural dengan berbagai perbedaan.

Anak-anak sering tidak mampu mengidentifikasi kenapa orang lain bertindak seperti itu, dan mereka tidak tahu bagaimana merespons. Oleh karena itu, siswa harus bisa belajar mengelola emosi, sehingga risiko bullying berkurang. Di rumah, orang tua harus aktif mengajarkan nilai-nilai ini agar anak siap menghadapi dunia luar yang penuh perbedaan. Salah satu langkah utama yang disarankan untuk mencegah bullying adalah membangun lingkungan sekolah yang positif atau 'school well being'. Ini berarti menciptakan budaya inklusif di mana semua siswa saling menghargai dan menghormati. 

"Kita harus mengedepankan nilai-nilai kesetaraan, kejujuran, dan saling menghormati dalam kegiatan sehari-hari," ujar Debora Basari, M.Psi., Psikolog dan Dosen Psikologi Universitas Tarumanagara dalam acara Forum Diskusi Denpasar 12 Edisi ke-256 "Membangun Persahabatan Sehat, Mencegah Bullying di Sekolah" via Zoom, Rabu (19/11/25). 

Sekolah bisa menyelenggarakan kegiatan yang mengembangkan keterampilan sosial, seperti kerja sama tim, empati, dan komunikasi efektif. Selain itu, workshop tentang keberagaman budaya, agama, dan latar belakang sosial bisa membantu siswa belajar toleransi. 

Debora menambahkan bahwa seragam sekolah juga penting untuk mengurangi kesenjangan, karena semua siswa terlihat sama dan tidak ada yang mencolok. Edukasi tentang bahaya bullying juga menjadi kunci menurut Debora. 

Sekolah harus memberikan pemahaman kepada siswa, guru, dan orang tua tentang apa itu bullying, dampaknya, serta cara melaporkan atau menghentikannya. "Menyelenggarakan seminar atau pelatihan tentang bullying sangat efektif," ujarnya.

Program sosialisasi tentang hak asasi manusia dan perlindungan anak di kelas juga bisa diterapkan. Debora menekankan pentingnya informasi tentang cara melapor ke pihak berwenang dan bagaimana menjadi saksi yang baik untuk mendukung korban.

Selanjutnya, meningkatkan keterampilan sosial siswa adalah langkah penting. Debora merekomendasikan pelatihan yang mengajarkan cara menyelesaikan konflik secara damai tanpa kekerasan, mengelola emosi, dan mengontrol impuls agresif. Siswa perlu dilatih menjadi pendengar yang baik dan berbicara dengan sopan. Ini akan membantu mereka berinteraksi positif dengan teman-teman.

Debora juga mendorong pemberdayaan siswa sebagai agen perubahan. Siswa yang merasa punya peran akan lebih aktif mencegah bullying. Sekolah bisa membentuk kelompok 'teman sebaya' atau peer support untuk membantu korban dan mencegah perundungan.

"Kampanye anti-bullying yang melibatkan siswa, seperti menyuarakan pentingnya persahabatan, juga bisa dilakukan. Ruang diskusi terbuka untuk berbagi pengalaman akan membuat siswa merasa didukung," jelas Debora.

Oleh karena itu, pemantauan dan evaluasi berkala harus dilakukan secara berkelanjutan. Sekolah perlu survei rutin atau wawancara dengan siswa untuk mengetahui apakah bullying masih terjadi.

Selain itu, perlunya memantau perkembangan korban dan menyusun laporan tahunan tentang kebijakan anti-bullying juga penting. Dengan pendekatan ini, sekolah bisa menilai efektivitas program dan melakukan perbaikan.

Debora Basari berharap program pencegahan bullying ini bisa diperluas di seluruh Indonesia. "Dengan sinergi semua pihak, kita bisa menciptakan sekolah yang aman dan mendidik siswa untuk hidup harmonis," pungkasnya. 

Para orang tua dan guru diimbau untuk aktif terlibat karena masa depan anak-anak bergantung pada kerja sama kita semua. Jika bullying dibiarkan, dampaknya bisa berlangsung seumur hidup, tetapi dengan langkah-langkah ini, generasi muda bisa tumbuh lebih kuat dan empati.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH