Jakarta: New Mom, pernah enggak sih kalian menyelimuti bayi, tapi ia malah meringik atau justru bangun karena tidak senang diselimuti? Hmm, jika iya berarti kamu enggak sendirian, karena kebanyakan orang tua baru pasti mengalami kondisi serupa.
Pasalnya, kita mengira bayi akan kedinginan di ruangan ber-AC. Namun, nyatanya mereka justru lebih tahan pada suhu dingin dibandingkan orang dewasa lho!
Melansir akun Instagram @amelia_ongkowijoyo, penyebab bayi bisa lebih tahan dingin dari orang dewasa karena ia memiliki jaringan lemak coklat (brown adipose tissue) yang lebih banyak.
Terutama, pada bayi yang lahir cukup bulan dan terbatas hanya di jaringan bawah kulit leher dan punggung. Jaringan ini akan makin berkurang dan menyusut pada anak yang lebih besar dan hanya tertinggal sedikit pada orang dewasa.
Dalam sel jaringan lemak coklat, cadangan energi diubah menjadi panas. Keistimewaan lain dari jaringan ini adalah selnya dapat menyimpan sampai dengan 40 persen dari lemak bayi. Kenaikan suhu tubuh oleh jaringan ini dapat sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan kenaikan suhu akibat berolahraga.

(Jika orang dewasa pada suhu udara 20 derajat Celcius sudah kedinginan, bayi belum merasakan kedinginan. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
Kenaikan suhu oleh produksi panas sel lemak jaringan lemak coklat ini adalah penyesuaian terhadap suhu udara yang dingin dan akibat makan berlebihan, tanpa melibatkan kegiatan otot (dalam keadaan istirahat). Jadi, ini menjadikan bayi tidak mudah kedinginan bahkan sebaliknya mudah kepanasan.
Dibandingkan dengan orang dewasa muda, perbedaan daya tahan bayi terhadap udara dingin adalah sekitar 5 derajat Celcius dan sebaliknya terhadap udara panas.
Jadi, jika orang dewasa pada suhu udara 20 derajat Celcius sudah kedinginan, bayi belum merasakan kedinginan karena untuk bayi, suhu udara 20 derajat Celcius terasa hanya 25 derajat Celcius.
Sebaliknya, jika orang dewasa pada suhu udara 25 derajat Celcius merasa cukup dingin, bayi sudah kepanasan karena terasa sama dengan suhu udara 30 derajat Celcius.
Jadi wajar ya Mom kalau bayi enggak suka diselimutin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(yyy)
Pasalnya, kita mengira bayi akan kedinginan di ruangan ber-AC. Namun, nyatanya mereka justru lebih tahan pada suhu dingin dibandingkan orang dewasa lho!
Melansir akun Instagram @amelia_ongkowijoyo, penyebab bayi bisa lebih tahan dingin dari orang dewasa karena ia memiliki jaringan lemak coklat (brown adipose tissue) yang lebih banyak.
Terutama, pada bayi yang lahir cukup bulan dan terbatas hanya di jaringan bawah kulit leher dan punggung. Jaringan ini akan makin berkurang dan menyusut pada anak yang lebih besar dan hanya tertinggal sedikit pada orang dewasa.
Dalam sel jaringan lemak coklat, cadangan energi diubah menjadi panas. Keistimewaan lain dari jaringan ini adalah selnya dapat menyimpan sampai dengan 40 persen dari lemak bayi. Kenaikan suhu tubuh oleh jaringan ini dapat sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan kenaikan suhu akibat berolahraga.

(Jika orang dewasa pada suhu udara 20 derajat Celcius sudah kedinginan, bayi belum merasakan kedinginan. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
Kenaikan suhu oleh produksi panas sel lemak jaringan lemak coklat ini adalah penyesuaian terhadap suhu udara yang dingin dan akibat makan berlebihan, tanpa melibatkan kegiatan otot (dalam keadaan istirahat). Jadi, ini menjadikan bayi tidak mudah kedinginan bahkan sebaliknya mudah kepanasan.
Dibandingkan dengan orang dewasa muda, perbedaan daya tahan bayi terhadap udara dingin adalah sekitar 5 derajat Celcius dan sebaliknya terhadap udara panas.
Jadi, jika orang dewasa pada suhu udara 20 derajat Celcius sudah kedinginan, bayi belum merasakan kedinginan karena untuk bayi, suhu udara 20 derajat Celcius terasa hanya 25 derajat Celcius.
Sebaliknya, jika orang dewasa pada suhu udara 25 derajat Celcius merasa cukup dingin, bayi sudah kepanasan karena terasa sama dengan suhu udara 30 derajat Celcius.
Jadi wajar ya Mom kalau bayi enggak suka diselimutin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(yyy)