FAMILY

Apa Itu Catcalling, Pelecehan Seksual Berkedok Pujian

Sri Yanti Nainggolan
Jumat 10 Desember 2021 / 16:41
Jakarta: Komika Bintang Emon menyentil orang-orang yang sering melakukan catcalling. Ini adalah kejahatan jalanan yang tak jarang dialami masyarakat, terutama perempuan. 

Dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS), Berliana Widi Scarvanovi mendefinisikan catcalling sebagai bentuk pelecehan seksual. Terdapat beragam bentuk perilaku catcalling yang marak dilakukan pihak tidak bertanggung jawab. 

"Meliputi komentar bermuatan unsur seksual yang tidak diinginkan, isyarat provokatif, wolf-whistling, hingga pembunyian klakson kendaraan," kata Berliana mengutip siaran pers UNS, beberapa waktu lalu. 

Menurutnya, catcalling sering terjadi di tempat umum seperti transportasi umum, jalan raya, dan pusat perbelanjaan. 

Catcalling kerap terjadi di tempat umum. Foto: The Daily Texan
Catcalling kerap terjadi di tempat umum. Foto: The Daily Texan?

Beda catcalling dengan pujian

Berliana menegaskan catcalling dengan pujian amat berbeda. Khususnya dari energi yang disampaikan antara pihak yang sedang memuji dengan pihak yang melakukan catcalling

Ketika seseorang menyampaikan suatu pujian, terdapat energi positif yang disampaikan sehingga menciptakan suatu perasaan positif bagi pihak yang dipuji. Sementara, catcalling mendorong menciptakan energi yang negatif.

"Jadi enggak bisa disamakan antara catcalling dengan pujian karena energinya sudah sangat berbeda sekali," simpul Berliana.

Baca: Bintang Emon Kritik Keras Kekerasan Seksual pada Wanita, dari Pakaian hingga Catcalling

Alasan orang berani melakukan catcalling

Berliana menambahkan, faktor anonimitas menjadi salah satu pendorong orang-orang melakukan perilaku catcalling. Pelaku pelecehan seksual ini semakin merasa bebas melakukan catcalling apabila semakin anonim. 

Adapun faktor lain yang semakin ‘melanggengkan’ perilaku catcalling seperti tidak ada perlawanan oleh korban atau disebut juga bystander effect. Teori ini menyebutkan bahwa seseorang akan menolong bila tak ada yang melihat. Sebaliknya, jika ada banyak saksi mata, seseorang cenderung mempunyai keinginan yang lebih kecil untuk menolong.
 

Dampak catcalling bagi korban

Berliana mengungkapkan perilaku catcalling memang tidak menimbulkan dampak yang besar pada korban. Namun, terus-menerus menerima catcalling, korban akan mengalami tekanan buruk, terutama berkenaan dengan citra diri dan kepercayaan diri.

"Dia jadi mempertanyakan tentang dirinya sendiri, merasa tidak percaya diri, atau berkaitan dengan citra dirinya yang menjadi buruk," ungkap Berliana.

Upaya pencegahan catcalling

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan sebagai upaya preventif dalam mencegah munculnya perilaku catcalling pada seseorang. Salah satunya, parenting yang baik dimana tidak hanya berfokus untuk anak perempuan saja, namun penting juga untuk anak laki-laki. 

Baca: P2G Desak Oknum Ustaz Dihukum Penjara Seumur Hidup dan Kebiri kimia

Orang tua perlu mengajarkan pentingnya saling menghormati dan empati pada anak. Kemudian, mengedukasi anak bahwa hal yang normal belum tentu benar, mengingat catcalling adalah sikap yang dinilai biasa saat ini. 

Cara menghadapi pelaku catcalling

Berliana menganjurkan beberapa hal yang bisa dilakukan bagi para korban catcalling. Pertama, korban dapat melawan dengan mengingatkan bahwa catcalling adalah perilaku tak baik. 

Namun, sikap itu sebaiknya melihat keadaan terlebih dulu. Situasi yang tak menudung dapat membuat pelaku catcalling melakukan hal berbahaya pada korban. Selain itu, cobalah meminta bantuan orang lain jika merasa tak nyaman dengan situasi tersebut. 
(SYN)

MOST SEARCH