FAMILY

Serba Salah di Rumah? Kenalan Sama Pola Asuh ‘Eggshell Parenting’ yang Lagi Viral

A. Firdaus
Sabtu 18 April 2026 / 19:10
Ringkasnya gini..
  • Istilah ini mulai ramai dibahas setelah muncul dalam video TikTok viral.
  • Beberapa cirinya antara lain sikap yang berubah-ubah.
  • Pola asuh seperti ini dapat berdampak serius, terutama pada ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Jakarta: Pernah merasa harus selalu berhati-hati saat berada di dekat anggota keluarga, seolah-olah setiap langkah bisa memicu reaksi yang tidak terduga? Jika sosok tersebut adalah orang tua, kondisi ini sering dikaitkan dengan konsep 'eggshell parenting'. 

Istilah ini mulai ramai dibahas setelah muncul dalam video TikTok viral oleh psikolog Kim Sage, Psy.D. Ia menggambarkan pola asuh ini sebagai situasi yang tidak konsisten, di mana anak sulit menebak bagaimana respons orang tuanya. Sehingga muncul rasa cemas dan perasaan seperti harus terus menjaga sikap setiap saat.

Di kolom komentar video tersebut, banyak orang tua berbagi pengalaman masa kecil mereka yang tumbuh dengan pola “eggshell parenting.” Sebagian merasa sedih mengingat kembali pengalaman tersebut, sementara yang lain mulai menyadari, bahwa mereka mungkin menerapkan pola serupa kepada anak-anak mereka, bahkan ada yang mencari cara untuk berubah menjadi lebih baik.
 
Menurut penjelasan Dr. Sage, pola asuh ini bisa berdampak pada hubungan antara orang tua dan anak. Untuk memahami lebih dalam, para ahli mencoba menguraikan seperti apa perilaku dalam pola asuh ini, dan bagaimana cara membangun interaksi yang lebih sehat dengan anak.
 

Apa itu “eggshell parenting”?


Pola asuh “telur” atau “eggshell parenting”, menggambarkan kondisi di mana anak merasa harus “berjalan di atas cangkang telur”, saat berinteraksi dengan orang tua atau pengasuh, karena reaksi yang muncul sering kali tidak dapat diprediksi. 

Beberapa cirinya antara lain sikap yang berubah-ubah, kurangnya pengakuan terhadap emosi anak, kecenderungan mengisolasi, mempermalukan, atau bahkan mengejek anak. Hal-hal ini membuat anak merasa bingung dan ragu terhadap respons, yang akan diterima dari waktu ke waktu.

Dalam video TikTok-nya, Dr. Sage juga menjelaskan bahwa kebiasaan seperti berteriak, melampiaskan emosi secara tiba-tiba, atau suasana hati yang mudah berubah dapat membuat anak merasa tertekan, karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
 

Apakah ada risiko dari “eggshell parenting”?


Sayangnya, pola asuh seperti ini dapat berdampak serius, terutama pada ikatan emosional antara orang tua dan anak. Selain itu, ada kemungkinan muncul masalah kesehatan mental atau penurunan rasa percaya diri di masa depan. 

Dilansir dari BabyCenter, Toya Roberson-Moore, M.D., psikiater dan direktur medis di Pathlight Mood & Anxiety Center, menjelaskan bahwa dampak jangka pendeknya bisa berupa stres akut pada anak, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, rasa takut berlebihan, kondisi tegang (hiperarousal), gangguan tidur, hingga kesulitan fokus.

Jika hubungan emosional tidak terbangun dengan baik sejak awal, kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah dalam hubungan di kemudian hari, bahkan bisa berkembang menjadi gangguan kepribadian. Selain itu, beberapa risiko lain yang mungkin muncul, yaitu depresi dan kecemasan, perilaku menentang, mudah marah, sering berdebat, agresi, PTSD.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH