FAMILY
Bayi Tersedak Saat Makan? Jangan Panik, Ini Cara Aman Mengatasinya
A. Firdaus
Jumat 30 Januari 2026 / 13:10
- Cara bayi tersedak bisa dilihat dari usianya.
- Tangisan atau penolakan saat makan.
- Jika muntah terjadi karena ketidaksukaan terhadap tekstur tertentu.
Jakarta: Meskipun situasi ini sering menimbulkan kepanikan, tersedak saat makan sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar makan yang normal pada bayi. Kondisi ini memang tidak mudah dihadapi, tetapi biasanya tidak berbahaya jika ditangani dengan tenang.
Sejak lahir hingga sekitar usia 7-9 bulan, refleks muntah bayi masih berada di bagian depan mulut. Akibatnya, muntah lebih sering terjadi saat pertama kali makanan padat diperkenalkan.
Seiring bertambahnya usia, sekitar 9-12 bulan, refleks tersebut akan bergeser ke bagian belakang mulut dan kejadian muntah biasanya akan berkurang.
Jika bayi mulai diperkenalkan pada makanan padat dan mengalami muntah, dilansir dari BabyCenter sembilan langkah berikut dapat dilakukan.
Pastikan bayi telah menunjukkan tanda kesiapan untuk makan makanan padat, yang umumnya terjadi sekitar usia 6 bulan.
Tanda-tanda tersebut meliputi kemampuan duduk tegak, kontrol kepala yang baik, kemampuan menggenggam, menunjukkan penolakan saat kenyang, serta ketertarikan pada makanan seperti condong ke depan dan membuka mulut ketika makanan didekatkan.
Sendok sebaiknya dimiringkan sehingga makanan menempel di bagian depan lidah, bukan dimasukkan sepenuhnya ke dalam mulut, karena hal tersebut dapat memicu refleks muntah.
Jika bayi mendorong makanan keluar dengan lidah, kondisi ini tidak selalu menandakan penolakan terhadap rasa makanan.
Hal tersebut sering kali merupakan bagian dari proses belajar makan. Pemberian makanan secara perlahan dapat membantu bayi menyesuaikan diri.
Setelah beberapa kali percobaan, bayi akan mulai menggunakan lidah untuk memindahkan makanan ke bagian belakang mulut.
Namun, jika setelah sekitar satu minggu bayi masih terus mendorong makanan keluar atau kesulitan menelan, kemungkinan bayi memang belum siap menerima makanan padat.
Muntah juga merupakan bagian yang wajar dari proses belajar makan mandiri. Bayi sedang mengembangkan keterampilan makan sendiri, yang secara alami akan disertai beberapa tantangan.
Bayi sebaiknya dibiarkan mengatasi muntah sendiri, dengan pengawasan ketat untuk memastikan tidak terjadi tersedak.
Untuk mengurangi risiko tersedak saat makan makanan jari, pilih makanan yang lembut, mudah dihancurkan, dan dipotong kecil setelah kemampuan menggenggam berkembang, biasanya sekitar usia 8 atau 9 bulan.
Pada baby-led weaning, potongan makanan sebaiknya cukup besar untuk digenggam, namun tetap memenuhi uji kelembutan, yaitu mudah dihancurkan di antara jari atau antara lidah dan langit-langit mulut.
Hindari makanan yang berisiko tinggi menyebabkan tersedak, seperti anggur utuh, sosis, kacang-kacangan, sayuran mentah, potongan besar daging atau keju, popcorn, serta makanan berbentuk silinder yang dapat menyumbat saluran napas.
Jika muntah terjadi karena ketidaksukaan terhadap tekstur tertentu, jenis makanan lain dapat dicoba. Penting untuk diingat bahwa bayi umumnya memerlukan beberapa kali paparan sebelum menerima makanan baru.
Tangisan atau penolakan saat makan biasanya merupakan tanda bahwa bayi sudah kenyang. Dalam kondisi ini, pemberian makan sebaiknya dihentikan dan tidak dilanjutkan dengan paksaan.
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman makan, frekuensi muntah umumnya akan berkurang, meskipun pada beberapa anak refleks muntah dapat tetap lebih aktif.
Jika muntah masih sering terjadi sekitar satu bulan setelah pengenalan makanan padat, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan saran lanjutan, pemeriksaan kemungkinan penyebab, atau rujukan ke spesialis bila diperlukan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Sejak lahir hingga sekitar usia 7-9 bulan, refleks muntah bayi masih berada di bagian depan mulut. Akibatnya, muntah lebih sering terjadi saat pertama kali makanan padat diperkenalkan.
Seiring bertambahnya usia, sekitar 9-12 bulan, refleks tersebut akan bergeser ke bagian belakang mulut dan kejadian muntah biasanya akan berkurang.
Jika bayi mulai diperkenalkan pada makanan padat dan mengalami muntah, dilansir dari BabyCenter sembilan langkah berikut dapat dilakukan.
1. Kesiapan bayi
Pastikan bayi telah menunjukkan tanda kesiapan untuk makan makanan padat, yang umumnya terjadi sekitar usia 6 bulan.
Tanda-tanda tersebut meliputi kemampuan duduk tegak, kontrol kepala yang baik, kemampuan menggenggam, menunjukkan penolakan saat kenyang, serta ketertarikan pada makanan seperti condong ke depan dan membuka mulut ketika makanan didekatkan.
2. Saat mulai memberi makanan, letakkan makanan dalam jumlah kecil di sendok
Sendok sebaiknya dimiringkan sehingga makanan menempel di bagian depan lidah, bukan dimasukkan sepenuhnya ke dalam mulut, karena hal tersebut dapat memicu refleks muntah.
3. Bukan penolakan
Jika bayi mendorong makanan keluar dengan lidah, kondisi ini tidak selalu menandakan penolakan terhadap rasa makanan.
Hal tersebut sering kali merupakan bagian dari proses belajar makan. Pemberian makanan secara perlahan dapat membantu bayi menyesuaikan diri.
4. Mulai menggunakan lidah
Setelah beberapa kali percobaan, bayi akan mulai menggunakan lidah untuk memindahkan makanan ke bagian belakang mulut.
Namun, jika setelah sekitar satu minggu bayi masih terus mendorong makanan keluar atau kesulitan menelan, kemungkinan bayi memang belum siap menerima makanan padat.
5. Pada metode baby-led weaning (makan sendiri menggunakan tangan tanpa disuapi)
Muntah juga merupakan bagian yang wajar dari proses belajar makan mandiri. Bayi sedang mengembangkan keterampilan makan sendiri, yang secara alami akan disertai beberapa tantangan.
Bayi sebaiknya dibiarkan mengatasi muntah sendiri, dengan pengawasan ketat untuk memastikan tidak terjadi tersedak.
6. Makanan yang lembut
Untuk mengurangi risiko tersedak saat makan makanan jari, pilih makanan yang lembut, mudah dihancurkan, dan dipotong kecil setelah kemampuan menggenggam berkembang, biasanya sekitar usia 8 atau 9 bulan.
Pada baby-led weaning, potongan makanan sebaiknya cukup besar untuk digenggam, namun tetap memenuhi uji kelembutan, yaitu mudah dihancurkan di antara jari atau antara lidah dan langit-langit mulut.
7. Makanan berisiko tinggi
Hindari makanan yang berisiko tinggi menyebabkan tersedak, seperti anggur utuh, sosis, kacang-kacangan, sayuran mentah, potongan besar daging atau keju, popcorn, serta makanan berbentuk silinder yang dapat menyumbat saluran napas.
8. Mencoba makanan lain
Jika muntah terjadi karena ketidaksukaan terhadap tekstur tertentu, jenis makanan lain dapat dicoba. Penting untuk diingat bahwa bayi umumnya memerlukan beberapa kali paparan sebelum menerima makanan baru.
9. Tangisan tanda bayi kekenyangan
Tangisan atau penolakan saat makan biasanya merupakan tanda bahwa bayi sudah kenyang. Dalam kondisi ini, pemberian makan sebaiknya dihentikan dan tidak dilanjutkan dengan paksaan.
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman makan, frekuensi muntah umumnya akan berkurang, meskipun pada beberapa anak refleks muntah dapat tetap lebih aktif.
Jika muntah masih sering terjadi sekitar satu bulan setelah pengenalan makanan padat, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan saran lanjutan, pemeriksaan kemungkinan penyebab, atau rujukan ke spesialis bila diperlukan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)