FAMILY
Fakta Baru! Penelitian Ungkap Bayi Usia 1 Tahun Sudah Bisa Membentuk Ingatan
A. Firdaus
Sabtu 25 Juli 2026 / 13:25
- Penelitian tersebut menemukan bahwa balita berusia 1 tahun ternyata sudah mampu membentuk ingatan.
- Amnesia infantil yaitu kondisi ketika seseorang tidak dapat mengingat masa-masa awal kehidupannya.
- Pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), untuk mengamati aktivitas otak bayi saat melihat gambar tempat di luar ruangan.
Jakarta: Selama bertahun-tahun para ilmuwan beranggapan, bahwa otak bayi belum berkembang cukup matang untuk membentuk memori. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan hasil yang berbeda.
Penelitian tersebut menemukan bahwa balita berusia 1 tahun ternyata sudah mampu membentuk ingatan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa, amnesia infantil yaitu kondisi ketika seseorang tidak dapat mengingat masa-masa awal kehidupannya, kemungkinan lebih berkaitan dengan proses penyimpanan atau mengakses kembali memori, bukan karena ingatan itu tidak pernah terbentuk.
Para ilmuwan sebelumnya menganggap hippocampus, bagian otak yang berperan penting dalam menyimpan ingatan tentang peristiwa tertentu, belum berkembang optimal pada bayi sehingga dianggap belum mampu membentuk memori. Namun, hasil penelitian menunjukkan hal yang berbeda.
“Dengan menunjukkan bahwa hippocampus terlibat dalam pembentukan memori pada bayi, penelitian kami membuktikan bahwa memori tertentu dapat tersimpan di otak bayi,” kata Tristan S. Yates, PhD, penulis utama studi ini dan peneliti pascadoktoral, di Departemen Psikologi Universitas Columbia dilansir dari Parents.
"Mungkin, alasan kita tidak mengingat masa bayi kita lebih berkaitan dengan hilangnya memori tersebut, atau menjadi tidak dapat diakses seiring berjalannya waktu. Penelitian lain menunjukkan bahwa kemungkinan yang terakhir ini mungkin benar, bahwa memori masa bayi kita mungkin masih ada, tetapi tersembunyi sehingga tidak dapat diakses," tambahnya.
Menurut Dr. Yates, tim peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), untuk mengamati aktivitas otak bayi saat melihat gambar tempat di luar ruangan, wajah manusia, dan mainan.
“fMRI adalah teknologi yang aman yang mengukur aliran darah di otak sebagai indikator aktivitas otak. Ketika neuron di otak aktif, terjadi peningkatan aliran darah ke neuron-neuron tersebut yang dapat diukur melalui perubahan pada hasil MRI,” jelas Dr. Yates.
Sebelum penelitian ini dilakukan, tim telah mengembangkan metode, agar pemeriksaan fMRI dapat dilakukan pada bayi dalam kondisi terjaga. Untuk membuat bayi tetap nyaman, ruang MRI disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Orang tua tetap berada di dalam ruangan, sementara bayi diberi bantalan yang nyaman serta diperbolehkan membawa mainan, botol susu, selimut, dan dot. Tim peneliti juga memutar film pendek di sela-sela pemeriksaan agar bayi tetap tenang.
Selama pengujian, bayi diperlihatkan latar belakang bergaya psikedelik yang dipadukan dengan berbagai gambar baru, seperti mainan anjing, gunung, atau wajah seorang wanita.
Sekitar satu menit kemudian, gambar yang sama ditampilkan kembali berdampingan dengan gambar baru, dari kategori yang sama untuk melihat apakah bayi mengenalinya.
“Kami memperkirakan, bahwa bayi akan lebih banyak menatap gambar yang sama dengan yang mereka lihat sebelumnya, yang menandakan bahwa mereka mengingat telah melihatnya pertama kali,” kata Dr. Yates.
“Dan ketika bayi lebih banyak menatap gambar yang mereka lihat sebelumnya, kami menemukan aktivitas yang lebih tinggi di hipokampus, yang menunjukkan bahwa hipokampus terlibat dalam pembentukan memori tersebut,” tambahnya.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Penelitian tersebut menemukan bahwa balita berusia 1 tahun ternyata sudah mampu membentuk ingatan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa, amnesia infantil yaitu kondisi ketika seseorang tidak dapat mengingat masa-masa awal kehidupannya, kemungkinan lebih berkaitan dengan proses penyimpanan atau mengakses kembali memori, bukan karena ingatan itu tidak pernah terbentuk.
Para ilmuwan sebelumnya menganggap hippocampus, bagian otak yang berperan penting dalam menyimpan ingatan tentang peristiwa tertentu, belum berkembang optimal pada bayi sehingga dianggap belum mampu membentuk memori. Namun, hasil penelitian menunjukkan hal yang berbeda.
“Dengan menunjukkan bahwa hippocampus terlibat dalam pembentukan memori pada bayi, penelitian kami membuktikan bahwa memori tertentu dapat tersimpan di otak bayi,” kata Tristan S. Yates, PhD, penulis utama studi ini dan peneliti pascadoktoral, di Departemen Psikologi Universitas Columbia dilansir dari Parents.
"Mungkin, alasan kita tidak mengingat masa bayi kita lebih berkaitan dengan hilangnya memori tersebut, atau menjadi tidak dapat diakses seiring berjalannya waktu. Penelitian lain menunjukkan bahwa kemungkinan yang terakhir ini mungkin benar, bahwa memori masa bayi kita mungkin masih ada, tetapi tersembunyi sehingga tidak dapat diakses," tambahnya.
Bagaimana peneliti menguji ingatan bayi?
Menurut Dr. Yates, tim peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), untuk mengamati aktivitas otak bayi saat melihat gambar tempat di luar ruangan, wajah manusia, dan mainan.
“fMRI adalah teknologi yang aman yang mengukur aliran darah di otak sebagai indikator aktivitas otak. Ketika neuron di otak aktif, terjadi peningkatan aliran darah ke neuron-neuron tersebut yang dapat diukur melalui perubahan pada hasil MRI,” jelas Dr. Yates.
Sebelum penelitian ini dilakukan, tim telah mengembangkan metode, agar pemeriksaan fMRI dapat dilakukan pada bayi dalam kondisi terjaga. Untuk membuat bayi tetap nyaman, ruang MRI disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Orang tua tetap berada di dalam ruangan, sementara bayi diberi bantalan yang nyaman serta diperbolehkan membawa mainan, botol susu, selimut, dan dot. Tim peneliti juga memutar film pendek di sela-sela pemeriksaan agar bayi tetap tenang.
Selama pengujian, bayi diperlihatkan latar belakang bergaya psikedelik yang dipadukan dengan berbagai gambar baru, seperti mainan anjing, gunung, atau wajah seorang wanita.
Sekitar satu menit kemudian, gambar yang sama ditampilkan kembali berdampingan dengan gambar baru, dari kategori yang sama untuk melihat apakah bayi mengenalinya.
“Kami memperkirakan, bahwa bayi akan lebih banyak menatap gambar yang sama dengan yang mereka lihat sebelumnya, yang menandakan bahwa mereka mengingat telah melihatnya pertama kali,” kata Dr. Yates.
“Dan ketika bayi lebih banyak menatap gambar yang mereka lihat sebelumnya, kami menemukan aktivitas yang lebih tinggi di hipokampus, yang menunjukkan bahwa hipokampus terlibat dalam pembentukan memori tersebut,” tambahnya.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)