FAMILY

Memberikan Metode Reward and Punishment pada Anak, Apakah Tepat?

Raka Lestari
Selasa 21 September 2021 / 19:45
Jakarta: Memberikan hadiah atau reward kepada anak ketika mereka melakukan suatu hal yang baik. Dan memberikan hukuman atau punishment kepada anak ketika mereka melakukan kesalahan merupakan hal yang cukup sering dilakukan oleh orang tua.

Kebiasaan ini juga sering disebut dengan sistem reward and punishment. Akan tetapi, apakah hal tersebut tepat dilakukan kepada anak-anak?  

“Jadi kita harus tahu, sistem reward seperti apa yang akan kita berikan. Orang tua harus tahu 5 bahasa kasih anak,” kata Samanta Elsener, M.Psi., Psikolog Anak dan Keluarga, dalam Bincang Shopee 10.10 Brands Festival: Rahasia Kebahagiaan Ibu & Anak di Tengah Pandemi, pada Selasa, 21 September 2021.

Samanta menambahkan, kalau anak sukanya dipeluk, tetapi memberikan reward untuk mereka dalam bentuk barang, tidak sesuai.

"Atau misalnya anak kita sukanya ditemenin, tetapi kita cuma memberikan pelukan saja maka tidak sesuai,” ujar Samanta.

Untuk itu, kita harus cari tahu apa bahasa kasih anak kita. Ada 5 bahasa kasih anak.

"Ada anak yang sukanya diberi hadiah, ada yang sukanya ditemani, ada yang sukanya dilayani, ada yang sukanya diberi pujian, ada juga yang sukanya diberi pelukan. Kelima hal ini harus diberikan semuanya pada anak usia di bawah 8 tahun secara seimbang, untuk mengetahui bahasa kasih anak kita yang mana,” jelas Samanta.

Sebagai contoh, Samanta menceritakan bahwa ia memeluk anaknya selama 8 kali setiap harinya. Kemudian, anak diberikan pujian ketika ia melakukan perilaku yang diharapkan oleh orang tua.

“Dan saat memberikan pujian, orang tua harus spesifik pujiannya. Sehingga anak merasa dihargai,” ujarnya.

Kemudian untuk punishment sebenarnya lebih kepada konsekuensi, bukan hukuman. Sebaiknya orang tua itu tidak memberikan hukuman.

"Misalnya mengurung anak, itu tidak boleh dilakukan. Ketika anak tidak melakukan suatu hal yang sudah disepakati, orang tua memberikan konsekuensi,” tutur Samanta.

Atau jika anak harus mencuci piring setiap habis makan, tetapi anak lupa tidak melakukannya. Jika anak melakukan hal itu berturut-turut selama 7 hari, berikan anak konsekuensi.

"Apa konsekuensinya? Mencucikan piring bekas makan orang di rumah,” kata Samanta.

“Kalau anak tidak membereskan mainan, konsekuensi yang berhubungan dengan itu misalnya anak harus membersihkan seluruh mainannya. Hal ini melatih tanggung jawab dan konsekuensi yang positif. Tidak membuat anak menjadi benci, menjadi trauma karena hukuman,” tutup Samanta.
(FIR)

MOST SEARCH