FAMILY
Pentingnya Edukasi Pemilahan Sampah Sejak Dini dengan Inisiatif Ini
Aulia Putriningtias
Rabu 10 Juni 2026 / 10:46
- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah menerbitkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
- Instruksi ini menargetkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
- Kebijakan pilah sampah Jakarta sendiri lahir dari tekanan yang nyata.
Jakarta: Persoalan sampah di dunia memang tidak akan ada habisnya, termasuk Indonesia. Pemilahan sampah penting untuk dilakukan sejak dini.
Data Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyebut bahwa volume sampah di ibu kota mencapai 8.000 ton per hari pada triwulan I 2026.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah menerbitkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Instruksi ini menargetkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah. Pun, di rumah juga tidak hanya ada orang dewasa, tetapi juga hadirnya anak-anak.
Mengajarkan anak memilah sampah sejak dini menanamkan tanggung jawab, kepedulian lingkungan, dan kebiasaan hidup bersih. Pembiasaan ini menjadikan anak bagian dari solusi pelestarian alam hingga mereka dewasa.
Adapun beberapa manfaat mengajarkan anak untuk memilah sampah, antara lain:
Mengajarkan anak memilah sampah dapat melatih si kecil untuk peduli terhadap barang yang mereka gunakan dan bertanggung jawab atas sisa yang dibuang.
Si kecil dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan yang memicu penyebaran penyakit dan menyumbat saluran air yang berpotensi menyebabkan banjir.
Proses pemilahan bisa menjadi sarana edukasi untuk berinovasi. Mulai dari mengubah sampah anorganik tertentu menjadi prakarya atau kompos untuk tanaman.
Salah satu inisiatif yang bekerja untuk mendorong anak-anak dalam memilah sampah dengan baik adalah dengan paparan kartun. Kartun asal Indonesia, Nussa dan Rara adalah salah satu contohnya.

Visinema melalui Jakarta Future Festival (JFF) 2026 melakukan kolaborasi aktivitas 'Pilah Sampah Bersama Nussa'. Kegiatan ini untuk membantu anak-anak memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana.
"Karakter yang dekat bisa menjadi jembatan yang jauh lebih efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada anak-anak, termasuk soal lingkungan," ungkap Anggia Kharisma, Chief of Content Officer Visinema Studios.
Kebijakan pilah sampah Jakarta sendiri lahir dari tekanan yang nyata. TPST Bantar Gebang kapasitasnya terus menipis, sementara sampah di ibu kota tidak berhenti bertambah.
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari siswa-siswi dan guru. Dalam kegiatan ini peserta diperkenalkan pada tiga kategori sampah yang kini menjadi dasar pemisahan dari rumah, yaitu sampah organik anorganik, dan daur ulang.
Selain mendengar materi tentang jenis-jenis sampah, mereka langsung pegang dan pilah sampah sendiri. Orang tua yang menemani juga mendapatkan edukasi yang sama.
Melalui permainan dan praktik langsung, anak-anak belajar mengenali perbedaan setiap jenis sampah dengan cara yang mudah dipahami dan menyenangkan.
Pendekatan tersebut juga memperkuat pemahaman bahwa pemilahan sampah perlu dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Etika anak-anak memahami ke mana sampah seharusnya dibuang dan mengapa pemilahan penting dilakukan.
Anak-anak diarahkan menghafal aturan dan mulai membangun kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga. Bagi orang tua, kebiasaan baru ini harus dimulai dari rumah dan anak-anak perlu ikut terlibat dari awal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Data Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyebut bahwa volume sampah di ibu kota mencapai 8.000 ton per hari pada triwulan I 2026.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah menerbitkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Instruksi ini menargetkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah. Pun, di rumah juga tidak hanya ada orang dewasa, tetapi juga hadirnya anak-anak.
Mengajarkan anak memilah sampah sejak dini menanamkan tanggung jawab, kepedulian lingkungan, dan kebiasaan hidup bersih. Pembiasaan ini menjadikan anak bagian dari solusi pelestarian alam hingga mereka dewasa.
Adapun beberapa manfaat mengajarkan anak untuk memilah sampah, antara lain:
1. Membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab
Mengajarkan anak memilah sampah dapat melatih si kecil untuk peduli terhadap barang yang mereka gunakan dan bertanggung jawab atas sisa yang dibuang.
2. Mencegah penyakit dan bencana
Si kecil dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan yang memicu penyebaran penyakit dan menyumbat saluran air yang berpotensi menyebabkan banjir.
3. Mendorong kreativitas
Proses pemilahan bisa menjadi sarana edukasi untuk berinovasi. Mulai dari mengubah sampah anorganik tertentu menjadi prakarya atau kompos untuk tanaman.
Cara untuk mengajarkan anak-anak memilah sampah
Salah satu inisiatif yang bekerja untuk mendorong anak-anak dalam memilah sampah dengan baik adalah dengan paparan kartun. Kartun asal Indonesia, Nussa dan Rara adalah salah satu contohnya.

Visinema melalui Jakarta Future Festival (JFF) 2026 melakukan kolaborasi aktivitas 'Pilah Sampah Bersama Nussa'. Kegiatan ini untuk membantu anak-anak memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana.
"Karakter yang dekat bisa menjadi jembatan yang jauh lebih efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada anak-anak, termasuk soal lingkungan," ungkap Anggia Kharisma, Chief of Content Officer Visinema Studios.
Kebijakan pilah sampah Jakarta sendiri lahir dari tekanan yang nyata. TPST Bantar Gebang kapasitasnya terus menipis, sementara sampah di ibu kota tidak berhenti bertambah.
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari siswa-siswi dan guru. Dalam kegiatan ini peserta diperkenalkan pada tiga kategori sampah yang kini menjadi dasar pemisahan dari rumah, yaitu sampah organik anorganik, dan daur ulang.
Selain mendengar materi tentang jenis-jenis sampah, mereka langsung pegang dan pilah sampah sendiri. Orang tua yang menemani juga mendapatkan edukasi yang sama.
Melalui permainan dan praktik langsung, anak-anak belajar mengenali perbedaan setiap jenis sampah dengan cara yang mudah dipahami dan menyenangkan.
Pendekatan tersebut juga memperkuat pemahaman bahwa pemilahan sampah perlu dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Etika anak-anak memahami ke mana sampah seharusnya dibuang dan mengapa pemilahan penting dilakukan.
Anak-anak diarahkan menghafal aturan dan mulai membangun kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga. Bagi orang tua, kebiasaan baru ini harus dimulai dari rumah dan anak-anak perlu ikut terlibat dari awal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)