FAMILY

Sekilas Sama-sama Marah, Tapi Ini Bedanya Eggshell Parenting vs Emosi Orang Tua Biasa

A. Firdaus
Kamis 30 April 2026 / 08:14
Ringkasnya gini..
  • Ada perbedaan besar antara luapan emosi sesaat, yang masih wajar dengan pola asuh.
  • Perbedaan utama dari keduanya terletak pada konsep co-regulation.
  • Praktik co-regulation juga bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana.
Jakarta: Setiap orang tua pasti pernah merasa kewalahan, saat menghadapi tingkah laku anak. Rasa lelah, kesal, hingga frustrasi adalah hal yang sangat manusiawi, apalagi mengasuh anak memang dikenal sebagai salah satu tugas paling menantang. 

Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua bentuk kemarahan itu sama. Ada perbedaan besar antara luapan emosi sesaat, yang masih wajar dengan pola asuh seperti 'eggshell parenting', yang bisa berdampak lebih dalam pada kondisi emosional anak.

Dilansir dari BabyCenter, menurut Toya Roberson-Moore, M.D., psikiater dan direktur medis di Pathlight Mood & Anxiety Center, perbedaan utama dari keduanya terletak pada konsep co-regulation. Hal ini adalah kemampuan orang tua untuk membantu anak belajar mengelola emosi, dengan cara memberikan contoh langsung. 
 
Dalam situasi ini, orang tua tidak hanya bereaksi terhadap perilaku anak, tetapi juga hadir sebagai pendamping yang membantu anak memahami dan menenangkan perasaannya.

Dalam keseharian, terutama saat mengasuh balita, kehilangan kesabaran sesekali memang tidak bisa dihindari. Namun, di luar “eggshell parenting,” tujuan utama tetap untuk menghadapi emosi besar bersama anak, bukan meluapkannya secara sepihak.

Orang tua berusaha melihat dari sudut pandang anak, tetap menunjukkan empati, dan memahami bahwa anak sedang mengalami kesulitan, bukan sekadar “berperilaku buruk.” Perasaan anak bisa diakui dan divalidasi, tanpa mengabaikan batasan yang tetap perlu ditegakkan.

Dengan sudut pandang seperti ini, suasana menjadi lebih terkendali. Anak merasa didengar, sementara orang tua juga memiliki ruang untuk menenangkan diri. Contoh sederhana dari co-regulation bisa terlihat dari respons seperti, “Aku melihat kamu sedang mengalami kesulitan besar saat ini. Aku di sini untuk membantu. Aku juga merasa frustrasi. Aku akan mengambil waktu sejenak untuk mengambil segelas air dan memikirkan apa, yang harus dilakukan.” Pendekatan ini menunjukkan bagaimana emosi bisa dikelola dengan sehat, sekaligus menjadi contoh nyata bagi anak.

Selain itu, praktik co-regulation juga bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana, yang mudah diterapkan. Misalnya, saat anak berusia 3 tahun mengalami tantrum, orang tua bisa mengajak anak menghitung sampai lima bersama-sama, untuk membantu menenangkan diri. Cara ini tidak hanya meredakan emosi saat itu, tetapi juga mengajarkan anak keterampilan penting, untuk mengatur perasaannya di masa depan.

Sebaliknya, dalam “eggshell parenting,” kondisi yang terjadi cenderung tidak stabil. Reaksi orang tua sering berubah-ubah dan sulit diprediksi, sehingga anak merasa bingung dan cemas. Orang tua dalam pola ini biasanya kesulitan mengelola emosinya sendiri, sehingga tidak mampu menjadi sosok yang menenangkan atau penuh empati. Akibatnya, anak justru merasa harus selalu berhati-hati, dan tidak memiliki rasa aman secara emosional di rumah.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH