COMMUNITY

Gaya Hidup di Era Digital Terus Berubah, Kemampuan Beradaptasi Makin Penting

Elang Riki Yanuar
Rabu 26 Agustus 2026 / 13:00
Ringkasnya gini..
  • Media sosial kini menjadi ruang interaksi yang membentuk kebiasaan dan persepsi, sehingga cara berkomunikasi perlu terus beradaptasi.
  • Perbedaan karakter TikTok, Instagram, dan platform lain membuat pemahaman terhadap budaya digital semakin penting dalam membuat konten.
  • Perubahan perilaku audiens mendorong pendekatan social-first yang mengutamakan budaya, kebiasaan, dan cara masyarakat berinteraksi di ruang digital.
Jakarta: Perubahan perilaku masyarakat di ruang digital membuat brand perlu terus beradaptasi dalam membangun komunikasi dengan audiens. Media sosial kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menyebarkan materi kampanye, tetapi telah berkembang menjadi ruang interaksi yang ikut membentuk persepsi terhadap sebuah brand.

Perubahan tersebut juga terlihat dari cara audiens mengonsumsi konten. Setiap platform memiliki karakter, budaya, serta kebiasaan pengguna yang berbeda. Konten yang menarik perhatian di TikTok belum tentu memberikan dampak serupa ketika dipublikasikan di Instagram.

Di tengah kondisi tersebut, strategi komunikasi digital dituntut untuk lebih fleksibel. Brand tidak cukup hanya mengejar jumlah tayangan atau jangkauan, tetapi juga perlu memahami bagaimana audiens berinteraksi, membangun kepercayaan, serta menentukan konten yang dianggap relevan di komunitas mereka.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian Feel Good Network dengan bergabungnya Lengua, social-first creative agency, ke dalam ekosistem kreatif independennya. Kehadiran Lengua memperkuat kemampuan jaringan tersebut dalam strategi media sosial, produksi konten, storytelling berbasis platform, serta engagement melalui creator.

Lengua membawa pendekatan yang menempatkan perilaku audiens dan budaya digital sebagai bagian dari proses kreatif sejak awal. Pendekatan tersebut berangkat dari pemahaman bahwa media sosial tidak seharusnya hanya menjadi saluran distribusi setelah sebuah kampanye selesai dibuat.
Sebaliknya, karakter setiap platform perlu dipertimbangkan sejak tahap perencanaan. Bahasa yang digunakan, format konten, peran creator, hingga cara audiens berpartisipasi menjadi bagian dari strategi agar pesan brand dapat hadir secara lebih alami di tengah percakapan digital.

Sejak 2024, Lengua telah bekerja sama dengan Grab dalam lebih dari 40 kampanye. Kolaborasi tersebut mencakup strategi, KOL, storytelling yang disesuaikan dengan platform, hingga produksi konten di berbagai kanal media sosial.

Salah satu kampanye yang menonjol adalah #MelajuDenganSyantiek. Program perekrutan pengemudi perempuan Grab tersebut dikembangkan menjadi percakapan yang lebih luas dengan menempatkan para pengemudi perempuan sebagai tokoh utama dan melibatkan creator untuk memperkuat pesan.

Pendekatan tersebut menghasilkan 26,6 juta views, 8 juta reach, dan 1,3 juta engagements. Kampanye itu juga menarik lebih dari 20.000 prospek pengemudi perempuan serta menghasilkan estimasi ROI sebesar 2,82x.

Bagi brand, perubahan seperti ini menunjukkan bahwa memahami teknologi saja tidak cukup. Adaptasi di dunia digital juga membutuhkan pemahaman terhadap budaya, kebiasaan pengguna, serta cara sebuah komunitas membentuk dan menyebarkan percakapan.

Kinerja Lengua dalam pendekatan social-first tersebut juga mendapat pengakuan dari sejumlah ajang industri regional. Sepanjang 2026, Lengua meraih 16 penghargaan dari Hashtag Asia Awards dan Content Marketing Awards Asia-Pacific, yang terdiri atas 2 Gold, 4 Silver, dan 10 Bronze.

“Bergabungnya Lengua bukan sekadar tentang memperluas layanan yang kami tawarkan. Ini adalah tentang memperkuat ekosistem yang telah kami bangun. Ketika brand menghadapi platform sosial yang semakin kompleks, mereka membutuhkan para spesialis yang memahami budaya, algoritma, creator, dan konten—semuanya terhubung dalam satu strategi pertumbuhan. Inilah peran yang akan dimainkan Lengua di dalam Feel Good Network,” ujar Wisnu Satya Putra, Co-Founder & CEO of Feel Good Network.

Bergabungnya Lengua juga memberikan kesempatan bagi agensi tersebut untuk mengembangkan pendekatan social-first melalui jaringan yang lebih luas. Ekosistem tersebut mencakup spesialis di bidang brand, creative, content, creator, media, dan data.

“Kami tidak pernah menjadi agensi yang paling lantang di dalam sebuah ruangan, dan itu merupakan pilihan yang kami ambil secara sadar. Selama bertahun-tahun, kami berfokus membangun craft, people, dan perspektif berbasis budaya yang berangkat dari pemahaman terhadap manusia sebelum platform,” ujar Darryl Driyarto Han, Co-Founder & Managing Director Lengua.

Di dalam Feel Good Network, Lengua nantinya bekerja bersama sejumlah unit spesialis seperti Innercircle, 8RICKS, Tales Asia, serta tim yang bergerak di bidang content, creator, media, dan data.

Kolaborasi tersebut mencerminkan kebutuhan industri kreatif yang semakin kompleks. Ketika platform dan perilaku audiens terus berubah, brand membutuhkan strategi yang dapat menyesuaikan diri tanpa kehilangan karakter serta tujuan komunikasi.

Pada akhirnya, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perkembangan dunia digital. Brand tidak hanya perlu mengetahui di mana audiens berada, tetapi juga memahami bagaimana mereka berbicara, berinteraksi, menemukan informasi, dan membentuk makna di ruang digital.










 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)

MOST SEARCH