COMMUNITY

Mencetak Talenta Digital tak Cukup di Ruang Kelas

A. Firdaus
Selasa 15 September 2026 / 18:18
Ringkasnya gini..
  • Indonesia menargetkan 12 juta talenta digital pada 2030.
  • Sebanyak 4.600 kepala sekolah dan guru se-DIY berkesempatan mencoba platform tersebut.
  • Target 12 juta talenta digital pada 2030 pada akhirnya bukan hanya persoalan mengejar jumlah.
Yogyakarta: Indonesia sedang mengejar kebutuhan talenta digital yang jumlahnya terus bertambah. Pemerintah menargetkan ketersediaan 12 juta talenta digital pada 2030. Sementara saat ini jumlahnya berada di kisaran 9,3 juta, sehingga masih ada sekitar 2,7 juta talenta yang perlu disiapkan.

Untuk mengejar kebutuhan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan pencetakan sekitar 450 ribu talenta digital setiap tahun.

Angka tersebut bukan sekadar target di atas kertas. Di baliknya ada kebutuhan untuk menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menjawab persoalan nyata.



Sebab, kemampuan digital pada akhirnya bukan hanya tentang bisa menggunakan perangkat atau menguasai bahasa pemrograman. Talenta digital juga dituntut mampu melihat masalah, memahami kebutuhan pengguna, kemudian menerjemahkannya menjadi sebuah solusi.

Kebutuhan itulah yang membuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri, komunitas, dan ekosistem digital menjadi semakin penting.

Salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai pihak tersebut hadir melalui Jagoan Hosting Innovation Competition (JHIC) 2026 di Yogyakarta.

Sebanyak 1.800 talenta digital mengikuti kompetisi yang mendorong peserta mengembangkan solusi berbasis teknologi. Tahun ini, JHIC tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi memperluas ruang inovasi melalui tiga kategori, yakni Web Development, Digital Business Challenge, serta Penggerak Inovasi Digital bagi guru dan tenaga pendidik.
 

Bukan Sekadar Adu Kemampuan


Sekilas, kompetisi teknologi mungkin identik dengan peserta yang sibuk membuat kode, membangun situs web, atau mempresentasikan ide bisnis digital.

Namun, JHIC 2026 mencoba membawa pengalaman tersebut lebih jauh.

Peserta mendapatkan akses terhadap pelatihan dan mentoring, sekaligus kesempatan berinteraksi dengan profesional di industri teknologi. Dengan begitu, kompetisi tidak berhenti pada siapa yang menghasilkan karya, tetapi juga menjadi ruang belajar dan membangun jejaring.

Bagi talenta muda, pengalaman semacam ini dapat mempertemukan kemampuan yang dipelajari dengan persoalan yang benar-benar dihadapi di dunia industri.

Kolaborasi dalam JHIC 2026 melibatkan Ngalup.co bersama Garuda Spark dan Jagoan Hosting. Ketiganya mendorong agar pengembangan talenta digital tidak berhenti pada sebuah kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi solusi dan ekosistem yang memberikan dampak lebih panjang.

Irfan Rahmad Widiutomo, Direktur Ngalup.co, mengatakan peran Ngalup.co sebagai accelerator dan ecosystem builder adalah membantu perusahaan mengubah kolaborasi menjadi sesuatu yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Peran Ngalup.co sebagai accelerator adalah membantu perusahaan mengubah kolaborasi menjadi impactful IP. Jadi bukan hanya menghasilkan program atau event, tetapi bagaimana dari kolaborasi tersebut lahir sesuatu yang memberikan impact dan bisa terus dikembangkan,” ujar Irfan.

Menurutnya, salah satu bentuk konkretnya adalah Winasis, sementara JHIC menjadi ruang untuk mendorong lahirnya talenta dan solusi digital baru.
 

Dari Kompetisi ke Dunia Pendidikan


Menariknya, ekosistem yang dibangun melalui kolaborasi tersebut tidak hanya menyasar anak muda.

Pada pembukaan JHIC 2026 di Performance Hall FBSB Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), turut diperkenalkan Winasis, sebuah Learning Management System (LMS) yang dikembangkan Jagoan Hosting bersama Ngalup.co.

Medcom Komdigi
Sebanyak 1.800 talenta digital mengikuti kompetisi yang mendorong peserta mengembangkan solusi berbasis teknologi.  Dok. Ist

Platform tersebut ditujukan untuk mendukung akses pelatihan dan sertifikasi bagi guru, khususnya guru SMA dan SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sebanyak 4.600 kepala sekolah dan guru se-DIY berkesempatan mencoba platform tersebut.

Kehadiran Winasis menunjukkan bahwa transformasi digital di pendidikan tidak hanya berbicara mengenai siswa yang harus semakin akrab dengan teknologi. Guru dan tenaga pendidik juga perlu mendapatkan akses untuk meningkatkan kompetensinya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (Dikpora DIY), Drs. Raden Suci Rohmadi, M.I.P, mengatakan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri menjadi bagian penting dalam memperkuat kompetensi sumber daya manusia.

“Transformasi digital di dunia pendidikan membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Karena itu, kolaborasi seperti ini penting untuk membuka akses pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan saat ini,” ujar Suci.

Dengan kata lain, membangun talenta digital tidak bisa hanya dimulai ketika seseorang memasuki dunia kerja. Ekosistem pembelajaran perlu dibangun sejak pendidikan, termasuk dengan memperkuat kapasitas para pendidik.
 

Ketika Talenta Bertemu Kebutuhan Nyata


Ada satu hal yang menjadi benang merah antara Winasis dan JHIC.

Keduanya sama-sama berangkat dari kebutuhan nyata.

Winasis diarahkan untuk membantu pengembangan kompetensi guru. Sementara JHIC memberikan ruang kepada talenta muda untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan solusi berbasis teknologi.

Di sinilah peran ecosystem builder menjadi penting. Pemerintah memiliki dukungan dan kebijakan, dunia pendidikan memiliki ruang pembelajaran, industri mengetahui kebutuhan di lapangan, sementara komunitas dan ekosistem digital dapat menjadi penghubung berbagai pihak tersebut.

Kolaborasi kemudian tidak berhenti pada pertemuan atau penyelenggaraan sebuah acara.

Harapannya, dari proses tersebut lahir pengetahuan, jejaring, intellectual property (IP), hingga solusi yang dapat terus dikembangkan.

JHIC 2026 juga didukung Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai bagian dari upaya mendorong penguatan talenta digital Indonesia. Melalui kompetisi dan rangkaian pembelajaran, peserta didorong mengembangkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta memahami kebutuhan industri digital.
 

Mengejar Angka, Membangun Manusia


Target 12 juta talenta digital pada 2030 pada akhirnya bukan hanya persoalan mengejar jumlah.

Yang tidak kalah penting adalah memastikan talenta yang lahir memiliki kemampuan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Karena itu, ruang belajar perlu terus diperluas. Pengalaman praktis, mentoring, interaksi dengan industri, hingga kesempatan mengembangkan solusi menjadi bagian yang tidak kalah penting dari proses pendidikan.

JHIC 2026 memperlihatkan salah satu bentuk pendekatan tersebut. Di satu sisi, pelajar dan talenta muda diberi ruang untuk mengasah kemampuan digital. Di sisi lain, para guru dan tenaga pendidik mendapatkan akses untuk meningkatkan kompetensinya melalui Winasis.

Dua sisi ini saling berkaitan.

Guru yang semakin siap menghadapi transformasi digital dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif. Sementara talenta muda yang mendapatkan ruang untuk bereksperimen memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami bahwa teknologi bukan sekadar sesuatu yang digunakan, tetapi juga dapat dikembangkan untuk memecahkan masalah.

Perjalanan menuju 12 juta talenta digital Indonesia pun pada akhirnya tidak hanya membutuhkan angka dan target tahunan. Dibutuhkan ekosistem yang memungkinkan talenta untuk belajar, mencoba, gagal, berkolaborasi, dan menciptakan solusi.

Dan dari ruang-ruang seperti itulah, talenta digital masa depan Indonesia perlahan tumbuh.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH