COMMUNITY

Bukan Sekadar Festival, Toba Caldera Culture Festival Dorong Talenta Lokal Go Global

A. Firdaus
Sabtu 22 Agustus 2026 / 07:10
Ringkasnya gini..
  • TCCF 2026 merupakan platform kolaboratif yang diinisiasi ND Management.
  • kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat menjadi estafet untuk mendukung para pelaku ekonomi kreatif, khususnya di subsektor musik.
  • festival ini juga akan mengangkat kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber inspirasi untuk karya kreatif, produk unggulan, dan inovasi.
Jakarta: Musik dan budaya lokal bisa menjadi pintu untuk membawa talenta Indonesia melangkah lebih jauh. Hal itu menjadi salah satu semangat yang ingin didorong melalui Toba Caldera Culture Festival (TCCF) 2026 di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menilai kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, termasuk subsektor musik.

Hal tersebut disampaikan Teuku Riefky saat menerima kunjungan penyelenggara TCCF di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
"Konsep acara yang ingin dihadirkan Toba Caldera Culture Festival begitu bagus karena bagaimana local hero bisa go national, kemudian karya kreatif dan produk unggulan bisa kita dorong ke tingkat global," ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat menjadi estafet untuk mendukung para pelaku ekonomi kreatif, khususnya di subsektor musik.
 

Dari kompetisi paduan suara jadi festival budaya


TCCF 2026 merupakan platform kolaboratif yang diinisiasi ND Management. Festival ini menggabungkan berbagai elemen, mulai dari budaya, ekonomi kreatif, UMKM, inovasi, hingga investasi.

Rangkaian acaranya juga cukup beragam. Mulai dari pesta rakyat berupa marketplace, silaturahmi pemangku adat Nusantara, hingga kompetisi dan lokakarya paduan suara melalui Samosir International Choir Competition.

TCCF 2026 rencananya digelar di Kabupaten Samosir pada 24-27 September 2026.

Festival tersebut sebenarnya berawal dari kompetisi paduan suara. Seiring perkembangannya, cakupan kegiatan diperluas untuk menjadi wadah yang menghubungkan seni, budaya, kreativitas, dan peluang ekonomi.

Selain memperluas pasar dan menciptakan nilai tambah, TCCF juga membawa misi memperkenalkan sekaligus menjaga kekayaan budaya, seni, serta identitas Batak.
 

Kementerian Ekraf jajaki dukungan untuk festival


Teuku Riefky mengatakan Kementerian Ekraf akan melihat berbagai peluang untuk menghubungkan TCCF dengan program yang sudah berjalan, terutama yang berkaitan dengan subsektor musik.

Salah satunya melalui Deputi Bidang Kreativitas Media, khususnya Direktorat Musik.

"Kementerian Ekraf akan melihat dulu aktivasi apa yang bisa dilakukan dalam Toba Caldera Culture Festival. Nanti, kita pastikan bentuk dukungan dalam bentuk penjurian atau kita bisa ikut turut mengaktivasi rangkaian acara lain," kata Teuku Riefky.

Ia menegaskan, bentuk kolaborasi tersebut nantinya diharapkan tidak sekadar menjadi dukungan acara, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi ekosistem musik dan talenta muda.

"Paling penting programnya bisa memberikan manfaat langsung dan memperkuat ekosistem musik serta talenta-talenta muda," lanjutnya.

Dalam kompetisi paduan suara tersebut, TCCF akan melibatkan empat dewan juri internasional dan enam dewan juri nasional.
 

Anak muda punya peran besar di subsektor musik


Potensi subsektor musik juga terlihat dari komposisi tenaga kerja di dalamnya. Berdasarkan data BPS 2025 yang disampaikan Kementerian Ekraf, jumlah penduduk Indonesia yang bekerja di subsektor musik mencapai 220.714 jiwa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 41,62 persen merupakan generasi milenial, 33,61 persen generasi Z, dan 20,87 persen generasi X.

Data tersebut menunjukkan besarnya peran generasi muda dalam menggerakkan subsektor musik di Indonesia.

Karena itu, festival seperti TCCF tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga bisa menjadi tempat bertemunya talenta, komunitas, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ekonomi kreatif.
 

Bukan cuma soal Danau Toba


Ketua Steering Committee TCCF, Mora Nasution, mengatakan festival tersebut ingin melihat Danau Toba bukan hanya dari sisi destinasi wisatanya.

Menurutnya, Danau Toba sudah memiliki posisi sebagai salah satu destinasi super prioritas dengan daya tarik di tingkat internasional. Namun, pengembangan kawasan juga perlu berjalan beriringan dengan penguatan masyarakat, seni, dan budaya di dalamnya.

"Danau Toba itu menjadi salah satu destinasi super prioritas yang mana sudah punya kelas di mata dunia. Tapi, kita tidak hanya bicara bagaimana melestarikan tempatnya saja, tetapi juga bicara manusia dengan seni dan budaya yang berdampak terhadap nilai ekonomi," ujar Mora.

Ia berharap TCCF dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mengimplementasikan berbagai program Kementerian Ekraf di Sumatera Utara, bukan sekadar festival yang mendapat dukungan pemerintah.

Targetkan ribuan peserta

TCCF 2026 menargetkan hampir 2.000 peserta paduan suara serta 70 penyanyi vokal solo.

Selain kompetisi, festival ini juga akan mengangkat kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber inspirasi untuk karya kreatif, produk unggulan, dan inovasi.

Uniknya, musik dalam festival tersebut juga akan dikaitkan dengan filosofi dan identitas masyarakat Batak, seperti Dalihan Na Tolu, Tondi, Gondang, dan Tortor.

Dengan konsep tersebut, TCCF diharapkan bisa menjadi contoh bagaimana budaya lokal tidak hanya dijaga sebagai warisan, tetapi juga dikembangkan menjadi sumber kreativitas dan peluang ekonomi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH