BEAUTY

Media Sosial Mengubah Cara Masyarakat Memilih Produk Kecantikan

Elang Riki Yanuar
Kamis 10 September 2026 / 10:00
Ringkasnya gini..
  • Media sosial membuat masyarakat semakin mudah mengenal produk skincare melalui ulasan, tutorial, dan konten edukasi kecantikan.
  • Kemudahan informasi skincare di media sosial membuat konsumen perlu lebih selektif dalam menilai kandungan, keamanan, legalitas, dan kecocokan produk.
  • Media sosial kini menjadi ruang bagi brand skincare untuk membangun kepercayaan melalui edukasi, transparansi, dan komunikasi langsung dengan konsumen.
Jakarta: Perkembangan media sosial ikut mengubah cara masyarakat Indonesia mengenal dan memilih produk skincare. Informasi yang sebelumnya banyak diperoleh dari toko atau rekomendasi orang terdekat kini mudah ditemukan melalui berbagai platform digital.

Perubahan tersebut paling terasa di kalangan generasi muda. Konten mengenai perawatan kulit hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari tutorial, ulasan produk, pembahasan kandungan, hingga pengalaman pengguna.

TikTok menjadi salah satu platform yang berperan dalam perubahan kebiasaan tersebut. Berbagai istilah seperti serum, moisturizer, toner, dan sunscreen kini semakin familiar bagi masyarakat karena sering muncul dalam konten kecantikan.

Namun, banyaknya informasi di media sosial juga membuat konsumen perlu lebih selektif. Produk yang sedang ramai dibicarakan belum tentu sesuai dengan kondisi kulit setiap orang.

Konsumen perlu mempertimbangkan sejumlah hal sebelum memilih skincare, termasuk kandungan, cara penggunaan, kondisi kulit, serta informasi mengenai keamanan dan legalitas produk.

Perubahan tersebut juga membuat keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh iklan. Pengalaman pengguna lain, komentar di media sosial, hingga cara sebuah brand berkomunikasi dengan audiens dapat ikut membentuk kepercayaan konsumen.

Media sosial bahkan membuat pemilik brand memiliki kesempatan untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Sosok pemilik tidak lagi selalu berada di belakang layar, tetapi dapat ikut membangun hubungan dengan konsumen melalui konten digital.
Fenomena tersebut turut terlihat pada sejumlah bisnis skincare lokal, termasuk Fallin Beauty. Di tengah persaingan industri kecantikan yang semakin ramai, kehadiran di media sosial menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan brand sekaligus membangun komunikasi dengan audiens.

Menurut pemilik Fallin Beauty, Dafiq Imam Maulidi, edukasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan industri skincare.

"Karena pada akhirnya, skincare bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang kesadaran, informasi, keamanan, dan kepercayaan," ujarnya.

Selain edukasi, transparansi juga menjadi faktor penting bagi konsumen. Informasi mengenai kandungan dan cara penggunaan produk perlu disampaikan dengan jelas agar masyarakat dapat mengambil keputusan secara lebih bijak.

"Kedua, transparansi produk. Informasi mengenai kandungan, cara penggunaan, produsen, serta legalitas harus dapat dipahami konsumen sebelum melakukan pembelian," kata Dafiq Imam Maulidi selaku pemilik.

Media sosial juga memberikan ruang bagi brand untuk berinteraksi secara langsung dengan konsumen. Tidak hanya memperkenalkan produk, kanal digital dapat digunakan untuk mendengar pertanyaan, masukan, dan pengalaman pengguna.

"Ketiga, kekuatan media sosial. TikTok dapat menjadi sarana bagi sebuah brand untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun komunikasi secara langsung dengan masyarakat," lanjutnya.

Pada akhirnya, perkembangan media sosial membuat konsumen memiliki akses informasi yang jauh lebih luas. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi kemampuan untuk memilah informasi antara edukasi, pengalaman pribadi, dan promosi.

Bagi industri skincare lokal, perubahan perilaku konsumen ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Kepercayaan tidak hanya dibangun melalui produk, tetapi juga melalui informasi yang jelas dan komunikasi yang konsisten dengan masyarakat.










 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)

MOST SEARCH