BEAUTY
Mau Jalani Tindakan Estetika? Jangan Cuma Lihat Before-After di Medsos
A. Firdaus
Sabtu 05 September 2026 / 18:11
- Kenali empat standar keamanan yang perlu dicek, mulai dari kompetensi dokter hingga fasilitas dan prosedur medis.
- Dunia estetika dan bedah plastik terus berkembang.
- Memilih tindakan estetika bukan hanya soal ingin mendapatkan hasil tertentu.
Jakarta: Tindakan estetika kini terasa semakin dekat. Cukup membuka media sosial, berbagai video prosedur, foto before-after, hingga promosi paket treatment bisa dengan mudah ditemukan. Tak heran, keputusan yang dulu mungkin dipikirkan berbulan-bulan kini bisa diambil dalam hitungan hari.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: siapa yang melakukan tindakan, di mana prosedurnya dilakukan, dan apakah semuanya sudah sesuai standar medis?
Dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik dr. Danu Mahandaru, Sp.BP-RE, FICS, mengatakan keinginan masyarakat untuk melakukan tindakan estetika merupakan hal yang wajar. Persoalan muncul ketika keputusan dibuat hanya berdasarkan apa yang terlihat di media sosial.
“Makin banyak orang yang ingin melakukan tindakan estetika, dan itu wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika keputusan diambil berdasarkan apa yang terlihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik tindakan itu,” ujar dr. Danu.
Menurutnya, kasus pasien yang mengalami kekecewaan maupun komplikasi tidak selalu berarti tindakan estetika itu sendiri berbahaya. Risiko dapat meningkat ketika prosedur dilakukan di luar standar, misalnya oleh tenaga yang tidak memiliki kompetensi sesuai, di fasilitas yang tidak memiliki izin untuk tindakan tersebut, atau tanpa prosedur medis yang semestinya.
Keamanan dalam tindakan estetika tidak hanya bergantung pada kemampuan dokter saat melakukan prosedur. Ada beberapa lapisan standar yang perlu diperhatikan sejak sebelum tindakan dilakukan:
Hal pertama yang perlu diketahui adalah latar belakang dan kompetensi dokter yang akan melakukan tindakan.
Menurut dr. Danu, bedah plastik merupakan bidang spesialisasi dengan pendidikan formal yang panjang. Untuk mendapatkan gelar Sp.BP-RE, seorang dokter menjalani pendidikan dokter umum selama sekitar enam tahun, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik sekitar lima tahun.
“Tindakan estetika bukan soal keterampilan tangan semata. Yang membedakan adalah pemahaman anatomi, pengenalan risiko, dan kemampuan menangani komplikasi kalau terjadi. Itu tidak bisa dipelajari dari kursus singkat,” jelasnya.
Karena itu, pasien tidak perlu sungkan menanyakan pendidikan, kompetensi, maupun pelatihan yang dimiliki dokter sebelum memutuskan tindakan.
Keinginan pasien tidak selalu berarti tindakan tersebut tepat untuk dilakukan.
Dokter perlu melakukan penilaian terhadap kondisi kesehatan dan anatomi pasien sebelum menentukan prosedur. Bisa saja setelah konsultasi, dokter justru menyarankan tindakan berbeda atau bahkan tidak merekomendasikan prosedur yang diinginkan.
“Tugas dokter bukan memenuhi permintaan, tapi menilai apakah permintaan itu aman dan realistis untuk kondisi anatomi pasien. Kalau tidak, dokter harus berani mengatakan tidak,” kata dr. Danu.
Menurutnya, keputusan medis seharusnya lahir dari konsultasi dan pemeriksaan, bukan semata-mata karena pasien melihat hasil tindakan orang lain di media sosial.

Dokter yang kompeten saja belum cukup. Fasilitas tempat prosedur dilakukan juga perlu diperhatikan.
Setiap tindakan memiliki tingkat risiko berbeda sehingga membutuhkan fasilitas, peralatan, dan tenaga pendukung yang sesuai. Prosedur bedah yang membutuhkan anestesi, misalnya, tentu memiliki kebutuhan fasilitas yang berbeda dengan tindakan estetika minimal invasif.
“Pasien berhak tahu apakah tempat ia ditangani memang berizin untuk tindakan yang akan dilakukan. Ini bukan formalitas, ini soal apa yang tersedia jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Hal lain yang tak kalah penting adalah bagaimana dokter menjalankan prosedur sebelum hingga setelah tindakan.
Pasien seharusnya mendapatkan pemeriksaan awal, penjelasan mengenai manfaat dan risiko, informasi mengenai alternatif tindakan, serta kesempatan untuk bertanya sebelum memberikan persetujuan.
Rencana pemulihan dan jadwal kontrol setelah tindakan juga perlu dijelaskan sejak awal.
“Kalau tidak ada penjelasan risiko, sebenarnya belum ada persetujuan. Pasien hanya menandatangani kertas,” tutur dr. Danu.
Menariknya, menurut dr. Danu, standar keamanan justru sering kali paling terlihat sebelum prosedur dilakukan.
Konsultasi awal bisa saja berakhir dengan keputusan untuk menunda tindakan, memilih prosedur lain, atau bahkan tidak melakukan tindakan sama sekali.
Sebab, dokter perlu melihat apakah kondisi pasien benar-benar memungkinkan untuk menjalani prosedur yang diinginkan.
“Yang membuat pasien aman bukan satu momen di kamar operasi, tapi rangkaian keputusan kecil dari konsultasi pertama sampai kontrol terakhir. Semua itu harus berdiri di atas ilmu, bukan tren,” ujarnya.
Pemeriksaan kesehatan juga menjadi bagian penting, terutama bagi pasien yang akan menjalani tindakan bedah. Riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, serta kondisi lain yang dapat memengaruhi proses penyembuhan perlu diketahui dokter.
Setelah tindakan selesai, pasien juga perlu memiliki jalur komunikasi yang jelas apabila muncul keluhan atau kondisi yang tidak diharapkan.
Dunia estetika dan bedah plastik terus berkembang. Teknik yang dulu dianggap sebagai standar dapat mengalami perubahan seiring munculnya penelitian dan perkembangan teknologi.
Karena itu, dokter pun dituntut terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
Dr. Danu menempuh pendidikan dan berbagai pelatihan lanjutan di sejumlah pusat medis di luar negeri. Di antaranya pendalaman bidang kraniofasial dan bedah mikro di Chang Gung Memorial Hospital, Taiwan, pelatihan liposuction dan fat transfer di Berlin, fellowship di Korean College of Cosmetic Surgery, Seoul, hingga pelatihan robotic hair transplant di San Diego, Amerika Serikat.
Pengalamannya kemudian juga dibagikan kepada dokter lain melalui berbagai cadaver workshop injeksi estetika, forum ilmiah, serta sejumlah pertemuan medis nasional dan internasional.
“Mengajar itu memaksa dokter untuk selalu bisa menjelaskan alasan di balik setiap langkah. Kalau saya tidak bisa menjelaskan kenapa suatu teknik dipilih, saya tidak berhak melakukannya ke pasien,” katanya.
Menurutnya, pasien justru perlu aktif mencari tahu latar belakang dokter sebelum menjalani tindakan.
“Dokter yang benar-benar kompeten tidak akan tersinggung ditanya soal itu. Justru itu tanda pasien yang cerdas,” tambahnya.
Sebelum memutuskan melakukan tindakan estetika, KAMU juga bisa menggunakan konsultasi pertama untuk menggali informasi sebanyak mungkin.
Berdasarkan standar yang ditekankan dr. Danu, setidaknya ada tiga hal utama yang perlu ditanyakan kepada dokter:
- Apakah dokter memiliki kompetensi dan pelatihan yang sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan?
- Apakah tindakan tersebut memang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medis pasien?
- Apakah fasilitas tempat tindakan dilakukan memiliki izin, peralatan, dan dukungan tenaga yang sesuai?
Jawaban dari pertanyaan tersebut memang tidak bisa menjamin bahwa komplikasi tidak akan pernah terjadi. Dalam dunia kedokteran, setiap tindakan tetap memiliki risiko.
Namun, informasi tersebut dapat membantu pasien membuat keputusan berdasarkan pertimbangan medis, bukan sekadar tergoda tren atau hasil before-after di media sosial.
Pada akhirnya, memilih tindakan estetika bukan hanya soal ingin mendapatkan hasil tertentu. Yang tak kalah penting adalah memastikan proses untuk mendapatkannya dilakukan oleh orang yang tepat, di tempat yang tepat, dan dengan standar yang tepat.
(FIR)
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: siapa yang melakukan tindakan, di mana prosedurnya dilakukan, dan apakah semuanya sudah sesuai standar medis?
Dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik dr. Danu Mahandaru, Sp.BP-RE, FICS, mengatakan keinginan masyarakat untuk melakukan tindakan estetika merupakan hal yang wajar. Persoalan muncul ketika keputusan dibuat hanya berdasarkan apa yang terlihat di media sosial.
“Makin banyak orang yang ingin melakukan tindakan estetika, dan itu wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika keputusan diambil berdasarkan apa yang terlihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik tindakan itu,” ujar dr. Danu.
Menurutnya, kasus pasien yang mengalami kekecewaan maupun komplikasi tidak selalu berarti tindakan estetika itu sendiri berbahaya. Risiko dapat meningkat ketika prosedur dilakukan di luar standar, misalnya oleh tenaga yang tidak memiliki kompetensi sesuai, di fasilitas yang tidak memiliki izin untuk tindakan tersebut, atau tanpa prosedur medis yang semestinya.
4 Hal yang Perlu Dicek Sebelum Tindakan Estetika
Keamanan dalam tindakan estetika tidak hanya bergantung pada kemampuan dokter saat melakukan prosedur. Ada beberapa lapisan standar yang perlu diperhatikan sejak sebelum tindakan dilakukan:
1. Pastikan kompetensi dokter
Hal pertama yang perlu diketahui adalah latar belakang dan kompetensi dokter yang akan melakukan tindakan.
Menurut dr. Danu, bedah plastik merupakan bidang spesialisasi dengan pendidikan formal yang panjang. Untuk mendapatkan gelar Sp.BP-RE, seorang dokter menjalani pendidikan dokter umum selama sekitar enam tahun, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik sekitar lima tahun.
“Tindakan estetika bukan soal keterampilan tangan semata. Yang membedakan adalah pemahaman anatomi, pengenalan risiko, dan kemampuan menangani komplikasi kalau terjadi. Itu tidak bisa dipelajari dari kursus singkat,” jelasnya.
Karena itu, pasien tidak perlu sungkan menanyakan pendidikan, kompetensi, maupun pelatihan yang dimiliki dokter sebelum memutuskan tindakan.
2. Pastikan ada indikasi medis
Keinginan pasien tidak selalu berarti tindakan tersebut tepat untuk dilakukan.
Dokter perlu melakukan penilaian terhadap kondisi kesehatan dan anatomi pasien sebelum menentukan prosedur. Bisa saja setelah konsultasi, dokter justru menyarankan tindakan berbeda atau bahkan tidak merekomendasikan prosedur yang diinginkan.
“Tugas dokter bukan memenuhi permintaan, tapi menilai apakah permintaan itu aman dan realistis untuk kondisi anatomi pasien. Kalau tidak, dokter harus berani mengatakan tidak,” kata dr. Danu.
Menurutnya, keputusan medis seharusnya lahir dari konsultasi dan pemeriksaan, bukan semata-mata karena pasien melihat hasil tindakan orang lain di media sosial.

3. Perhatikan fasilitas tempat tindakan dilakukan
Dokter yang kompeten saja belum cukup. Fasilitas tempat prosedur dilakukan juga perlu diperhatikan.
Setiap tindakan memiliki tingkat risiko berbeda sehingga membutuhkan fasilitas, peralatan, dan tenaga pendukung yang sesuai. Prosedur bedah yang membutuhkan anestesi, misalnya, tentu memiliki kebutuhan fasilitas yang berbeda dengan tindakan estetika minimal invasif.
“Pasien berhak tahu apakah tempat ia ditangani memang berizin untuk tindakan yang akan dilakukan. Ini bukan formalitas, ini soal apa yang tersedia jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
4. Jangan lewatkan prosedur sebelum dan sesudah tindakan
Hal lain yang tak kalah penting adalah bagaimana dokter menjalankan prosedur sebelum hingga setelah tindakan.
Pasien seharusnya mendapatkan pemeriksaan awal, penjelasan mengenai manfaat dan risiko, informasi mengenai alternatif tindakan, serta kesempatan untuk bertanya sebelum memberikan persetujuan.
Rencana pemulihan dan jadwal kontrol setelah tindakan juga perlu dijelaskan sejak awal.
“Kalau tidak ada penjelasan risiko, sebenarnya belum ada persetujuan. Pasien hanya menandatangani kertas,” tutur dr. Danu.
Keamanan Dimulai Sebelum Masuk Ruang Tindakan
Menariknya, menurut dr. Danu, standar keamanan justru sering kali paling terlihat sebelum prosedur dilakukan.
Konsultasi awal bisa saja berakhir dengan keputusan untuk menunda tindakan, memilih prosedur lain, atau bahkan tidak melakukan tindakan sama sekali.
Sebab, dokter perlu melihat apakah kondisi pasien benar-benar memungkinkan untuk menjalani prosedur yang diinginkan.
“Yang membuat pasien aman bukan satu momen di kamar operasi, tapi rangkaian keputusan kecil dari konsultasi pertama sampai kontrol terakhir. Semua itu harus berdiri di atas ilmu, bukan tren,” ujarnya.
Pemeriksaan kesehatan juga menjadi bagian penting, terutama bagi pasien yang akan menjalani tindakan bedah. Riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, serta kondisi lain yang dapat memengaruhi proses penyembuhan perlu diketahui dokter.
Setelah tindakan selesai, pasien juga perlu memiliki jalur komunikasi yang jelas apabila muncul keluhan atau kondisi yang tidak diharapkan.
Dokter Juga Harus Terus Belajar
Dunia estetika dan bedah plastik terus berkembang. Teknik yang dulu dianggap sebagai standar dapat mengalami perubahan seiring munculnya penelitian dan perkembangan teknologi.
Karena itu, dokter pun dituntut terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
Dr. Danu menempuh pendidikan dan berbagai pelatihan lanjutan di sejumlah pusat medis di luar negeri. Di antaranya pendalaman bidang kraniofasial dan bedah mikro di Chang Gung Memorial Hospital, Taiwan, pelatihan liposuction dan fat transfer di Berlin, fellowship di Korean College of Cosmetic Surgery, Seoul, hingga pelatihan robotic hair transplant di San Diego, Amerika Serikat.
Pengalamannya kemudian juga dibagikan kepada dokter lain melalui berbagai cadaver workshop injeksi estetika, forum ilmiah, serta sejumlah pertemuan medis nasional dan internasional.
“Mengajar itu memaksa dokter untuk selalu bisa menjelaskan alasan di balik setiap langkah. Kalau saya tidak bisa menjelaskan kenapa suatu teknik dipilih, saya tidak berhak melakukannya ke pasien,” katanya.
Menurutnya, pasien justru perlu aktif mencari tahu latar belakang dokter sebelum menjalani tindakan.
“Dokter yang benar-benar kompeten tidak akan tersinggung ditanya soal itu. Justru itu tanda pasien yang cerdas,” tambahnya.
Tiga Pertanyaan Sebelum Memilih Dokter
Sebelum memutuskan melakukan tindakan estetika, KAMU juga bisa menggunakan konsultasi pertama untuk menggali informasi sebanyak mungkin.
Berdasarkan standar yang ditekankan dr. Danu, setidaknya ada tiga hal utama yang perlu ditanyakan kepada dokter:
- Apakah dokter memiliki kompetensi dan pelatihan yang sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan?
- Apakah tindakan tersebut memang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medis pasien?
- Apakah fasilitas tempat tindakan dilakukan memiliki izin, peralatan, dan dukungan tenaga yang sesuai?
Jawaban dari pertanyaan tersebut memang tidak bisa menjamin bahwa komplikasi tidak akan pernah terjadi. Dalam dunia kedokteran, setiap tindakan tetap memiliki risiko.
Namun, informasi tersebut dapat membantu pasien membuat keputusan berdasarkan pertimbangan medis, bukan sekadar tergoda tren atau hasil before-after di media sosial.
Pada akhirnya, memilih tindakan estetika bukan hanya soal ingin mendapatkan hasil tertentu. Yang tak kalah penting adalah memastikan proses untuk mendapatkannya dilakukan oleh orang yang tepat, di tempat yang tepat, dan dengan standar yang tepat.
(FIR)