BEAUTY

Retinol Dianggap sebagai 'Tokoh Antagonis', Benarkah?

Mia Vale
Senin 06 Juli 2026 / 14:11
Ringkasnya gini..
  • Dulu dipuja sebagai "standar emas" dalam dunia skincare, kini retinol justru memicu perdebatan sengit.
  • Ahli estetika, dokter kulit, dan tentu saja, kalangan kreator konten kerap memperingatkan tentang efek samping buruk retinol.
  • Menurut para ahli dermatologi, retinol bukanlah "penjahat". So, apalagi tentang retinol dari ahli?
Jakarta: Dulu dipuja sebagai "standar emas" dalam dunia skincare, kini retinol justru memicu perdebatan sengit, terutama di media sosial. 

Muncul kekhawatiran soal efek samping seperti iritasi parah hingga rumor bahwa retinol bisa membuat kulit setipis kertas. 

Ahli estetika, dokter kulit, dan tentu saja, kalangan kreator konten kerap memperingatkan tentang efek samping buruk retinol yang sering disebut sebagai "retinol uglies", yakni kondisi kulit yang tampak memburuk akibat penggunaan retinol. 
 
Ada anggapan, jika kamu menggunakan retinol secara rutin, kulit wajah akan menjadi sangat tipis hingga tampak seperti kertas. Nah, apakah anggapan itu benar? 
 

Kontroversi di balik retinol



(Retinol bantu memperbaiki tekstur kulit. Membuat permukaan kulit terasa lebih lembut dan menyamarkan tampilan pori-pori. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Perdebatan memuncak saat Uni Eropa membatasi konsentrasi retinol pada 2024. Hal ini memicu gelombang ketakutan yang salah kaprah di internet—mulai dari klaim soal kerusakan skin barrier hingga isu kesehatan yang lebih serius. 

Situasi ini diperparah dengan tren skin barrier recovery yang sedang populer, di mana banyak orang mulai menghindari bahan aktif yang dianggap terlalu "agresif."
 

Fakta vs. mitos


Menurut para ahli dermatologi, retinol bukanlah "penjahat". Retinol tetaplah salah satu bahan paling efektif dan teruji secara klinis untuk kesehatan kulit. Berikut beberapa poin penting yang perlu kamu tahu:

Bukan untuk semua orang: Tidak semua orang butuh retinol. Remaja di bawah 21 tahun (tanpa masalah jerawat), pemilik kulit sangat sensitif, atau ibu hamil/menyusui sebaiknya menghindarinya.

Tidak menipiskan kulit: Retinol justru meningkatkan produksi kolagen yang dapat menebalkan lapisan kulit dalam. Iritasi yang dialami pemula biasanya hanyalah reaksi awal saat kulit beradaptasi.
 
Bukan wajib: Retinol memang hebat, tapi bukan sebuah keharusan.
 

Jadi...


Retinol bukanlah solusi mutlak untuk setiap masalah kulit. Kuncinya bukan pada tren, melainkan pada kecocokan.

Jika ingin menggunakannya, pilihlah formula yang stabil, teruji, dan gunakan dengan frekuensi yang tepat sesuai kebutuhan kulitmu. Jangan tergiur tren, kenali dulu kebutuhan kulitmu sendiri ya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH