- Seseorang umumnya kehilangan sekitar 50–100 helai rambut setiap hari.
- Beberapa kebiasaan bahkan dapat membuat rambut mudah patah.
- Rambut rontok merupakan bagian dari siklus pertumbuhan rambut yang normal.
Jakarta: Rambut rontok saat keramas atau ketika menyisir mungkin pernah bikin kamu panik. Apalagi kalau helaian rambut yang menempel di sisir terasa makin banyak, sementara rambut justru terlihat semakin tipis.
Sebenarnya, rambut rontok merupakan bagian dari siklus pertumbuhan rambut yang normal. Menurut American Academy of Dermatology (AAD), seseorang umumnya kehilangan sekitar 50–100 helai rambut setiap hari. Namun, kerontokan yang berlebihan atau berlangsung terus-menerus perlu mendapat perhatian.
Selain faktor genetik, perubahan hormon, kondisi kesehatan, dan kekurangan nutrisi, kebiasaan merawat rambut juga bisa berkontribusi terhadap kerusakan rambut. Beberapa kebiasaan bahkan dapat membuat rambut mudah patah atau memicu kerontokan akibat tarikan berulang.
Nah, sebelum buru-buru membeli produk penumbuh rambut, coba cek tujuh kebiasaan berikut. Siapa tahu, ada yang masih sering kamu lakukan!
Gaya ponytail atau cepol memang praktis untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, mengikat rambut terlalu kencang secara terus-menerus bisa memberikan tekanan pada akar rambut.
Jika kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama, tarikan berulang dapat menyebabkan traction alopecia, yaitu kerontokan rambut akibat tekanan pada folikel rambut.
Kondisi ini biasanya terlihat di sekitar garis rambut, seperti dahi dan pelipis. Jika terus dibiarkan, kerusakan folikel dapat menjadi permanen.
Solusinya, pilih ikatan rambut yang lebih longgar dan sesekali biarkan rambut terurai. Jika gaya rambut terasa sakit, membuat kulit kepala tertarik, atau menimbulkan rasa perih, itu tandanya kamu perlu segera melonggarkannya.
Ingin rambut lurus dan rapi setiap hari? Penggunaan catokan atau hair dryer memang bisa membantu menata rambut. Namun, paparan panas berlebihan dapat merusak batang rambut sehingga menjadi kering, rapuh, dan mudah patah.
Rambut patah sering kali terlihat seperti kerontokan, padahal helaian tersebut tidak selalu terlepas dari akarnya.
Untuk mengurangi risiko kerusakan, gunakan alat penata rambut bersuhu rendah atau sedang dan batasi frekuensi pemakaiannya. Sebisa mungkin, biarkan rambut mengering secara alami sebelum ditata.
Jika menggunakan catokan, pastikan rambut sudah kering. Hindari pula menempelkan alat panas terlalu lama pada satu bagian rambut.
Setelah keramas, kebiasaan menggosok rambut dengan handuk hingga terasa kering mungkin masih sering dilakukan.
Padahal, rambut dalam keadaan basah cenderung lebih rentan mengalami kerusakan akibat tarikan dan gesekan. Menggosoknya terlalu keras bisa membuat batang rambut kusut, patah, dan bercabang.
Coba ubah kebiasaan ini dengan menepuk atau membungkus rambut menggunakan handuk secara lembut untuk menyerap air. Kamu juga bisa menggunakan handuk berbahan mikrofiber agar proses pengeringan lebih praktis.
Setelah itu, sisir rambut secara perlahan menggunakan sisir bergigi jarang, terutama jika rambut mudah kusut.
Rambut kusut memang bisa bikin kesal, apalagi ketika sedang terburu-buru. Namun, menarik sisir dengan paksa justru bisa menyebabkan rambut patah.
Kebiasaan menyisir berulang kali dengan tekanan berlebihan juga tidak membuat rambut tumbuh lebih cepat atau otomatis menjadi lebih sehat.
Saat rambut kusut, uraikan bagian ujungnya terlebih dahulu sebelum bergerak perlahan ke bagian atas. Gunakan kondisioner atau produk pengurai kusut jika diperlukan.
Bagi pemilik rambut lurus, membiarkan rambut sedikit mengering sebelum menyisirnya dapat membantu mengurangi risiko kerusakan. Sementara itu, rambut keriting atau bertekstur mungkin lebih mudah diurai ketika lembap dengan bantuan kondisioner dan sisir yang sesuai.
Mengganti warna rambut, melakukan bleaching, atau meluruskan rambut secara kimia memang bisa memberikan tampilan berbeda. Namun, prosedur tersebut berisiko merusak batang rambut, terutama jika dilakukan terlalu sering atau dengan teknik yang tidak tepat.
Rambut yang mengalami kerusakan kimia dapat menjadi kering, rapuh, dan mudah patah. Jika perawatan dilakukan berulang tanpa jeda yang cukup, kerusakan bisa semakin berat.
Bukan berarti kamu harus berhenti mewarnai rambut sepenuhnya. Namun, berikan jeda antartindakan, ikuti petunjuk penggunaan produk, dan pertimbangkan bantuan profesional untuk prosedur yang berisiko tinggi.
Jangan memaksakan beberapa perawatan kimia sekaligus hanya demi mendapatkan tampilan rambut yang diinginkan.
Menjaga berat badan memang boleh menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Namun, diet ekstrem yang membatasi asupan makanan secara berlebihan bisa berdampak pada kesehatan rambut.
Rambut membutuhkan protein dan berbagai nutrisi agar dapat tumbuh dengan baik. Penurunan berat badan yang cepat serta kekurangan nutrisi tertentu dapat memicu kerontokan pada sebagian orang.
Karena itu, hindari pola makan yang terlalu ketat tanpa pendampingan yang tepat. Pastikan menu harian tetap mencakup protein, sayuran, buah, serta sumber zat besi dan nutrisi lainnya.
Perlu diingat, kerontokan tidak selalu berarti tubuh kekurangan vitamin. Mengonsumsi suplemen secara sembarangan juga bukan solusi, karena kelebihan beberapa nutrisi justru dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Pekerjaan menumpuk, aktivitas padat, hingga masalah pribadi bisa membuat stres sulit dihindari. Namun, stres fisik atau emosional yang berat dapat memicu jenis kerontokan bernama telogen effluvium.
Pada kondisi ini, lebih banyak rambut memasuki fase istirahat secara bersamaan sehingga kerontokan dapat meningkat beberapa waktu setelah pemicu terjadi. Selain stres, kondisi ini juga bisa berkaitan dengan penyakit, persalinan, operasi, atau penurunan berat badan yang signifikan.
Kurang tidur bukan berarti otomatis menyebabkan rambut rontok. Namun, menjaga pola tidur dan mengelola stres merupakan bagian dari upaya merawat kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Cobalah membangun rutinitas tidur yang teratur, melakukan aktivitas fisik, dan menyediakan waktu untuk beristirahat. Jika rambut terus rontok meski kebiasaan sudah diperbaiki, jangan menganggap stres sebagai satu-satunya penyebab.
(FIR)
Sebenarnya, rambut rontok merupakan bagian dari siklus pertumbuhan rambut yang normal. Menurut American Academy of Dermatology (AAD), seseorang umumnya kehilangan sekitar 50–100 helai rambut setiap hari. Namun, kerontokan yang berlebihan atau berlangsung terus-menerus perlu mendapat perhatian.
Selain faktor genetik, perubahan hormon, kondisi kesehatan, dan kekurangan nutrisi, kebiasaan merawat rambut juga bisa berkontribusi terhadap kerusakan rambut. Beberapa kebiasaan bahkan dapat membuat rambut mudah patah atau memicu kerontokan akibat tarikan berulang.
Nah, sebelum buru-buru membeli produk penumbuh rambut, coba cek tujuh kebiasaan berikut. Siapa tahu, ada yang masih sering kamu lakukan!
1. Mengikat rambut terlalu kencang
Gaya ponytail atau cepol memang praktis untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, mengikat rambut terlalu kencang secara terus-menerus bisa memberikan tekanan pada akar rambut.
Jika kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama, tarikan berulang dapat menyebabkan traction alopecia, yaitu kerontokan rambut akibat tekanan pada folikel rambut.
Dengan sering cepol rambut terlalu kencang secara terus-menerus bisa memberikan tekanan pada akar rambut.Ilustrasi Magnific
Kondisi ini biasanya terlihat di sekitar garis rambut, seperti dahi dan pelipis. Jika terus dibiarkan, kerusakan folikel dapat menjadi permanen.
Solusinya, pilih ikatan rambut yang lebih longgar dan sesekali biarkan rambut terurai. Jika gaya rambut terasa sakit, membuat kulit kepala tertarik, atau menimbulkan rasa perih, itu tandanya kamu perlu segera melonggarkannya.
2. Terlalu sering menggunakan catokan dan hair dryer bersuhu tinggi
Ingin rambut lurus dan rapi setiap hari? Penggunaan catokan atau hair dryer memang bisa membantu menata rambut. Namun, paparan panas berlebihan dapat merusak batang rambut sehingga menjadi kering, rapuh, dan mudah patah.
Rambut patah sering kali terlihat seperti kerontokan, padahal helaian tersebut tidak selalu terlepas dari akarnya.
Untuk mengurangi risiko kerusakan, gunakan alat penata rambut bersuhu rendah atau sedang dan batasi frekuensi pemakaiannya. Sebisa mungkin, biarkan rambut mengering secara alami sebelum ditata.
Jika menggunakan catokan, pastikan rambut sudah kering. Hindari pula menempelkan alat panas terlalu lama pada satu bagian rambut.
3. Menggosok rambut terlalu keras dengan handuk
Setelah keramas, kebiasaan menggosok rambut dengan handuk hingga terasa kering mungkin masih sering dilakukan.
Padahal, rambut dalam keadaan basah cenderung lebih rentan mengalami kerusakan akibat tarikan dan gesekan. Menggosoknya terlalu keras bisa membuat batang rambut kusut, patah, dan bercabang.
Coba ubah kebiasaan ini dengan menepuk atau membungkus rambut menggunakan handuk secara lembut untuk menyerap air. Kamu juga bisa menggunakan handuk berbahan mikrofiber agar proses pengeringan lebih praktis.
Setelah itu, sisir rambut secara perlahan menggunakan sisir bergigi jarang, terutama jika rambut mudah kusut.
4. Menyisir rambut secara agresif
Rambut kusut memang bisa bikin kesal, apalagi ketika sedang terburu-buru. Namun, menarik sisir dengan paksa justru bisa menyebabkan rambut patah.
Kebiasaan menyisir berulang kali dengan tekanan berlebihan juga tidak membuat rambut tumbuh lebih cepat atau otomatis menjadi lebih sehat.
Kebiasaan menyisir berulang kali dengan tekanan berlebihan juga tidak membuat rambut tumbuh lebih cepat. Ilustrasi Magnific
Saat rambut kusut, uraikan bagian ujungnya terlebih dahulu sebelum bergerak perlahan ke bagian atas. Gunakan kondisioner atau produk pengurai kusut jika diperlukan.
Bagi pemilik rambut lurus, membiarkan rambut sedikit mengering sebelum menyisirnya dapat membantu mengurangi risiko kerusakan. Sementara itu, rambut keriting atau bertekstur mungkin lebih mudah diurai ketika lembap dengan bantuan kondisioner dan sisir yang sesuai.
5. Terlalu sering mewarnai atau melakukan perawatan kimia
Mengganti warna rambut, melakukan bleaching, atau meluruskan rambut secara kimia memang bisa memberikan tampilan berbeda. Namun, prosedur tersebut berisiko merusak batang rambut, terutama jika dilakukan terlalu sering atau dengan teknik yang tidak tepat.
Rambut yang mengalami kerusakan kimia dapat menjadi kering, rapuh, dan mudah patah. Jika perawatan dilakukan berulang tanpa jeda yang cukup, kerusakan bisa semakin berat.
Bukan berarti kamu harus berhenti mewarnai rambut sepenuhnya. Namun, berikan jeda antartindakan, ikuti petunjuk penggunaan produk, dan pertimbangkan bantuan profesional untuk prosedur yang berisiko tinggi.
Jangan memaksakan beberapa perawatan kimia sekaligus hanya demi mendapatkan tampilan rambut yang diinginkan.
6. Diet terlalu ketat sampai kekurangan nutrisi
Menjaga berat badan memang boleh menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Namun, diet ekstrem yang membatasi asupan makanan secara berlebihan bisa berdampak pada kesehatan rambut.
Rambut membutuhkan protein dan berbagai nutrisi agar dapat tumbuh dengan baik. Penurunan berat badan yang cepat serta kekurangan nutrisi tertentu dapat memicu kerontokan pada sebagian orang.
Karena itu, hindari pola makan yang terlalu ketat tanpa pendampingan yang tepat. Pastikan menu harian tetap mencakup protein, sayuran, buah, serta sumber zat besi dan nutrisi lainnya.
Perlu diingat, kerontokan tidak selalu berarti tubuh kekurangan vitamin. Mengonsumsi suplemen secara sembarangan juga bukan solusi, karena kelebihan beberapa nutrisi justru dapat menimbulkan masalah kesehatan.
7. Mengabaikan stres dan kurang tidur
Pekerjaan menumpuk, aktivitas padat, hingga masalah pribadi bisa membuat stres sulit dihindari. Namun, stres fisik atau emosional yang berat dapat memicu jenis kerontokan bernama telogen effluvium.
Pada kondisi ini, lebih banyak rambut memasuki fase istirahat secara bersamaan sehingga kerontokan dapat meningkat beberapa waktu setelah pemicu terjadi. Selain stres, kondisi ini juga bisa berkaitan dengan penyakit, persalinan, operasi, atau penurunan berat badan yang signifikan.
Kurang tidur bukan berarti otomatis menyebabkan rambut rontok. Namun, menjaga pola tidur dan mengelola stres merupakan bagian dari upaya merawat kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Cobalah membangun rutinitas tidur yang teratur, melakukan aktivitas fisik, dan menyediakan waktu untuk beristirahat. Jika rambut terus rontok meski kebiasaan sudah diperbaiki, jangan menganggap stres sebagai satu-satunya penyebab.
(FIR)