Warga Desa Sepunggur, Kecamatan Bathin II Babeko, Kabupaten Bungo, Jambi, mengubah kawasan bekas penambangan emas tanpa izin menjadi embung yang dimanfaatkan sebagai sumber cadangan air.
Warga Desa Sepunggur, Kecamatan Bathin II Babeko, Kabupaten Bungo, Jambi, mengubah kawasan bekas penambangan emas tanpa izin menjadi embung yang dimanfaatkan sebagai sumber cadangan air.
Melalui gotong royong, sekitar 30 hingga 40 warga terlibat dalam proses awal pembangunan Embung Telago Air Hitam. Selama dua hingga tiga bulan, warga membersihkan lahan dan membentuk cekungan penampung air.
Melalui gotong royong, sekitar 30 hingga 40 warga terlibat dalam proses awal pembangunan Embung Telago Air Hitam. Selama dua hingga tiga bulan, warga membersihkan lahan dan membentuk cekungan penampung air.

Embung Telago Air Hitam, Ikhtiar Warga Sepunggur Menjaga Cadangan Air

10 Agustus 2026 12:14

Jambi: Warga Desa Sepunggur, Kecamatan Bathin II Babeko, Kabupaten Bungo, Jambi, mengubah kawasan bekas penambangan emas tanpa izin menjadi embung yang dimanfaatkan sebagai sumber cadangan air.

Gagasan tersebut digerakkan Aipda Arjunif bersama warga dan pemerintah desa. Cekungan bekas tambang yang sebelumnya terbengkalai dimanfaatkan untuk menyimpan air guna menghadapi kemarau, membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengairi kebun, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya berinisiatif mengajak warga dan pemerintah desa, dan instansi terkait untuk memanfaatkan area ini untuk cadangan air atau embung untuk mengatasi khususnya ancaman karhutla, dan secara umum untuk keperluan rumah tangga dan mengairi lahan pertanian,” kata Arjunif dalam keterangan tertulis, Senin, 10 Agustus 2026.

Melalui gotong royong, sekitar 30 hingga 40 warga terlibat dalam proses awal pembangunan Embung Telago Air Hitam. Selama dua hingga tiga bulan, warga membersihkan lahan dan membentuk cekungan penampung air.

Warga juga membangun akses jalan sepanjang sekitar 500 meter agar kendaraan masyarakat dan mobil pemadam kebakaran dapat lebih mudah mencapai sumber air.

“Embung ini sudah terbukti kalau kemarau enam sampai delapan bulan tidak kering, cadangan airnya cukup,” ujar Arjunif.

Selain menjadi sumber cadangan air, kawasan sekitar embung dikembangkan untuk kegiatan produktif. Warga memanfaatkannya sebagai kolam ikan dengan dukungan bibit ikan nila dan pakan yang dikelola melalui kelompok tani dan kelompok perikanan.

Air embung juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci pakaian, menyiram tanaman hortikultura, dan menjaga kebun.

Ronianto, mantan Sekretaris Desa Sepunggur, menilai kegigihan Arjunif dalam mengomunikasikan gagasan tersebut bersama masyarakat telah membawa perubahan nyata.

“Kegigihan Pak Arjunif mengomunikasikan dan negosiasi untuk mencari jalan tengah, akhirnya tuntas dan selesai dengan solusi saling senang. Kini hasil produksi lahan kebun sawit yang dikelola koperasi unit desa sudah dinikmati masyarakat,” katanya.

Bagi warga, perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari keberadaan embung. Lahan bekas tambang yang sebelumnya identik dengan kerusakan lingkungan kini dapat dimanfaatkan secara produktif dan bertanggung jawab.

Fauza, warga sekaligus mantan Kepala Dusun Sepunggur, mengatakan keterlibatan langsung menjadi kunci dalam mendorong masyarakat mengikuti praktik tersebut.

“Apapun kegiatan masyarakat beliau selalu terlibat dan selalu memberi contoh, misalnya dalam membuka lahan perkebunan pertanian, juga membentuk kelompok-kelompok tani dan kelompok perikanan,” tutur Fauza.

Embung Telago Air Hitam menjadi contoh bagaimana lahan bekas tambang dapat dipulihkan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari cadangan air hingga kegiatan pertanian dan perikanan, pengelolaan tersebut tumbuh melalui gotong royong warga.

Upaya itu sekaligus menunjukkan bahwa menjaga ketersediaan air dapat berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Ilustrasi embung (Dok.MI/Lilik) 



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(CDE)

News kemarau Lingkungan Jambi