Situasi ini diproyeksikan akan semakin menantang. Berdasarkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJPN 2025–2045 yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), volume sampah nasional diperkirakan meningkat menjadi 63 juta ton pada 2025 dan melonjak hingga 82,2 juta ton pada 2045\.
Untuk merespons persoalan tersebut, pemerintah mendorong pengembangan pengolahan sampah menjadi energi melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Program ini diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Dalam implementasinya, Danantara menyatakan komitmennya untuk mendukung kebijakan tersebut dengan berinvestasi pada proyek waste-to-energy (WtE) berteknologi mutakhir.
Dalam Investment Forum 2025 yang digelar pada akhir tahun lalu, Managing Director Investment Danantara, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, program WtE berpotensi mengurangi sekitar 10 persen persoalan sampah di Indonesia.
Sejumlah negara di Asia telah lebih dulu membuktikan bahwa WtE dapat menjadi solusi nyata bagi pengelolaan sampah perkotaan. Pengalaman mereka dapat menjadi rujukan penting bagi Indonesia, khususnya dalam pengembangan proyek-proyek PSEL ke depan.
Singapura
Dengan keterbatasan lahan yang ekstrem, Singapura menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat dilakukan secara efisien dan berkelanjutan. Negara-kota ini mengoperasikan sejumlah fasilitas WtE berskala besar, salah satunya Tuas South Incineration Plant, yang merupakan fasilitas pengolahan sampah terbesar di Singapura. Pabrik ini mampu mengolah sekitar 3.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik hingga 80 megawatt (MW).Fasilitas lainnya adalah TuasOne WtE Plant yang mulai beroperasi pada 2021\. Pabrik ini memiliki kapasitas pembakaran hingga 3.600 ton sampah per hari dan mampu memproduksi listrik sebesar 120 MW. Teknologi yang digunakan memungkinkan pengolahan sampah dengan tingkat emisi yang sangat rendah.
Selain itu, Keppel Seghers Tuas menjadi contoh sukses kemitraan pemerintah dan swasta dalam pengelolaan WtE. Dengan kapasitas 800 ton sampah per hari, fasilitas ini menghasilkan listrik sebesar 22 MW melalui skema pembiayaan yang inovatif.
Model Singapura menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang bagi kota padat seperti Jakarta atau Surabaya. Keterlibatan sektor swasta juga membantu mengurangi beban investasi pemerintah.
Jepang
Jepang dikenal sebagai salah satu negara paling konsisten dan maju dalam pengembangan WtE di Asia. Di Tokyo saja, terdapat sejumlah fasilitas yang terintegrasi dengan sistem perkotaan. Salah satunya adalah Hikarigaoka Plant, yang mampu mengolah sekitar 300 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik melalui turbin uap berkapasitas 9 MW. Selain listrik, fasilitas ini juga menyediakan energi panas untuk kawasan sekitarnya.Fasilitas lainnya, Toshima Plant, memiliki kapasitas pengolahan sekitar 400 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 7,8 MW. Energi yang dihasilkan cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik puluhan ribu rumah tangga di Tokyo. Pendekatan Jepang menekankan efisiensi teknologi, kontrol emisi yang ketat, serta integrasi fasilitas WtE dengan lingkungan perkotaan yang padat.
Korea Selatan
Korea Selatan juga menjadi contoh penting dalam pengelolaan sampah perkotaan berbasis energi. Negara ini mengoperasikan lebih dari 35 pembangkit WtE termal yang beroperasi di bawah standar lingkungan yang sangat ketat.Keunggulan Korea Selatan terletak pada sistem pengelolaan yang terintegrasi dalam bentuk jaringan, sehingga WtE tidak hanya berfungsi sebagai solusi sampah, tetapi juga sebagai sumber pasokan listrik yang stabil. Pendekatan ini mendapatkan penerimaan publik yang relatif baik.
Bersama Jepang, Korea Selatan menunjukkan kemampuan teknologi WtE dalam menangani limbah dengan kadar air dan kandungan organik yang tinggi—karakteristik yang serupa dengan komposisi sampah perkotaan di Indonesia.
Tiongkok
Dalam 15 tahun terakhir, Tiongkok menjelma menjadi salah satu pemain utama dunia dalam pengembangan WtE. Ratusan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi telah dibangun dan dioperasikan di berbagai kota sebagai respons atas pesatnya urbanisasi dan lonjakan limbah perkotaan.Keberhasilan Tiongkok tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah yang kuat, penyederhanaan regulasi, serta strategi pembiayaan yang agresif. Banyak fasilitas WtE dibangun secara paralel di berbagai wilayah, menciptakan efisiensi skala sekaligus mempercepat alih teknologi.
Pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa negara dengan populasi besar dan tingkat urbanisasi tinggi tetap mampu mengelola sampah secara efektif. Dengan perencanaan yang matang, limbah justru dapat diubah menjadi sumber energi yang mendukung kebutuhan hidup masyarakat.
Keempat negara tersebut memperlihatkan bahwa program waste-to-energy bukan sekadar konsep, melainkan solusi yang telah terbukti. Bagi Indonesia dan Danantara, pembelajaran dari Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat menjadi pijakan penting dalam merancang proyek WtE yang realistis, berkelanjutan, dan sesuai dengan karakteristik sampah perkotaan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News