Mengatur keuangan sejak masih muda sangat penting dilakukan untuk kebutuhan jangka panjang (Foto:Dok.Metro TV)
Mengatur keuangan sejak masih muda sangat penting dilakukan untuk kebutuhan jangka panjang (Foto:Dok.Metro TV)

Ciri Keuangan Tidak Sehat yang Sering Dialami Milenial

Ekonomi Manulife
Gervin Nathaniel Purba • 08 Januari 2020 13:52
Jakarta: Generasi milenial kerap dikaitkan dengan gaya hidup konsumtif. Pola hidup konsumtif dapat memengaruhi kondisi keuangan.
 
Pengaruh media sosial menjadi salah satu penyebab pola hidup konsumtif. Gaya hidup mewah temannya yang diunggah di media sosial mendorong mereka untuk bisa menyamai atau melebihi level gaya hidup temannya.
 
Padahal, mengatur keuangan sejak masih muda sangat penting dilakukan untuk kebutuhan jangka panjang. Jika tidak pandai mengatur keuangan, hal ini bisa berdampak buruk pada masa tua.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kenali tanda-tanda keuangan tidak sehat yang biasa dialami kaum milenial.
 
1. Konsumtif dan Gengsi
 
Head of Partnership Business Manulife Indonesia Norman Tetelepta memaparkan bahwa kehidupan konsumtif melekat pada kaum milenial. Pada akhirnya mereka kesulitan membayar cicilan pembayaran akibat rasa gengsi yang besar.
 
2. Uang Selalu Habis Setelah Gajian
 
"Sebenarnya ini tidak sehat. Baru dapat uang gaji, langsung lewat begitu saja. Ini berarti tidak bisa diatur dengan baik," ujar Norman.
 
3. Kebiasaan Membeli dengan Mencicil
 
Hal ini masih berkaitan dengan poin nomor dua. Banyak cicilan membuat uang cepat habis terpakai, meskipun baru gajian.
 
Di satu sisi, Norman menjelaskan sebenarnya tidak salah jika membeli suatu barang dengan mencicil asalkan untuk keperluan yang benar-benar produktif.
 
"Mencicil boleh tidak? Bergantung juga, karena kalau saya bisa mengatur pembayaran cicilan dengan benar dan baik, maka tidak salah," kata Norman.
 
"Tapi, ketika cicilan digunakan untuk konsumtif, ya ini hanya untuk selera saja. Bisa merusak perencanaan keuangan. Mencicil tidak sepenuhnya salah asalkan untuk keperluan produktif dan punya cara mengaturnya," kata Norman, menambahkan.
 

 
4. Sulit Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
 
Hal ini menjadi permasalahan umum. Rasa keinginan yang sangat besar mendorong seseorang untuk membeli suatu barang. Padahal bukan kebutuhan mendesak.
 
Norman mencontohkan ponsel. Saat ini, ponsel menjadi kebutuhan alat komunikasi yang sangat penting. Yang menjadi permasalahan ialah ketika seseorang selalu mengganti ponselnya dengan keluaran produk baru. Tentunya hal ini tidak bagus untuk pengelolaan keuangan.
 
"Setiap keluar produk baru, langsung paksakan beli. Itu keinginan. Nah, ini perbedaan sederhana. Kecuali untuk keperluan kerja, karena bisa saja dalam pekerjaan kita perlu teknologi yang lebih update. Kalau keperluannya hanya chat doang enggak perlu yang tingkat tinggi. Enggak ada gunanya," ujar Norman.
 
5. Tidak Memiliki Dana Darurat, Investasi, Asuransi
 
"Jika tidak punya ketiga ini, maka tidak memiliki keuangan sehat," kata Norman, menegaskan.
 
Mengelola keuangan butuh proses. Menurut Norman, jika seseorang memiliki pola pikir dan softskill yang benar, maka pengelolaan keuangan juga bisa berjalan dengan benar. Jika dari pola pikir saja salah, uang akan cepat habis untuk keperluan tidak produktif.
 
"Kalau saya dapat Rp10 miliar tapi tidak ngerti mengelolanya, ya akan habis. Jadi mental harus benar. Kemudian jiwa dan pikiran harus diatur," ucap Norman.
 
Untuk semakin menambah wawasan Anda seputar pengaturan keuangan keluarga, saksikan di YouTube Metro Manulife TV dan kunjungi laman asuransi Manulife untuk menemukan solusi keuangan yang Anda cari.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif