Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet Dwi)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet Dwi)

Garuda Ajukan Banding dari Pengadilan Australia soal Kartel Kargo

Ekonomi bumn garuda indonesia
Annisa ayu artanti • 18 Juni 2019 11:11
Jakarta: PT Garuda Indonesia Tbk akan mengajukan banding terhadap putusan Federal Court of Australia mengenai kartel kargo maskapai yang terbang ke Australia.
 
Federal Court of Australia sebelumnya menjatuhkan putusan terkait denda perkara kartel kargo maskapai yang terbang ke Australia.
 
Putusan Federal Court of Australia adalah menghukum Garuda Indonesia untuk membayar denda sebesar 19 juta dolar Australia atau setara Rp189,3 miliar (kurs AUD1 = Rp9.964),serta membayar biaya perkara penggugat dalam 28 hari sejak putusan dijatuhkan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Atas hal tersebut, dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 18 Juni 2019, perusahaan berkode emiten GIAA ini menyampaikan hak perseroan untuk mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi dalam waktu 21 hari sejak putusan dijatuhkan.
 
"Perseroan sedang mengajukan banding atas putusan denda tersebut," kata Direktur Human Capital Garuda Indonesia Heri Akhyar.
 
Terhadap langkah tersebut, pihak Garuda Indonesia sudah menyampaikan kepada publik melalui keterbukaan informasi sebagai mana diatur dalam Peraturan OJK Nomor 31/POJK.04/2015 tentang keterbukaan informasi atau fakta material oleh emiten atau perusahaan publik dan Peraturan Nomor I-E tentang kewajiban penyampaian informasi.
 
Baca juga: Garuda Kena Denda Australia Rp189 Miliar Akibat Kartel Tarif
 
Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) sebelumnya mengatakan, di 2018 terdapat 14 maskapai penerbangan yang mengubah biaya tambahan untuk kargo udara pada penerbangan ke Australia.
 
MelansirThe Sydney Morning Herald, Jumat, 31 Mei 2019, Hakim Pengadilan Federal Nye Perram pada Kamis waktu setempat memerintahkan Garuda Indonesia untuk membayar 15 juta dolar Australia untuk menetapkan harga keamanan dan biaya bahan bakar serta biaya bea cukai, untuk pengiriman barang dari Indonesia.
 
Perram juga memerintahkan untuk membayar biaya tambahan sebesar 4 juta dolar Australia untuk membebankan biaya asuransi dan bahan bakar dari Hong Kong.

 
Adapun dari semua denda yang dikenakan kepada maskapai-maskapai tersebut, Garuda Indonesia harus membayar penalti tertinggi kedua setelah Qantas, yang membayar 20 juta dolar Australia. Denda tersebut, menurut penilaian, melebihi total pendapatan kargo Garuda dari 2003-2006 di semua rute.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif