Menghidupkan Inklusi Ekonomi Kreatif di Bali
Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Persik. (FOTO: Medcom.id/Kautsar)
Nusa Dua: Inklusi ekonomi kreatif akan menjadi sorotan pada Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif (WCCE) yang akan dibuka esok. Wakil Ketua Badan Ekonomi Kreatif Ricky Joseph Pesik berharap Bali, yang menjadi lokasi penyelenggaraan WCCE, bisa menghidupkan kreativitas sebanyak 2.000 peserta yang hadir.

"Saya berharap Bali meningkatkan kreativitas Anda. Kami akan memastikan bahwa ide Anda tidak akan lenyap menjadi udara tipis," kata Ricky saat menjadi pembicara kunci dalam prapembukaan WCCE yang dikemas dalam acara Teman Ekonomi Kreatif, di Nusa Dua, Bali, Selasa, 6 November 2018.

Ricky menggarisbawahi kekuatan ekonomi kreatif terletak pada inklusivitasnya. "Ia tidak mengenal batas, tidak ada jenis kelamin, tidak ada usia, tidak ada modal atau penghalang pendidikan," katanya.

Ekonomi ini bergerak semata-mata karena kreativitas pikiran dan kemampuan manusia untuk menciptakan ide-ide baru. Sejumlah contoh ekonomi kreatif antara lain program televisi, seni visual, arsitektur, penerbitan, seni pertunjukan, permainan, film, dan musik.

"Ekonomi kreatif dapat diakses oleh semua. Itulah mengapa tema untuk konferensi tahun ini adalah 'Inklusif Kreatif'," ujar dia.

Tahun lalu ekonomi kreatif berkontribusi nyaris Rp1.000 triliun bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Ekonomi kreatif juga menjadi sumber pekerjaan bagi 16,4 juta orang di Indonesia.

"Selama krisis ekonomi dan keuangan global 2008, ketika sektor-sektor lain mengalami kontraksi, layanan kreatif mencatat pertumbuhan positif," katanya.

Banyak tantangan

Meski begitu, tantangan tetap terbentang. Menurutnya, ekonomi kreatif menghadapi beberapa ancaman serius yang jika dibiarkan tidak tertangani akan membahayakan pertumbuhannya. Mulai dari tantangan pembiayaan, pengembangan produk, dan pemasaran.

Apalagi mayoritas pemain ekonomi kreatif adalah usaha kecil dan menengah (UKM). Untuk itu, dia berharap, dalam forum WCCE ini, para peserta bisa menemukan solusi untuk segala tantangan tersebut.

"Saya percaya kerja sama internasional adalah kunci dalam hal ini. Ini adalah alasan yang mendasari mengapa Indonesia menjadi tuan rumah konferensi ini," kata Ricky.

Baca: WCCE jadi Ajang Pamer Kreativitas Anak Bangsa

Menurutnya, ekonomi kreatif menawarkan sarana untuk mengatasi tantangan keamanan sosial dan bahkan pada nasional, regional, dan global. Ekonomi kreatif menyediakan lebih dari sekedar peluang ekonomi.

"Ini dapat berfungsi sebagai jembatan komunikasi, pemahaman, dan kepercayaan antara negara dan budaya di dunia yang terlihat semakin terpecah-pecah," katanya.

Membina ekonomi kreatif, kata dia, juga menciptakan pemahaman yang lebih baik antara orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. "Ini adalah alat yang kuat tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk kohesi sosial."

WCCE 2018 merupakan konferensi internasional pertama yang membahas mengenai ekonomi kreatif. Sebanyak dua ribu peserta akan hadir mulai dari pemain ekonomi kreatif, regulator, akademisi, dan masyarakat sipil.

Ada empat isu utama yang akan dibahas, di antaranya kohesi sosial, regulasi, pemasaran, serta ekosistem dan pembiayaan industri kreatif.

Konferensi ini akan menghasilkan Deklarasi Bali yang nantinya diusulkan ke Sidang Umum PBB tahun depan. Harapannya, deklarasi ini semakin menguatkan ekosistem dan mendukung perkembangan ekonomi kreatif dunia, mengingat saat ini telah memasuki era industri 4.0.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id