Pada tahun ini, Indonesia akan diwakili atlet yang duduk dalam daftar 10 besar peringkat dunia. Dari ganda campuran, Indonesia akan diwakili Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir.
Tontowi mengatakan, dirinya bersama Liliyana siap secara fisik dan mental untuk menatap BIO 2016. Dirinya merasa yakin akan tampil total agar bisa menjadi nomor satu dalam kejuaraan BIO 2016.
"Dari segi persiapan, kita sudah matang. Kondisi fisik juga bagus, tentunya kita bisa maksima," kata pria yang akrab disapa Owi, saat ditemui di sela menjalani latihan di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, Rabu, 25 Mei 2016.
Pasangan Owi, Liliyana mengatakan, peta persaingan dalam kejuaraan tahun ini merata dari seluruh peserta. Menurutnya, BIO 2016 tidak lagi didominasi oleh negara kuat seperti China, Korea Selatan, atau negara kuat lainnya.
Wanita yang akrab disapa Butet ini menyimpulkan bahwa pada turnamen kali ini dirinya bersama Owi harus berjuang lebih keras dari laga pembuka. Dibutuhkan kerja keras ektra untuk dapat mempersembahkan gelar bagi Indonesia.
"Itu semua membuat kita lebih siap dan ga nganggap semua enteng, mudah-mudahan di BIO tahun ini kita bisa kasih gelar," kata Butet.
Dalam perbincangan santai ini juga terungkap berbagai kenangan Owi dan Butet selama menjalani atlet. Kedua pasangan elite dunia bulutangkis ini satu suara ketika mengungkap kejuaraan yang paling berkesan yang mereka hadapi.
Owi dan Butet sepakat, turnamen yang pernah diikuti dan tak bisa dilupakan ialah saat melakoni final nomor ganda campuran kejuaraan dunia bulutangkis BWF World Championship 2013. Saat itu, Owi dan Butet bertemu peringkat satu dunia China Xu Chen/Ma Jin.
"Kita hampir kalah di set ketiga dengan skor 18-20. Set ketiga akhirnya kita bisa menang. Dan itu juga cita-cita orang tua saya karena anaknya bisa jadi juara dunia," kata Owi.
Butet menambahkan, kemenangan tersebut semakin berkesan karena meraih juara dunia di kandang lawan. Menurutnya, pencapaian saat itu bagaikan mimpi.
"Kita itu paling ga ada harapan buat menang lah, posisi kita 18-20 dan kita bisa berbalik dan menang. Kepuasannya itu luar biasa," ucap Liliyana.
Berbagai prestasi yang diraih Tontowi dan Liliyana seakan mengisyaratkan dunia bulutangkis Indonesia belum habis. Tak seperti saat dulu ketika Indonesia dianggap sebagai kiblat olahraga bulutangkis dengan segudang prestasi.
Memang saat ini, prestasi Indonesia dalam cabang olahraga bulutangkis mengalami kemunduran. Tak banyak piala yang dibawa pulang ketika menjalani turnamen di luar negeri, atau digondol lawan ketika kejuaraan digelar di Indonesia.
Liliyana menganggap, hal itu disebabkan sudah mulai rendahnya daya tarik masyarakat Indonesia terhadap dunia olahraga, khususnya bulutangkis. Menurutnya, banyak faktor yang membuat anak-anak muda atau bibit penerus enggan menjadi atlet bulutangkis.
"Pengaruh zaman sudah beda, mungkin yang perlu ditingkatkan promosinya. Dan mungkin ke daerah-daerah juga harus dilakukan sosialisasi bulutangkis, menyediakan fasilitas," ungkap liliyatna.
Selain itu, faktor dana dan dukungan orang tua juga sangat memengaruhi keberlangsungan regenerasi atlet bulutangkis Indonesia. Dana dan orang tua menjadi satu hubungan yang tidak bisa dipisahkan agar seorang anak bisa menjadi atlet.
Terlebih saat ini banyak orang tua menganggap bahwa menjadikan atlet sebagai profesi anaknya di masa depan merupakan suatu pertaruhan. Banyak yang menilai, profesi atlet tidak bisa menjanjikan kehidupan layak saat anak dewasa kelak.
"Keraguan orang tua yang paling utama. Kita kalau enggak didukung orang tua juga belum tentu bisa jadi juara dunia. Jadi, karena keraguan itu membuat orang tua tidak mengarahkan anaknya ke olahraga. Sekolah saja. Sekolah minimal pasti jadi insinyur. Sekarang kalau jadi atlet olahraga, dari sekian banyak atlet bulutangkis cuma beberapa orang yang bisa dihitung jadi juara dunia atau berprestasi," ucap Liliyana.
Oleh karena itu, paradigma tersebut harus diubah. Hal itu perlu dilakukan agar bibit berbakat di Indonesia bisa dikembangkan agar bisa mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga, khususnya bulutangkis.
Tidak hanya itu, Liliyatna menyampaikan bahwa untuk menjadi seorang atlet profesional dan berprestasi harus fokus dan total. Fokus dan total yang dimaksudkan yaitu seorang calon atlet harus rela kehilangan kehidupan normalnya sebagai remaja.
Seperti kita tahu, sebagian besar orang menganggap bahwa masa remaja merupakan fase terindah. Masa remaja merupakan saat dimana seorang anak tumbuh dan waktu sehari banyak dihabiskan untuk bermain dengan teman.
Hal itu yang dianggap Liliyana membuat anak muda tidak terlalu tertarik menjadi atlet. Dia menegaskan, untuk menjadi atlet seseorang harus fokus dan total.
"Pengorbanan luar biasa. Jadi harus kerja keras, pantang menyerah, dan fokus tujuan kita. Sudah harus all out, tidak bisa bercabang-cabang," kata Liliyana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News