Sejak kecil, Andy memang sudah sangat mandiri. Atas keinginannya sendiri, ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama di Singapura.
Masuk sekolah menengah atas pun, Andy sudah mengatur sendiri segala sesuatunya.
"Sejak kecil dia (Andy) memang sudah mandiri. Masuk SMA saja dia sudah atur semuanya. Sebagai orang tua, kita dukung saja dia,” ujar Henny Kurniawan, ibunda Andy.
Selain memiliki bibit mandiri, bibit menjadi pengusaha ternyata juga muncul sejak kecil. Kala liburansekolah, Andy kerap berkunjung ke pabrik sepatu milik ayahnya, Hussien Pangestu, untuk melihat dan mengenali seperti apa operasional bisnis.
Selesai kuliah di Australia, Andy melanjutkan perantauan ke Jepang untuk mendapatkan gelar MBA di bidang keuangan di Niigata University pada 2002. Begitu lulus, Andy merintis karier di dunia keuangan, yaitu sebagai bankir.
"Enam tahun bekerja bersama angka dan jam kerja yang panjang membuat saya bosan. Akhirnya, saya putuskan untuk merintis bisnis sendiri," ujar Andy.
Ide untuk merintis usaha di bidang makanan dan minuman ini pun muncul secara tidak sengaja.
"Semuanya berawal ketika suatu hari saya mencoba kue keju di Hokaido. Saya langsung jatuh cinta dan merasa cocok dengan kue ini," kata Andy.
Kemudian, Andy pun merasa ingin berbagi dengan orang terdekatnya soal kue keju dari LeTAO tersebut. Kemudian, dia pun terpikir untuk mendapatkan lisensi dari toko kue itu dan membuka toko sendiri di Indonesia.
Andy mengaku, proses mendapatkan lisensi ini tidak mudah. Sebab, ketika awal pertama ia bertanya kepada LeTAO apakah ada rencana untuk ekspansi ke Indonesia, prinsipal belum memberikan jawaban yang pasti.
Di sisi lain, Andy meliha tadanya peluang besar di Indonesia. "Indonesia punya budaya oleh-oleh. Bisnis oleh-oleh punya potensi besar. Saya terpikir untuk membuat toko oleh-oleh yang menyediakan kue keju ini. Apalagi, tampilan kemasan kue ini sangat bagus," ungkap Andy.
Kemudian, sebuah joint venture (JV) antara Andy, Riko dan Shintaro pun tercipta. Riko lebih berperan dalam hal pemasaran, Andy lebih ke operasional dan pemasaran, danShintaro yang juga merupakan anak pendiri leTAO bertanggung jawab di bagian produksi.
“Pada awal berdiri, prinsipal ingin semua kue diimpor langsung dari Jepang. Namun saya tidak. Karena saya ingin ada transfer pengetahuan. Maka terbentuklah JV ini untuk transfer pengetahuan dari Jepang,” papar Andy.
Alhasil, dalam pembuatan kue keju ini, ada komponen yang memang asli dari Indonesia, misalnya untuk bahan cokelat, Andy menggunakan cokelat dari Tabanan, Bali. Juga bahan lokal lainnya termasuk gula dan telur.
Toko kue yang diberi nama "DORÉ" atau dalam bahasa Indonesia berarti emas ini resmi berdiri pada 2015.
"Proses persiapan pembukaan toko ini yang lama. Kami butuh 8 hingga 9 bulan untuk melakukan riset pemasaran dan tes pasar hingga akhirnya membuka toko," kata Andy.
Dari hasil riset tersebut, ternyata pasar tak melirik kue keju yang ia sajikan sebagai kue keju karena banyak yang menilai rasa kejunya tidak terlalu terasa. Akhirnya, Andy menggunakan nama fromage untuk kue kejunya.
Berlanjut ke bagian kedua untuk mengetahui bagaimana Andy belajar soal mengelola toko dan menyusun strategi masuk ke pasar.
Sumber: smart-money.co
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News