Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti S Soetiono. (FOTO: MTVN/Eko Nordiansyah)
Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti S Soetiono. (FOTO: MTVN/Eko Nordiansyah)

Jangan Sekadar Menabung

Ekonomi menabung
Eko Nordiansyah • 05 Mei 2017 15:20
medcom.id, Bali: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan jika perencanaan keuangan masyarakat Indonesia untuk jangka panjang masih minim. Karena itu produk keuangan yang banyak diambil adalah tabungan karena sifatnya merupakan perencanaan keuangan jangka pendek.
 
Survei OJK menunjukkan masyarakat Indonesia yang mengaku memiliki tujuan keuangan sudah mencapai 96,7 persen. Namun dari angka tersebut mayoritas atau 69,1 persen tujuan keuangan digubakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau bertahan hidup, 12,6 persen untuk biaya pendidikan anak dan diri sendiri, dan hanya 6,3 persen yang tujuannya untuk mempersiapkan hari tua.
 
Baca: Jokowi Ingin Budaya Menabung Masyarakat Meningkat

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari total yang memiliki tujuan keuangan, ada hingga 99,2 persen yang nemiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Namun ini masih didominasi oleh kegiatan menabung yang mencapai 74,7 persen, menyusun rencana keuangan sebesar 41,8 persen, serta bekerja atau mencari kerja sebanyak 38 persen.
 
"Untuk itu kita gencar melakukan pengenalan produk selain tabungan. Sekarang sudah dipromosikan reksadana Rp100 ribu, dan saham Rp100 ribu di Yuk Nabung Saham," kata Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S. Soetiono di Nusa Dua, Bali, Jumat 5 Mei 2017.
 
Dirinya menambahkan, berbagai program peningkatan literasi keuangan baik dari industri maupun otoritas sudah banyak dijalankan. Untuk itu ke depannya upaya tersebut akan terus dilakukan sehingga pengetahuan masyarakat tentang lembaga keuangan bisa ditingkatkan dan pada akhirnya mengembangkan produk dan layanan industri jasa keuangan.
 
Baca: OJK Kampanye Gerakan Ayo Menabung
 
"Itu akan lebih gencar lagi disosialisasikan supaya diversifikasi (produk jasa keuangan) itu diketahui masyarakat. Jadi artinya lebih luas produknya yang diharapkan (bisa dikembangkan industri jasa keuangan) dan OJK harus membantu soal itu," jelas dia.
 
Sekadar diketahui, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sudah mengalami perbaikan. Jika pada 2013 hanya 21,8 persen tingkat literasi keuangan, pada tahun lalu meningkat menjadi 29,7 persen. Sayangnya ini masih lebih rendah dibanding negara tetangga yang sudah nencapai di atas 30 persen.
 
Selain itu rendahnya tingkat literasi keuangan juga sejalan dengan masih rendahnya tingkat inklusi keuangan. Meski begitu indeks inklusi keuangan pada tahun lalu tercatat sebesar 67,8 persen atau naik dari posisi pada 2013 sebesar 59,7 persen.
 
 
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif