Menjadi anak seorang pendiri perusahaan ternyata tak membuat segala sesuatu menjadi lebi hmudah, setidaknya ini yang dialami Shelly. Wanita 31 tahun ini harus banyak belajar mengenai industri manufaktur yang lebih banyak digeluti laki-laki.
“Saya mulai bekerja di perusahaan ini dari posisi bawah seperti staf administrasi yang tugasnya memasukkan data. Seiring waktu, jabatan saya juga makin naik,” ujar Shelly.
Menariknya, rasa cinta Shelley pada dunia manufaktur tumbuh sejak ia masih kecil. Semua karena ayahnya, Davidson Koamesah, yang sering mengajaknya mampir ke kantor saat Shelly pulang sekolah.
Hal tersebut akhirnya membuat Shelly makin penasaran untuk mempelajari perusahaan yang didirikan ayahnya. Saat kuliah, Shelly memilih jurusan akuntansi dan teknologi informasi.
Setelah lulus, Shelly memutuskan bergabung dengan perusahaan ayahnya. “Saat ini saya sudah bekerja selama lima tahun dan belajar langsung dari ayah soal manajemen pengambilan keputusan,” ujarnya.
Selain belajar dari ayahnya secara langsung, Shelly juga belajar mengenai perusahaan dan manufaktur dari karyawan-karyawan yang sudah lebih dulu bekerja. Shelly mengakui, ilmu di manufaktur tidaklah mudah.
Agar bisa membaur dan belajar dengan nyaman, Shelly tetap menghormati karyawan senior yang sudah lebih dulu bekerja. Demikian, ia tetap bisa belajar dan karyawan tetap menghormatinya sebagai atasan meski usianya terpaut jauh.
Menjadi putri pemilik perusahaan, tak membuat Shelly bisa seenaknya di kantor. Ia tetap harus komitmen dengan pekerjaannya. Pulang pergi Jakarta Barat dan Bekasi Barat tiap hari pun ia tempuh.
Berlanjut ke bagian kedua untuk mengetahui sejarah berdirinya MKSD.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News