Derasnya Impor Tumbangkan Industri Baja Nasional
Direktur Utama Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim (kanan). (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)
Jakarta: Derasnya impor diprediksi berpotensi membuat industri baja nasional tumbang. Salah satunya dipicu oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2018 (Permendag 22/2018) tentang ketentuan Impor Besi dan Baja.

Menurut Direktur Utama Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim, dalam aturan tersebut terdapat perubahan beberapa mekanisme yang telah berlaku selama ini. Antara lain terkait dengan pemberlakuan post border audit/inspection dan penghapusan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian.

Aturan tersebut, kata Silmy, membuat otoritas bea cukai tidak memiliki wewenang untuk memeriksa impor yang masuk di pelabuhan. Pemeriksaan dilakukan di luar pelabuhan sebab barang terlebih dahulu dipentingkan agar keluar dan tidak menumpuk di pelabuhan.

"Ini kan tidak fair, industri baja tahun depan kalau tidak ada langkah konkrit itu akan banyak yang tumbang. Di hilir baja saat ini banyak sekali yang sudah tidak produksi karena impor masuk secara deras," kata Silmy ditemui di kantor SKK Migas, Jakarta Selatan, Jumat, 9 November 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor besi dan baja pada Juli sebesar USD996,2 juta atau naik 56,55 persen secara tahunan. Secara kumulatif, sepanjang periode Januari-Juli 2018 nilai impor produk tersebut USD5,67 miliar naik 36,30 persen y-o-y.

Baca: Pemerintah Diminta Lindungi Industri Baja Nasional

Nilai impor besi dan baja menempati posisi ketiga terbesar untuk periode Januari-Juli 2018 di bawah produk mesin dan pesawat mekanik dan produk mesin dan peralatan listrik.

Silmy mengatakan banyak importir yang melakukan kecurangan dengan mengelabuhi otoritas bea cukai agar tidak dikenakan bea masuk. Menurut Silmy hal ini sudah masuk dalam ranah kriminalisasi karena melakukan pengelabuhan importase menggunakan harmonized system (HS) number.

Dia bilang apabila industri baja sempat mati suri, maka untuk mengembalikan produktivitasnya butuh waktu lama minimal lima tahun. Oleh karenanya dirinya berharap ada kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk meningkatkan penggunaan industri baja nasional.

Salah satunya Silmy menyebutkan dengan melakukan kerja sama bersama SKK Migas dalam meningkatkan penggunaan baja lokal di kegiatan hulu migas. Silmy bilang pangsa pasar penjualan produk baja besi ke industri migas baru 20 persen. Sementara mayoritas penjualan ke sektor konstruksi dan otomotif.

"Ini kan sebenarnya semangat untuk bangun industri baja nasional yang sehat dan long term. Jadi sebenarnya SKK Migas dukung industri nasional, tingkatkan penggunaan produk dalam negeri makanya dipakai mekanisme supaya fair. Yang paling penting fair. Kalau impor terus terjadi persaingan yang tidak fair. Saya harap ada banyak lagi kebijakan seperti ini," jelas dia.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id