Ilustrasi. Foto: Dok MI
Ilustrasi. Foto: Dok MI

Indef: Pos Kementerian Ekonomi Harus Dipegang Profesional

Ekonomi Kabinet Jokowi kabinet kerja
Medcom • 18 Oktober 2019 22:58
Jakarta: Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih orang profesional untuk ditempatkan di pos-pos kementerian di bidang ekonomi. Pasalnya, kementerian bidang ini menguasai hajat hidup orang banyak.
 
"Jangan diserahkan kepada mereka yang terikat kepentingan jangka pendek," kata Ekonom Indef Bhima Yudhistira, melalui keterangan tertulis, Jumat, 18 Oktober 2019.
 
Bhima mengingatkan hal ini karena beredar sejumlah nama menteri di luar kelompok profesional. Ia mengingatkan kementerian bidang ekonomi berfungsi mengurusi kepentingan rakyat banyak.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniago, justru meminta menteri di bidang ekonomi, khususnya posisi Menteri BUMN, tak diisi kader partai politik.
 
Menurutnya, jika pos menteri ini diisi orang partai, akan rawan menjadi sapi perahan. "Sebaiknya diisi kalangan profesional yang memiliki kemampuan manajerial baik," kata Pangi.
 
Kalangan profesional yang dia maksud adalah yang tak membawa agenda kepentingan para pebisnis. "BUMN seharusnya menjadi alat negara untuk menghasilkan uang. Untuk menutupi sejumlah defisit seperti PLN atau BPJS Kesehatan," tegasnya.
 
Salah satu yang digadang-gadang menduduki kursi Menteri BUMN di kabinet baru pemerintahan Jokowi-Maruf Amin adalah Erick Thohir. Namun, pengusaha yang memiliki jaringan bisnis luas ini belum menjawab tegas kemungkinan itu.
 
Erick mengaku belum menerima tawaran untuk jadi menteri dari Jokowi. "Siapa pun yang terpilih, ya saya berharap orang-orang yang berkeringat kemarin," kata mantan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf ini, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019.
 
Erick mengatakan calon menteri harus memiliki rekam jejak dan kapabilitas menyelesaikan masalah. Apalagi, tantangan lima tahun ke depan tak mudah, khususnya di bidang ekonomi.
 

(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif