Presiden Jokowi disela-sela panen jagung di Gorontalo. (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)
Presiden Jokowi disela-sela panen jagung di Gorontalo. (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)

Presiden Puji Panen Raya Jagung di Gorontalo Capai 1,7 Juta Ton

Ekonomi panen jagung presiden jokowi
Desi Angriani • 01 Maret 2019 13:07
Gorontalo: Presiden Joko Widodo memuji hasil panen raya jagung yang digelar warga Gorontalo. Produksi panen yang mencapai 1,7 juta ton dapat menambah kapasitas eskpor jagung sebesar 150 ribu ton tahun ini.
 
Panen raya tersebut digelar di lahan jagung seluas 752 hektare (ha) di Desa Botuwombato, Kabupaten Gorontalo Utara dan 640 ha di Desa Motilango, Kabupaten Gorontalo.
 
Jokowi mengatakan dengan luas lahan yang mencapai 1.392 ha. Produksi jagung di kota Gorontalo terus mengalami peningkatan, yakni mencapai 1,5 juta ton pada 2018 dari sebelumnya hanya mencapai 560 ribu ton.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya bangga dengan petani jagung Gorontalo yang mampu memproduksi jagung sebelumnya 560 ribu ton menjadi 1,7 juta ton. Dan ini kita menambah jumlah ekspor kita," kata Jokowi di Desa Botuwombato, Kabupaten Gorontalo Utara, Jumat, 1 Maret 2019.
 
Baca juga:?Harga Jagung Mulai Turun
 
Menurutnya meningkatkan produktivitas jagung untuk ekspor penting demi menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Di sisi lain, produksi petani jagung nasional mampu menekan impor dari 3,2 juta ton di 2014, menjadi hanya 380 ribu ton di 2018.
 
"Sudah menjadi hukum ekonomi, jika produksi petani melimpah harga akan turun. Karena itu untuk menstabilkan harga kita dorong ekspor," ujar Jokowi.
 
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menambahkan target produksi nasional tahun ini mencapai 33 juta ton, dengan target ekspor sebesar 500 ribu ton. Target sebesar itu akan memaksimalkan lumbung jagung nasional lainnya seperti Jawa Timur, NTB, Lampung, Sumatera Selatan.
 
"Tahun ini Gorontalo juga didorong untuk ekspor sebesar 150 ribu ton," ungkap Amran.
 
Namun demikian, Mentan terus mendorong program intensifikasi lahan dengan benih unggul gratis agar produktivitas lebih baik. Termasuk ekstensifikasi lahan atau perluasan lahan, sistem tumpang sari, dan modernisasi pertanian dengan memanfaatkan alat mesin pertanian (alsintan).
 
"Kita juga dorong petani menggunakan alsintan, sehingga bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya," tambahnya.
 
Presiden Puji Panen Raya Jagung di Gorontalo Capai 1,7 Juta Ton
Salah satu ladang jagung yang tengah dipanen di Gorontalo. (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)
 
Hal senada disampaikan oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibi. Menurutnya, selama ini kekhawatiran petani jagung adalah ketersediaan benih yang sering terlambat karena proses lelang. Bahkan pernah ada masa di mana petani tidak bisa menanam jagung karena proses lelang pengadaan benih yang gagal.
 
"Petani Gorontalo bisa produksi sesuai, bahkan melebihi target Mentan karena aturan pengadaan tidak lagi lewat lelang, tapi lewat e-catalog, sehingga syarat pengadaan benih unggul bisa tepat waktu, tepat volume, dan tepat sasaran," ujar Rusli.
 
Di samping itu, kebijakan HPP yang dipatok minimal Rp3.150 per kg untuk kadar air 17 persen, juga sangat menguntungkan petani. "Sebelum Pemerintah Jokowi-JK, harga jagung tidak pasti. Jika panen, harganya hanya Rp800 per kg, paling tinggi Rp1.500 per kg. Petani jadi tidak berdaya, dan patah hati untuk menanam," ungkap Rusli.
 
Data Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan produksi jagung nasional mengalami peningkatan sejak 2015. Produksi jagung nasional semula hanya 19,61 juta ton dan meningkat menjadi 23,58 juta ton di tahun berikutnya. Lalu, naik menjadi 28,92 juta ton pada 2017, dan tembus 30 juta ton pada 2018.12:48 PM 3/1/2019.
 

(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif