Pada 1985, Erri mengambil alih usaha Bali Cepat dan mengembangkannya menjadi bisnis cargo dengan nama sama. Kemudian pada 1988, suami dari Made Suryawati Sadha ini membuat unit bisnis baru bernama Dewata Transport yang khusus melayani pariwisata.
Ide mengembangkan tourism bus muncul setelah ia melihat maraknya wisatawan asal Taiwan yang melancong ke Bali. Baru pada 1989, keluarganya mendirikan bisnis travel bernama TMS.
Erri yang diserahi tanggung jawab untuk memimpin Bali TMS Tour and Travel pada 1995 ini awalnya tak serius menggarap bisnis tersebut. Kala itu, ia hanya memandang sebelah mata bisnis travel.
Jatuh bangun dalam membesarkan bisnis pun ia alami, termasuk saat dikhianati karyawannya sendiri. Agar tak lagi ditipu, Erri banyak belajar, termasuk belajar Bahasa Mandarin.
Pasalnya, sebagian besar pasar usaha travelnya adalah wisatawan asal Tiongkok. "Biar saya tidak bisa dibohongi lagi,” tegas Erri.
Dengan menekuni bisnis travel, ayah empat orang anak ini bisa melakukan ekspansi bisnis, seperti bisnis penginapan berupa resort bintang empat, pembukaan kantor cabang tour and travel di mancanegara, dan bisnis transportasi. “Bisnis travel kalau dikelola dengan bagus, perkembangannya sangat luar biasa,” cerita Erri.
Pada 1996, TMS Tour and Travel mulai membuka kantor cabang di Taiwan atau Taipei. Menurut Erri, mayoritas masyarakat di Taipei gemar berlibur, termasuk ke Bali.
Tak berpuas diri, Erri terus melakukan ekspansi bisnis dengan membuka banyak kantor cabang di Tiongkok sebagai upaya menjemput bola, diantaranya di Shenzen dan Shanghai. Hingga saat ini, market TMS Tour and Travel di Tiongkok terus tumbuh.
Pada 2015, TMS Tour and Travel mengakuisisi biro travel di Kuala Lumpur dan Sabah guna melebarkan sayap internasionalnya. Tahun ini, TMS Tour and Travel kembali berencana mengakuisisi biro travel di Bangkok, Thailand, dan Kamboja.
Inovasi menjadi hal penting bagi Erri untuk mengembangkan bisnisnya. Akhir 2015, TMS Tour and Travel merilis aplikasi bernama PP Bus untuk wisatawan mancanegara asal Tiongkok yang melancong ke Indonesia, terutama Bali.
Dalam aplikasi PP Bus ini, wisatawan dimudahkan dengan sejumlah fasilitas, seperti jadwal shuttle bus milik TMS Tour and Travel. Sehingga, wisatawan bisa berkeliling Pulau Dewata dengan mudah.
Aplikasi PP Bus telah dipasarkan ke seluruh platform aplikasi di Tiongkok, seperti Weiboo. “Tanpa inovasi aplikasi, maka tidak akan bisa bertahan di bisnis travel. Harus berubah mengikuti perkembangan zaman. Travel industri sama seperti fashion industri, harus bisa mengikuti perkembangan. Kalau tidak, maka tidak bisa eksis. Ikuti apa yang diinginkan market,” kata Erri.
Dengan perkembangan aplikasi PP Bus, Erri berharap dapat melayani 150 ribu wisatawan mancanegara yang melancong ke Bali. Tahun lalu, TMS Tour and Travel melayani 90 ribu wisatawan mancanegara.
Inovasi lain yang dilakukannya adalah dengan terus membuat paket wisata yang menarik dan mencari destinasi baru untuk bisa ditawarkan kepada wisatawan. “Jelas kita harus membangun relasi yang besar, karena kita harus melihat potensi Tiongkok kesukaannya apa,” katanya.
Market yang disasar Erri memang Tiongkok dan Taiwan. Baginya, tidak ada kendala berarti dalam menangani dua market tersebut.
Apalagi market Tiongkok, kata Erri, semakin besar datang ke Bali. Spending money wisatawan asal Tiongkok juga cukup bagus, karena menyukai shopping dan kuliner.
Telah 20 tahun lebih menjadi nasabah PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Erri mengaku mendapat dukungan penuh dan solusi perbankan dari BCA dalam menjalankan bisnisnya, terutama dalam transaksi keuangannya. “Bagi saya, BCA ini adalah partner yang sangat hebat, karena service dan hospitality-nya sangat bagus,” katanya.
Sebagai nasabah BCA Prioritas, Erri banyak menggunakan fasilitas dan layanan dari BCA, seperti KlikBCA Bisnis, Kartu Kredit BCA dan mobile banking. “Saya juga menggunakan kredit dari BCA untuk pembiayaan kendaraan. BCA banyak membantu bisnis saya dan kebutuhan hidup saya. Layanan BCA sangat friendly," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News