Insting bisnis yang kuat, berhasil membawa generasi pertama pendiri PT Multikarya Sinardinamika (MKSD), Davidson, bertahan di industri. Ia mengarungi naik turun dinamika bisnis.
MKSD berdiri pada awal 1986, dan sudah mengalami banyak titik balik luar biasa. Perusahaan ini berdiri berkat visi pendiri perusahaan yang melihat peluang bisnis sebagai pemasok komponen untuk perusahaan otomotif berskala besar.
Visi tersebut didapat setelah sebelumnya lama bekerja untuk perusahaan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Di awal pendirian MKSD, Davidson masih bekerja di ATPM.
“Orang tua mendirikan perusahaan ini dari nol bersama dua temannya. Setelah melihat adanya peluang, akhirnya dia (ayah) tertarik menjadi pemasok. Mendirikan perusahaan ini merupakan jawaban atas keinginan dia (ayah) dalam mengikuti insting bisnis,” ujar Shelly L Koamesah, generasi kedua MKSD.
Di awal berdiri, lanjut Shelly, kantor sewa dan mengantar barang masih menggunakan bajaj karena modal belum ada. Karyawan juga jumalhanya masih 15 orang.
Seiring waktu, pendapatan pun meningkat dan perusahaan terus berkembang. “Di titik ini, ayah akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja dan fokus sepenuhnya merintis usaha sendiri,” kata wanita kelahiran 1985 itu.
Perusahaan menjadi PT pada 1990, dan pindah dari Kapuk di Jakarta ke Bekasi Barat karena butuh lahan yang lebih luas pada 1994. Produk pertama perusahaan saat itu berupa bumper mobil.
Kemudian, produk berkembang menjadi onderdil otomotif dan aksesori mobil. Perusahaan berkembang, dari yang mulanya perusahaan pemasok komponen kelompok dua menjadi kelompok satu.
Semua produk dipasarkan langsung pada ATPM besar, seperti Mitsubishi, Nissan, Toyota, dan Daihatsu. Pada 1997, krisis moneter menerjang ketika perusahaan ingin memperbesar pabrik.
Shelly ingat, ayahnya sempat berpikir untuk menutup perusahaan. Namun, niat itu urung dilakukan karena banyak karyawan yang masih ingin bertahan.
Perusahaan akhirnya menjual lahan dan menggunakan uangnya untuk modal operasional, agar bisnis tetap berjalan dan menyewa lahan yang lebih kecil. Karena bisnis otomotif masih lesu, perusahaan hanya bisa menjalankan usaha pengecatan, termasuk untuk pompa air.
Dari 100 karyawan yang ada, hanya tersisa 50 karyawan loyal yang tetap ikut MKSD. Bayaran karyawan ini tetap sama, namun beban kerja lebih besar.
“Butuh 10 tahun, hingga perusahaan bisa kembali pulih,” kata Shelly.
MKSD pun sempat berpindah lokasi beberapa kali. “Lahan itu (yang disewa di Bekasi) akhirnya kita beli dengan mencicil,” kata Shelly.
Pada 2008, perusahaan kembali diterjang cobaan. Krisis kembali melanda dan membuat pesanan produksi pabrik turun.
Berbekal pengalaman di krisis 1998, perusahaan bisa melalui cobaan dengan lebih baik. Cobaan selanjutnya terjadi pada 2015 akibat perlambatan ekonomi.
“Bisnis terkena dampaknya. Bahkan, ada perusahaan yang sampai mengurangi pesanan hingga 90 persen,” ujar Shelly.
Tahun ini, perusahaan sudah mulai membaik, meski diakui Shelly pesanan belum kembali seperti keadaan normal. Saat ini, karyawan MKSD mencapai 398 orang dan tak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) meski perusahaan sering berada dalam kondisi yang menantang.
Sebagai generasi kedua, Shelly belajar untuk tidak menggantungkan perusahaan pada satu jenis usaha saja. “Berdasarkan pengalaman, diversifikasi memang diperlukan. Pengembangan akan tetap terkait manufaktur kedepannya,” katanya.
Dalam menjalankan bisnis, Shelly mengaku punya mitra yang bisa diandalkan, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Sejak 2007-2008, MKSD mulai intens bekerjasama dengan BCA.
Perusahaan pun telah mendapatkan solusi modal investasi dan kerja dari BCA. Untuk keperluan operasional kantor, perusahaan juga memanfaatkan fasilitas KKB BCA.
Shelly punya pengalaman menarik dengan BCA ketika sedang mencari solusi untuk transfer, namun sistem sedang offline. “Karyawan BCA terus mencarikan solusi ketika bank lain hanya bisa memberi penjelasan bahwa sistem sedang offline,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News