Ilustrasi konsumsi rumah tangga. Foto: dok Kementerian Keuangan.
Ilustrasi konsumsi rumah tangga. Foto: dok Kementerian Keuangan.

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Benteng Kuat Lindungi RI dari Ancaman Resesi Global

Husen Miftahudin • 30 November 2022 16:41
Jakarta: Praktisi bisnis yang juga founder IndoSterling Group William Henley mengatakan postur perekonomian Indonesia yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga menjadi benteng kuat dalam melindungi Indonesia dari risiko ancaman resesi global.
 
"Market domestik adalah keunggulan utama Indonesia. Karena itu, daya beli harus diperkuat agar mesin konsumsi rumah tangga tetap bergerak dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu, 30 November 2022.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, dibanding kuartal II-2022, kinerja seluruh komponen pengeluaran pada kuartal III-2022 mencatat kenaikan, kecuali pada komponen konsumsi rumah tangga yang justru mengalami kontraksi atau turun 0,30 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hal ini membuat kontribusi komponen konsumsi rumah tangga yang pada kuartal II-2022 sebesar 51,47 persen, turun menjadi 50,38 persen pada kuartal III-2022," tuturnya.
 
Menurut William, penurunan konsumsi rumah tangga erat kaitannya dengan dampak kenaikan harga BBM pada awal September 2022 yang kemudian mendorong inflasi dan menggerus daya beli masyarakat.
 
Karena itu, menurut praktisi digitalisasi UMKM ini, tantangan saat ini adalah bagaimana mengendalikan inflasi bahan pangan dan menjaga daya beli masyarakat. Misalnya, melalui operasi pasar, serta peningkatan efektivitas penyaluran program bantuan sosial untuk menopang daya beli kelompok masyarakat rentan.
 
"Jadi, perlu fokus memperkuat pasar domestik. Langkah ini akan bermanfaat juga untuk membantu pelaku usaha, terutama sektor UMKM," ujar dia.
 
Baca juga: Bos BI Hakulyakin Ekonomi RI Tumbuh hingga 5,3% Tahun Depan

 
Data Bank Indonesia (BI) terkait Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan, pada September 2022 sempat turun dari 124,7 menjadi 117,2 akibat kenaikan harga BBM. Namun kembali merangkak naik menjadi 120,3 pada Oktober 2022 seiring meredanya dampak kenaikan harga BBM.
 
Meski demikian, William mengatakan, pemerintah maupun pelaku usaha harus tetap waspada terhadap potensi transmisi ancaman resesi global seperti turunnya permintaan di pasar global yang akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.
 
Apabila terjadi penurunan tajam, ada potensi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) pada perusahaan berorientasi ekspor. Misalnya di sektor garmen maupun alas kaki yang memiliki karakter padat karya.
 
"Dampaknya, bisa meningkatkan angka pengangguran dan ujungnya menggerus daya beli," terangnya.
 
Karena itu, menurut William, perlu program yang bisa meringankan dampak transmisi resesi global ke pelaku usaha. Misalnya melalui bantuan subsidi upah untuk perusahaan padat karya. Adapun untuk pelaku usaha mikro kecil, program subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang akan berakhir tahun ini sebaiknya bisa dilanjutkan tahun depan.
 
"Ini semua merupakan bagian dari upaya memperkuat pasar domestik agar roda perekonomian tahun depan terus berputar kencang," pungkasnya.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif