Presiden Joko Widodo dalan Pidato Kenegaraan. Foto: dok MI/Agus Mulyawan.
Presiden Joko Widodo dalan Pidato Kenegaraan. Foto: dok MI/Agus Mulyawan.

Jokowi Pede Bisa Tekan Angka Pengangguran Terbuka Jadi 5,3%

Husen Miftahudin • 16 Agustus 2022 16:28
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis pemerintah bisa menekan angka tingkat pengangguran terbuka tahun depan. Dalam RAPBN 2023, Jokowi menyebutkan tingkat pengangguran terbuka di 2023 ditargetkan berada dalam kisaran 5,3 persen hingga 6,0 persen.
 
"Dengan pengelolaan fiskal yang kuat, disertai dengan efektivitas dalam mendorong transformasi ekonomi dan perbaikan kesejahteraan rakyat, tingkat pengangguran terbuka tahun 2023 diharapkan dapat ditekan dalam kisaran 5,3 persen hingga 6,0 persen," ucap Jokowi dalam RAPBN Tahun Anggaran 2023 Beserta Nota Keuangan, Selasa, 16 Agustus 2022.
 
Selain itu, dalam RAPBN 2023, angka kemiskinan juga diyakini bisa turun pada kisaran 7,5 persen hingga 8,5 persen, rasio gini di kisaran 0,375 hingga 0,378, serta Indeks Pembangunan Manusia dalam rentang 73,31 hingga 73,49.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) juga ditingkatkan untuk mencapai kisaran masing-masing 105-107 dan 107-108," paparnya.
 
Terkait hal tersebut, tegas Jokowi, arsitektur APBN 2023 harus mampu meredam keraguan, membangkitkan optimisme, dan mendukung pencapaian target pembangunan, namun tetap dengan kewaspadaan yang tinggi. APBN harus terus berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan dan instrumen kontra siklus.
 
Karena itu, konsolidasi fiskal yang berkualitas terus dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk menjaga agar fiskal tetap sehat, namun juga mampu memelihara momentum pemulihan yang menguat. Konsolidasi fiskal juga merupakan refleksi kesiapsiagaan menyongsong tantangan baru yang lebih besar.
 
Baca juga: Patok Defisit Anggaran Rp598 Triliun, Jokowi: 2023 Jadi Tahun Pertama Defisit Kembali ke Level 3%

 
Kepala Negara menekankan, desain APBN 2023 harus senantiasa 'Waspada, Antisipatif, dan Responsif' terhadap berbagai kemungkinan skenario yang bergerak sangat dinamis dan berpotensi menimbulkan gejolak.
 
Desain belanja dan pendapatan serta pembiayaan harus fleksibel, menyediakan ruang fiskal yang memadai agar mempunyai daya redam yang efektif untuk mengantisipasi ketidakpastian. APBN 2023 adalah APBN yang suportif dan terukur dalam menghadapi berbagai kemungkinan
 
"Arsitektur fiskal 2023 juga dirancang untuk memperkokoh fondasi perekonomian dalam menghadapi tantangan saat ini maupun di masa yang akan datang, maka kebijakan fiskal tahun 2023 diarahkan untuk mendukung 'Peningkatan Produktivitas untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan'," jelas Jokowi.
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif