"Enak sambelnya. Ini kita ngobrol-ngobrol santai saja ya, kalau ada pertanyaan silakan," sapa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, membuka percakapan dengan para jurnalis dalam sebuah sesi konferensi pers yang lebih menyerupai obrolan hangat di meja makan.
Satu tahun menjabat sebagai bendahara negara, pria yang memegang "kunci brankas" Negara ini membagikan suka dukanya. Namun, dari semua deretan angka triliunan rupiah yang kerap ia bicarakan, ada satu angka yang paling kasat mata menceritakan betapa beratnya memikul beban ekonomi negara, yakni angka timbangan badannya.
Timbangan Badan dan Beban Negara
Ketika ditanya mengenai suka duka terdalamnya selama setahun terakhir, Menkeu Purbaya tidak menjawab dengan rentetan istilah ekonomi yang rumit. Ia justru menunjuk pada postur tubuhnya."Paling gampang kalau lihat badan saya, kan? Pas awal jadi menteri, berat saya 102 kilogram. Sempat turun drastis sampai 88 kilogram. Sekarang sudah recover ke 97 kilogram," ungkapnya di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Susutnya berat badan hingga 14 kilogram pada titik terendahnya adalah saksi bisu dari kerasnya hantaman krisis dan ekspektasi yang harus ia jinakkan. Mengelola keuangan kementerian dan negara ternyata menguras energi yang luar biasa.
Baginya, tugas paling memusingkan bukanlah meracik jurus fiskal dan moneter, karena secara teori hal tersebut mudah dihitung di atas kertas. Tantangan terbesarnya justru melawan "hantu" ekspektasi negatif dan ketakutan publik.
Di awal masa jabatannya, Indonesia baru saja keluar dari perlambatan ekonomi yang signifikan pada kuartal ketiga tahun sebelumnya. Pasar sempat goyah akibat rentetan sentimen negatif global, mulai dari MSCI, Fitch, Moody's, hingga ancaman downgrade dari Standard and Poor's Global Ratings yang membuat isu resesi berembus kencang.
Strategi 'Omong Gede'
Untuk meredam kepanikan pasar, Purbaya mengaku sempat menerapkan teori yang ia pelajari sebagai seorang ekonom, yakni Macroeconomic of self-fulfilling prophecy. Teori yang menyebabkan ia dicap sombong oleh segelintir kalangan."Pertama saya jadi menteri, kita kan menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence (kepercayaan) ke masyarakat secepat-cepatnya. Terpaksa, ya, omong gede. Yang dibilang orang saya sombong, Itu Purbaya sombong banget. Itu bukan sombong. Tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke depan ke arah yang positif," tegas Purbaya yang siang itu mengenakan kemeja panjang bergaris biru muda.
Logikanya sederhana namun krusial. Jika semua orang percaya ekonomi akan membaik, investor tidak akan takut berinvestasi, perusahaan tidak takut ekspansi, dan masyarakat tidak akan menahan belanja.
Sebaliknya, narasi ketakutan hanya akan melahirkan resesi yang sesungguhnya. Strategi ini membuahkan hasil. Lembaga pemeringkat Standard and Poor's Global Ratings akhirnya mengonfirmasi stabilitas fondasi ekonomi Indonesia.
Bahkan, penerbitan Panda Bond di Tiongkok laris manis dengan rating Triple A (Stable) di angka imbal hasil yang sangat rendah (2,19 persen dan 1,9 persen). Sebagai seorang ilmuwan yang kini duduk di kursi menteri, momen pembuktian inilah yang menjadi kebahagiaan terbesarnya.
"Untuk ekonom seperti saya, yang paling menarik adalah ketika teori bisa diuji langsung di lapangan dan hasilnya sesuai dengan kenyataan," ujar jebolan Purdue University Amerika Serikat tersebut.
Berkat manuver tersebut, pembalikan arah ekonomi pun diklaimnya mulai terlihat. Dari angka pertumbuhan di kisaran 5,0 persen, naik menjadi 5,39 persen di kuartal pertama, menyentuh 5,61 persen di kuartal kedua, dan meski sempat turun sedikit ke 5,29 persen akibat gejolak global, ia optimistis mesin pertumbuhan sedang bersiap melesat mendekati enam persen di kuartal keempat tahun ini.
"Jadi pembalikan arah ekonomi ini terjadi by design oleh kebijakan Bapak Presiden yang didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang baik. Jadi pembalikan arah ekonomi ini adalah sesuatu yang tidak mudah, ini sulit sekali," kata Purbaya.
Menjaga Dapur Negara Tetap Ngebul
Di sela-sela obrolan santai tersebut, Purbaya juga memastikan kebijakan makro ekonominya diiringi dengan efisiensi nyata di tingkat mikro dan daerah. Beberapa poin strategis yang ia pastikan berjalan dengan baik.Ia menyebut efisiensi anggaran Makan Bergizi (MBG), di mana implementasi program ini dikawal ketat oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Dari pagu awal Rp330 triliun, turun ke Rp270 triliun, lalu ditekan menjadi Rp240 triliun (sebagai batas maksimum). Purbaya bahkan memproyeksikan realisasinya bisa berada di bawah Rp200 triliun seiring efisiensi di lapangan. Lalu optimalisasi anggaran daerah juga ia soroti, adanya fenomena daerah yang mengendapkan Dana Bagi Hasil (DBH) hingga Rp100 triliun di perbankan setiap akhir tahun.
Ke depan, jika daerah butuh membangun infrastruktur darurat, pemerintah pusat mengarahkan mereka untuk meminjam melalui PT SMI dengan jaminan pemotongan DBH, agar wujud fisiknya benar-benar terbangun.
Kemudian Purbaya menyebut bansos langsung tepat sasaran. Bekerja sama dengan Dukcapil dan Bank Indonesia, ke depannya setiap warga negara berusia di atas 18 tahun direncanakan akan dibuatkan rekening otomatis saat mengurus KTP.
Hal ini disebutnya demi mempercepat distribusi bansos dan memastikan subsidi pemerintah lebih presisi.
Soal restrukturisasi utang, infrastruktur BUMN karya yang sempat membuat ngeri publik, Menkeu meyakinkan bahwa utang tersebut telah direstrukturisasi dan ditarik melalui PT SMI dengan tenor cicilan panjang hingga 80 tahun, sehingga tidak membebani ruang fiskal saat ini.
Menutup perbincangan siang itu, Menkeu memberikan jaminan bahwa ketersediaan uang di sistem perekonomian akan terus dijaga. Ia telah memindahkan uang dari bank sentral ke perbankan, sebuah langkah ahead of the curve yang kini perlahan juga mulai ditiru oleh Amerika Serikat.
"Anda lihat tuh sekarang Amerika, akan melakukan hal yang sama. Bunga naik dia mencoba turunkan. Itu pun sebenarnya tujuannya sama menekan harga uang di perekonomian. Saya sudah lakukan duluan sebelum pemerintah Amerika melakukan itu. Jadi kita pinteran sedikit lah," seloroh Purbaya.
Meski harus mengorbankan belasan kilogram berat badannya di awal masa jabatan, Purbaya kini tampak lebih rileks, persis seperti berat badannya yang mulai stabil. Ia membuktikan, di balik kerumitan angka dan data, dibutuhkan nyali, ketenangan, dan sedikit manuver "sombong" untuk memastikan kapal besar bernama Indonesia tidak oleng dihantam badai.