Chief Economist dan Kepala Riset Mirae Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mengubah secara signifikan prospek ekonomi global.
Risiko krisis energi kembali mencuat dan berpotensi menekan pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.
“Situasi ini meningkatkan probabilitas terjadinya stagflasi di sejumlah ekonomi utama,” ujar Rully dalam risetnya.
Menurut dia, kondisi tersebut turut berdampak pada Indonesia, mengingat negara tujuan ekspor utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Jepang juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi dan kebijakan penghematan di dalam negeri.
Gangguan di Selat Hormuz turut memperburuk situasi. Penutupan sebagian jalur tersebut disebut sebagai salah satu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, yang secara tajam mengurangi aliran energi global.
Dalam kondisi ini, bank sentral global cenderung lebih fokus pada pengendalian inflasi dibandingkan mendorong pertumbuhan. Akibatnya, suku bunga diperkirakan akan bertahan tinggi lebih lama, memperketat likuiditas global dan meningkatkan volatilitas arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Mirae memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada periode 2026–2027. Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi Indonesia, baik dari sisi perdagangan maupun pasar keuangan.
Dari dalam negeri, ketidakpastian juga dinilai masih tinggi. Koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal dan moneter belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar, sehingga membuat sentimen investor lebih sensitif terhadap risiko.
Selain itu, lembaga pemeringkat disebut terus mencermati risiko fiskal Indonesia, termasuk potensi kewajiban kontinjensi dari Danantara jika perannya bergeser ke arah quasi-fiskal.
Inflasi naik dan rupiah melemah
Sejalan dengan itu, Mirae mengadopsi sikap lebih defensif dalam proyeksinya. Selain memangkas pertumbuhan ekonomi menjadi 5% pada 2026 dan 5,1% pada 2027, inflasi diperkirakan sedikit meningkat, sementara nilai tukar rupiah diasumsikan melemah ke kisaran Rp16.600–Rp16.800 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) juga diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya hingga 2026, seiring meningkatnya tekanan eksternal dan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar.
Di sisi pasar keuangan, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan naik menjadi 6,70% pada 2026 dan 6,50% pada 2027, mencerminkan premi risiko yang lebih tinggi di tengah kondisi global yang ketat.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia menghadapi dampak langsung dari kenaikan harga energi. Tekanan terhadap inflasi domestik akan sangat bergantung pada kebijakan subsidi energi pemerintah.
Di sisi lain, depresiasi rupiah yang kini berada di kisaran Rp16.800–Rp17.000 per dolar AS turut memperbesar risiko inflasi impor. Dari sisi fiskal, ruang kebijakan dinilai semakin menyempit. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga harga energi tetap rendah melalui subsidi atau mempertahankan kredibilitas fiskal.
Program besar seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran sekitar Rp335 triliun juga menjadi sorotan, di tengah target defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB. Kekhawatiran tersebut tercermin dari revisi outlook oleh lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody’s, serta meningkatnya tekanan di pasar obligasi dan nilai tukar.
Meski strategi front-loading belanja pemerintah dinilai mampu mendukung pertumbuhan jangka pendek, langkah ini juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal, terutama di tengah potensi lonjakan subsidi energi. Dalam jangka menengah, Danantara juga menjadi perhatian sebagai potensi sumber risiko fiskal tambahan jika tidak dikelola secara hati-hati.
Dengan berbagai tekanan tersebut, Mirae menilai ruang kebijakan Indonesia semakin terbatas. Oleh karena itu, menjaga belanja yang berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga seperti belanja pegawai dan transfer ke daerah menjadi kunci untuk menopang pertumbuhan.
Secara keseluruhan, Mirae memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bertahan di kisaran 5% pada 2026 di tengah tekanan global dan domestik yang meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News